Laman

Jumat, 20 September 2013

MENGHITUNG JUMLAH KEPALA

‘Demokrasi itu menghitung berapa jumlah kepala, bukan isi kepala’, demikian sepenggal kalimat yang sempat diucapkan oleh katib siang ini ketika saya shalat jumat di salah satu mesjid di kota Padang ini. Apa yang disampaikan katib ini menarik menurut saya berhubung saat ini di kota padang  akan segera berlangsung pesta demokrasi untuk menentukan walikota padang lima tahun mendatang.

Isi kotbah katib jumat tersebut bukanlah mengenai demokrasi namun dia sempat membahas sedikit mengenai perbedaan antara asas musyawarah dan demokrasi. Asas musyawarah di minangkabau sudah sejak dulu dijadikan sebagai cara untuk mendapatkan keputusan yang menyangkut kemaslahatan bersama dan di indonesia pun dikenal demikian. Kemudian demokrasi mulai diadopsi sampai sekarang, yang paling jelas adalah saat pemilihan sorang pemimpin mulai dari presiden, gubernur dan lainnya.

Perbedaaan antara musyawarah dan demokrasi jelas sekali, musyawarah sebuah keputusan ditentukan atas kesepakatan bersama. Memang untuk mencapai kesepakatan bersama ini kadang membutuhkan proses yang rumit dan lama. Setiap sisi dari hal yang dimusyawarahkan di pertimbangkan dan dibahas baik buruk, untung rugi dan segala tetek bengeknya. Beda halnya dengan demokrasi, cukup sediakan beberapa opsi atau pilihan mengenai suatu masalah yang akan diputuskan, selanjutnya tinggal para peserta untuk memilih mana yang mereka pilih, opsi dengan pemilih terbanyak itulah keputusannya.

Keputusannya pun akan berbeda, pada musyawarah tentunya tidaklah semua elemen dilibatkan, hanya sebagian yang dinilai berkompoten utuk membahas masalah itu saja yang dilibatkan. Jika dicontohkan pada pemilihan presiden tentu tidaklah mungkin semua rakyat ikut bermusyawarah untuk menentukan pemimpinnya, namun demokrasi mengakomodasi hal ini. Dalam demokrasi rakyat dapat berpartisipasi langsung untuk menentukan siapa yang mereka mau menjadi pimpinan mereka. Sayangnya pilihan ini kebanyakan tidak berdasar pada pilihan yang telah dipikirkan masak-masak dan pertimbangan di sana sini, pilihan dijatuhakan lebih pada suatu yang membuat mereka tertarik, dan parahnya jika tertarik dikarenakan sejumlah uang.


Sekarang demokrasi telah menjadi alat untuk membuat suatu keputusan di negeri kita, terutama dalam menentukan seorang pemimpin. Dan jangan pula asas musyawarah dilupakan, paling tidak untuk menjatuhkan pilihan. Benar-benar dikaji dari segala sisi, mana yang lebih baik, mana yang lebih sedikit ruginya pilihan pilihan yang telah ada tersebut, sehingga diperoleh pilihan terbaik untuk bersama untuk dipilih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar