Laman

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 November 2014

Motor 90an kontra 2010an

Kali ni saya mau ngomong soal otomotif, meski begrond saya bukan orang otomotif. tapi kalo soal mesin ngerto dikit-dikit lah. Kali ni mau bahas soal bandingan performa motor jaman taun 90 an kontra jaman 2010 an ke atas.. hehe udah tiga kali sensus penduduk ye..

Sedikit awalan kalo jaman 90 an mesin 2 tak masih pada digandrungi, semenjak ada isu global warming mulai beralih ke 4 tak. maklum mesin 2 tak atau 2 langkah ga ramah lingkungan, asapnya banyak. Disini cuma mau bandingin performa doank terutama tenaga yang dihasilkan mesin plus sekencang apa mampu berlari. Merek motor diabaikan, plus kapasitas mesin rada-rada beda dikit diabaikan juga.

Saya ambil sampel motor keluaran tahun 1990, weh.. belum genap umur saya setaon waktu itu. Motor keluaran pabrikan Suzuki bermesin 2 langkah dengan nama Suzuki Crystal! kapasitas mesinnya 110 cc. Untuk generasi di atas 2010 saya ambil Honda Supra X FI keluaran 2014, kubrikasi mesinnya 125 cc. Tampangnya sila cek piktur di bawah..
Honda Supra X 125 FI bermesin 4 tak keluaran 2014

Suzuki Crystal 110 cc bermesin 2 tak keluaran 1990

































Oke deh langsung aja kita bandingin powernya Suzi Crystal 110 cc 2 tak mampu memuntahkan power 12 PS alias 12 Tenaga kuda atau Horse Power. larinya nyampe 120 km/h. ini versi standarnya lho..referensinya dari blog tetangga sebelah.
Trus tengok situs resmi pabrikan Honda, terlihat Supra X 125 FI mengeluarkan daya maksimumnya sebesar 10.1 HP. Masih kalah ama motor jadul keluaran taon 90 an yang biasa dihina dengan sebutan jetkolet, ditempat saya orang nyebutnya gitu lo. untuk urusan top speed 113 km/h.

Tapi masing2 tentu punya kekurangan dan kelebihan. Mesin 2 tak emang terkenal sangar, responsif dan kuencengg. Tau mungkin Yamaha RX-King, Suzi Satria 120 lawas bermesin 2 tak yang sekarang digantiin generasi Suzi Satria FU 150 4 tak. Trus ada yamaha F1ZR 110 atau dikenal poswan..hehe..padahal yang bener tu Force One. Motor-motor ini memang dikenal sebagai motor yang jambakannya sangar plus kenceng. Ada satu lagi Ninja 2 tak 150 cc. Ciri khas mesin 2 tak lainnya ialah bersuara nyaring bernada tinggi. kalo 4 tak suaranya ngeBass..

Tapi dibalik itu mesin 2 tak punya kekurangan dibanding mesin 4 tak. Dari segi ramah lingkungannya. 4 tak tentu lebih ramah lingkungan dibanding 2 tak yang polusi asapnya lebih banyak. Semenjak ada isu global warming, mulailah toleransi buat mesin 2 tak dicabut perlahan-lahan. Selain itu mesin 2 tak juga boros BBM dibanding 4 tak. Belum lagi 2 tak juga ada oli sampingnya. Hingga saat ini di indonesia bahkan di dunia pabrikan rame rame setop produksi mesin 2 tak kecuali buat keperluan khusus. Di indonesia sendiri motor 2 tak terakhir yang diproduksi adalah Ninja 150 dari pabrikan Kawasaki dan produksinya udah disetop 2014 ini. Bahkan ajang balap motogp udah pake mesin 4 tak sejak beberapa tahun lalu.

So, intinya karena perubahan jaman motor 2 tak tergusur dari tahtanya. Disertai dengan kesadaran akan ramah lingkungan yang meningkat dalam masyarakat permotoran. Gitulah ceritanya, sekarang jalanan lebih banyak motor bersuara ngeBass daripada yang bernada tinggi.

Referensi:
http://www.astra-honda.com/produk/kendaraan/new-supra-x-125-fi/
http://dwinugros.wordpress.com/2010/11/15/suzuki-crystal-110-riwayatmu-kini/
http://news.motorplus-online.com/read/1iwpIbKDjsTaUoLKd4q9lBavmach4SLuTyYchsnmsHI/4/0/Tes-Akselerasi-Honda-Supra-X125-Helm-in-dan-New-Supra-X125-FI-Hasilnya-Beda-Atas-Bawah

Senin, 21 November 2011

Kultwit Asmanadia Tentang Bagaimana Menulis Cerita

KoPas >> http://forumlingkarpena.net
  1. Cari cara untuk selalu mencatat setiap ide menarik
  2. Temukan bentuk tulisan. Apakah akan dibuat dari A-Z alurnya linear biasa. Atau dimulai dari klimaks, bahkan akhir cerita
  3. Buat outline sederhana bagaimana tulisan akan bergerak. Bukan keharusan tapi akan sangat membantu bagi pemula
  4. Buat opening yang memikat. Hindari lead cerita yang biasa-biasa aja. Be creative!
  5. Beri nyawa pada tokoh-tokohmu.
  6. Garap setting (waktu/tempat) untuk memperkuat cerita. Beri warna lokal sesuai kebutuhan
  7. Kenapa sebuah cerita hambar atau terasa monoton, karena tidak ada konflik/konflik tidak tergarap! Perhatikan konflikmu
  8. Olah setiap unsur cerita dengan sabar. Beri perhatian pada detail yang harus dimunculkan agar logika cerita mantap
  9. Hindari kebetulan dalam cerita, kecuali bisa dipertanggungjawabkan. Khususnya untuk penyelesaian cerita.
  10. Saring dialog, buang yang tidak berfungsi.
  11. Temukan formula ending yang pas, tanpa harus berpanjang-panjang kalimat.
  12. Tentang ending lagi, akhir cerita yang baik meninggalkan gema lebih lama di hati pembaca. Jangan sia-siakan ending
  13. Batasi ego-mu sebagai penulis. Tokoh-tokoh muncul sesuai karakter dalam ceritamu, tokoh-tokoh itu bukan dirimu.
  14. Mematikan tokoh untuk memberi kejutan dalam cerita... cari cara lain yang tidak klise:
  15. Biasakan memulai dengan basmalah sebelum menulis, lalu mulailah menulis dengan hatimu
  16. Belajar setia & bertanggung jawab bukan hny dlm upaya sakinah bersamamu /berkeluarga, jg dlm menyelesaikan ceritamu
  17. Menulis untuk diselesaikan. Never ever give up on your stories. Give them chance!
  18. Kegigihanmu dlm menyelesaikan cerita yg sudah kamu mulai mencerminkan kegigihanmu dlm menghadapi persoalan kehidupan
  19. Beri judul yang menarik untuk ceritamu
  20. Menulis itu cara lain berbagi. Hilangkan ketakutan/tidak pede dan excuse lain dalam mengirim cerita ke media

Sabtu, 01 Oktober 2011


Apa sih yang didapat dari menulis? Honor? Ketenaran? Penyaluran hobi?

Dalam wawancaranya dengan sebuah harian nasional, Clara Ng – seorang penulis yang telah menghasilkan puluhan buku cerita anak dan novel – mengatakan bahwa menulis adalah satu-satunya cara agar tetap ‘waras’. Melalui tulisannya, Clara menyalurkan ide-idenya, kegelisahannya dan pemikirannya. Bagi Bang Jonru, founder Writers Academy, menulis adalah part of his life. Bagi saya – yang ingin tulisan saya ‘beredar’ di media cetak – menulis sama dengan konsisten dan disiplin.

Ketika pertama kali tulisan saya muncul di sebuah majalah anak-anak, wahh.. senangnya luar biasa. Padahal honornya tidak luar biasa, hehehe…. Setelah yang pertama itu, saya ingin tulisan saya lainnya bisa dimuat. Bukan cuma di satu media cetak, tetapi di banyak media cetak yang berbeda. Kalau bisa sih menjadi penulis tetap. Berhubung sampai sekarang belum ada yang menawari, saya sendiri yang membuat jadwal kapan harus mengirim tulisan ke media A, kapan waktunya menulis untuk media B, dan seterusnya.

Kelihatannya mudah, tetapi prakteknya sama sekali tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namanya juga manusia, inginnya sih hari ini mengirim tulisan ke media, minggu depan dimuat, bulan depan ditawari jadi kontributor tetap, tiga bulan kemudian menerbitkan buku dan langsung best seller, hehehe….

Padahal kenyataannya tidak bisa seperti itu. Setiap sesuatu itu perlu proses dan perlu waktu. Kuncinya adalah konsisten dan disiplin. Karena saya ingin ingin tulisan saya dimuat di media cetak, ya saya harus rajin mengirim tulisan.

Long journey begins with one small step

Berapapun jauhnya jarak yang harus ditempuh, kalau kita mulai menapakinya walaupun dengan langkah kecil sekalipun, pada akhirnya kita akan sampai di garis finish. Namun bila kita tidak mulai melangkah, kita tidak akan pernah tiba di garis finish, walaupun jarak yang harus ditempuh amatlah dekat.

Jadi, mulailah konsisten dan disiplin dengan apapun yang ingin Anda wujudkan, apapun itu. Ngomong-ngomong soal konsisten dan disiplin, tulisan ini adalah salah satu wujud konsistensi dan disiplin saya sebagai kontributor tetap PenulisLepas.com. Konsisten untuk terus menulis di PenulisLepas.com. Disiplin dengan jadwal mengirim tulisan yang sudah saya buat. Mudah-mudahan untuk selanjutnya saya bisa lebih sering sharing banyak hal melalui tulisan-tulisan saya. Semoga!

copas dari: http://www.penulislepas.com/menulis-konsisten-disiplin

Jumat, 01 Juli 2011

Waktu


Oleh Yongki Sukma

Waktu setajam pedang, pedang tajam bermata dua. Harus pandai menggunakan dan memanfaatkannya. Orang sering berkata seperti itu. Tapi sungguh waktu lebih tajam dari pada pedang yang bermata dua. Waktulah yang memisahkan seseorang dengan dunia, waktulah yang mengantarkannya pada kematian.

Waktu adalah uang, waktu adalah emas. Peribahasa itu juga sering terdengar. Tapi sungguh waktu lebih berharga dari pada uang maupun emas. Jikalau tak pandai memanfaatkannya. Menghabiskannya untuk berfoya-foya yang tiada berguna sungguh kemalangan besar yang akan menimpa.

Waktu didunia ini hanya ada tiga, kemarin, sekarang dan besok. Kemarin adalah hal yang telah berlalu. Dia takkan pernah lagi hadir menjumpai. Beruntunglah bagi yang mampu memanfaatkan hari kemarinnya dengan sebaik-baiknya. Digunakan untuk kebaikan, tak tercela karena dihinggapi keburukan. Esok adalah hal yang tersembunyi, belum tentu akan datang menghampiri, siapa tahu diujung hari mati telah menanti. Tapi hari ini, saat ini adalah sekarang. Dia berada dalam genggaman, kekuasaan penuh ada pada yang menggemgam untuk diapakan. Tapi apakah Dia yang telah mengkaruniakan waktu, haknya dapat dengan mudah diabaikan?

Manusia bukan tercipta, tapi diciptakan. Diciptakan karena ada tujuan. Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. Ibadah tidaklah sempit, disamping yang telah dia wajibkan, ibadah terbentang sepanjang kemampuan. Kegiatan atau pekerjaan apapun itu, asal yang baik dan bermanfaat dan diniatkan hanya untuk mendapatkan ridha dan pahala dari Allah. Dialah ibadah.

Setiap detik yang berlalu, setiap hari yang berganti malam tak akan mampu untuk dikembalikan. Setetes peluh yang jatuh tatkala membuang duri dijalan jauh lebih berharga ketimbang duduk lama bersenda gurau tak karuan. Ketika begitu banyak waktu yang terbuang percuma, sebegitulah kerugian yang akan menghampiri. Mungkin akan ada tangis sesal diakhir nanti atau peribahasa ‘Nasi telah menjadi bubur’ dibuang jauh-jauh pergi

Nafas kita terus berjalan

Setia menuntun ke pintu kematian

Hari demi hari digulung tanpa henti

Padahal itulah tahap yang kita miliki

Tidak ada yang lebih meyakinkan

Selain datangnya kematian

Maka jika keburukan yang menguasai,

Dan dibiarkan merasuk dalam diri

Alangkah buruk tenggelam dalam kelenaan

Di usia sebelum tumbuh uban

Bagaimana dengan si tua yang lupa diri?

Padahal liang lahat telah lama menanti

(Abdul Malik Al Qasim : 57, 1995)