Laman

Rabu, 13 Juli 2011

Huo hua de li liang


Huo hua de li liang, judul cerita pertama dalam buku cerita motivasi Andri Wongso IV. Dikisahkan ada seorang pemuda yang tengah dalam perjalanan mengendarai mobilnya ke suatu tujuan. Ketika itu hujan lebat sekali, sagat lebat. Sabetan kilat tiada henti menerangi angkasa malam. Guntur menggelegar membuat bulu roma berdiri.

Malang bagi si pemuda, ditengah suasana seperti itu mobilnya mogok, tak mau berjalan. Dengan berat hati keluarlah sang pemuda dari mobilnya. Membuka kap mesin dan mulai meneliti penyebab ketidak beresan ini. namun keadaan cuaca yang buruk mengalahkannya. Akhirnya dengan pasrah dia kembali ke dalam mobilnya, duduk temenung sambil menatap hujan yang semakin deras mengguyur bumi.

Ditengah keputusasaannya, terkilat di kaca spionnya secercah cahaya, semakin lama semakin terang diikuti deru mesin mobil. Mendadak mobil itu berhenti tepat di belakang mobilnya. Sang pemuda terkejut bercampur takut. Dia terus memperhatikan mobil di belakangnya. Tak lama pintu mobil itu terbuka perlahan, siluet kaki kemudian diikuti anggota tubuh lainnya keluar dari mobil itu. Dia berdiri di tengah hujan lebat itu, tak lama kemudian ‘plak’ payung mengembang. Sang pemuda semakin ketakutan.

‘Tok-tok-tok’, kaca jendela mobil pemuda itu diketuk, tapi dia enggan menoleh apalagi membukakannya. Ketukan terus terdengar, makin lama makin keras. ‘Buka pintunya, jangan takut’. Pria itu berjalan ke depan mobil si pemuda, lalu tiba-tiba mmbuka kap mobil, si pemuda semakin tidak mengerti.

‘Sekarang, coba putar starternya’, ragu-ragu diikutinya perintah laki-laki itu. Tak lama kemudian ‘brum-brum-brumm’. Aneh mobilnya hidup kembali, rasa takutnya sedikit demi sedikit menghilang. Dia mulai berani menatap pria yang ada di luar. Kemudian dibukanya sedikit kaca jendela ‘terima kasih’ ucapnya.

‘Tidak usah, hanya perlu sedikit api dari aki untuk kembali menghidupkan mobilmu ini. Kau terlalu cepat putus asa atau mungkin kau tak mengerti mesin?’

‘saya paham dengan mesin mobil. Tapi hujan terlalu deras, jadi merusak konsentrasi saya’

‘hmmm..kau hanya butuh sedikit usaha dan ketenangan, mobilmu saja hanya butuh sedikit api. Jangan mudah putus asa, kau masih muda’

Sang pria itu kembali ke mobilnya, mulai bergerak dan menyusuri jalan menerobos lebatnya hujan meninggalkan sang pemuda yang kebingungan. Tapi mudah-mudahan kamu yang lagi baca ga ikut kebingungan, ok. (13 Juli 2011)

Jumat, 01 Juli 2011

Waktu


Oleh Yongki Sukma

Waktu setajam pedang, pedang tajam bermata dua. Harus pandai menggunakan dan memanfaatkannya. Orang sering berkata seperti itu. Tapi sungguh waktu lebih tajam dari pada pedang yang bermata dua. Waktulah yang memisahkan seseorang dengan dunia, waktulah yang mengantarkannya pada kematian.

Waktu adalah uang, waktu adalah emas. Peribahasa itu juga sering terdengar. Tapi sungguh waktu lebih berharga dari pada uang maupun emas. Jikalau tak pandai memanfaatkannya. Menghabiskannya untuk berfoya-foya yang tiada berguna sungguh kemalangan besar yang akan menimpa.

Waktu didunia ini hanya ada tiga, kemarin, sekarang dan besok. Kemarin adalah hal yang telah berlalu. Dia takkan pernah lagi hadir menjumpai. Beruntunglah bagi yang mampu memanfaatkan hari kemarinnya dengan sebaik-baiknya. Digunakan untuk kebaikan, tak tercela karena dihinggapi keburukan. Esok adalah hal yang tersembunyi, belum tentu akan datang menghampiri, siapa tahu diujung hari mati telah menanti. Tapi hari ini, saat ini adalah sekarang. Dia berada dalam genggaman, kekuasaan penuh ada pada yang menggemgam untuk diapakan. Tapi apakah Dia yang telah mengkaruniakan waktu, haknya dapat dengan mudah diabaikan?

Manusia bukan tercipta, tapi diciptakan. Diciptakan karena ada tujuan. Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. Ibadah tidaklah sempit, disamping yang telah dia wajibkan, ibadah terbentang sepanjang kemampuan. Kegiatan atau pekerjaan apapun itu, asal yang baik dan bermanfaat dan diniatkan hanya untuk mendapatkan ridha dan pahala dari Allah. Dialah ibadah.

Setiap detik yang berlalu, setiap hari yang berganti malam tak akan mampu untuk dikembalikan. Setetes peluh yang jatuh tatkala membuang duri dijalan jauh lebih berharga ketimbang duduk lama bersenda gurau tak karuan. Ketika begitu banyak waktu yang terbuang percuma, sebegitulah kerugian yang akan menghampiri. Mungkin akan ada tangis sesal diakhir nanti atau peribahasa ‘Nasi telah menjadi bubur’ dibuang jauh-jauh pergi

Nafas kita terus berjalan

Setia menuntun ke pintu kematian

Hari demi hari digulung tanpa henti

Padahal itulah tahap yang kita miliki

Tidak ada yang lebih meyakinkan

Selain datangnya kematian

Maka jika keburukan yang menguasai,

Dan dibiarkan merasuk dalam diri

Alangkah buruk tenggelam dalam kelenaan

Di usia sebelum tumbuh uban

Bagaimana dengan si tua yang lupa diri?

Padahal liang lahat telah lama menanti

(Abdul Malik Al Qasim : 57, 1995)

Rabu, 29 Juni 2011

Lukisan Kamal, Cermin Kegelisahan Minangkabau


JAKARTA - Pelukis Kamal Guci terbilang satu-satunya seniman Indonesia asal Sumatera Barat yang punya kegelisahan batin sama dengan perantau Minang dalam menyikapi kekalahan telak budaya Minang yang disosoh oleh budaya asing. Lewat karyanya, Kamal Guci mencoba melawan gerak globalisasi yang berprinsip hanya yang kuat yang berhak hidup sementara yang kalah harus menjalani kemusnahan dengan sendirinya.

"Kegelisahan Kamal Guci yang memilih hidup di Minangkabau juga kegelisahan masyarakat Minang di perantauan dalam menyikapi budayanya yang kian tergusur oleh "peradaban baru" yang dikemas dalam hot issu globalisasi," kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof Fasli Jalal, saat membuka pameran tunggal pelukis Kamal Guci, bertema "Menjelajah Ranah Menembus Rantau", di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (28/6) malam.

Ungkapan kegelisahan Kamal Guci terhadap Budaya Minang yang dikomunikasikannya melalui semua lukisan Rumah Gadang yang terkesan kokoh tapi di setiap bangunannya ada saja yang rusak bahkan miring, menambah kegelisahan perantau bahwa sesaat lagi Minangkabau itu akan "rata" dengan tanah. Kamal Guci secara cerdas menggambarkan kondisi ini melalui penampakan simbol globalisasi yakni antene parabola yang menyajikan informasi global tapi tidak memberi tempat bagi kearifan lokal.

"Interaksi Kamal Guci selama menjelajah ranah sepertinya belum menemukan sikap optimis terhadap budaya Minang yang diyakini oleh komunitasnya masih sanggup mengimbangi paket globalisasi tanpa sedikitpun memperlihatkan kegelisahan sebagaimana yang diperlihatkan oleh Kamal Guci dalam setiap lukisannya," ujar Fasli Jalal.

Sementara itu, kegelisahan yang terus-menerus dialami oleh Kamal Guci secara riil tidak terlihat dalam kehidupan masyarakat Minang di Ranah Minang. "Kita dengan sangat mudah bisa menyimpulkan bahwa masyarakat Minang di kampung menganggap biasa saja Rumah Gadang itu terancam roboh, sementara Rumah Gadang adalah simbol dari eksistensi masing-masing kaum," kata Fasli.

Lebih jauh, mantan Ketua Umum Gebu Minang itu mempertanyakan apakah interaksi antara rantau dan kampung masih berjalan sebagaimana halnya era tahun 80-an? "Pada era tahun 80-an dan sebelumnya terlihat interaksi rantau dengan kampung sangat mewarnai perjalanan Minangkabau. Malam ini kita hanya merasakan kegelisahan seorang Kamal Guci dengan perantau Minang," ungkap Fasli.

Pada kesempatan yang sama, budayawan yang juga politisi nasional Fadli Zon menyampaikan apresiasi yang sangat luar biasa kepada Kamal Guci yang telah menyampaikan kritikan terhadap kita semua melalui lukisan.

"Sebagai pelukis, Kamal tidak tergoda untuk memindahkan keindahan dan keelokan Minangkabau ke kanvas. Dia dengan caranya sendiri justru menyampaikan nuansa suram Minangkabau yang disimbulkan melalui cacat yang dimiliki oleh setiap lukisan Rumah Gadang. Ini sebuah kritikan dan peringatan untuk kita semua bahwa dibalik keindahan alam Minang tersimpan ancaman (globalisasi) luar biasa," jelas Fadli.

Lebih lanjut, Fadli Zon yang mengoleksi dua lukisan Kamal Guci melihat pelukis kelahiran Nagari Pakandangan 13 Oktober 1960 ini telah menemukan koordinatnya dalam perkembangan seni rupa di Sumbar dan Indonesia.

"Setelah lama ditinggal oleh Wakidi dan para pelukis "Mooi Indie", Kamal Guci boleh dibilang pelukis "Mooi Minang" di baris depan dewasa ini. Bedanya, Kamal tidak hanya melukis soal keindahan tapi juga kehancuran tradisi dan budaya akibat ulah manusianya," tegas Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu.

Kritik dan kepedulian Kamal ini, lanjutnya, patut dihargai sebagai ekspresi emosinya atas perjalanan sejarah Minang. "Ia melukis dengan hati, tanpa basa-basi serta menyetubuhi setiap ruang dan bidang di kanvasnya menjadi irama," tukas Fadli Zon.

Selain Wakil Mendiknas Fasli Jalal dan Budayawan Fadli Zon ratusan seniman, pembukaan pameran tunggal yang akan berlangsung hingga 7 Juli mendatang juga dihadiri antara lain oleh anggota Senator AM Fatwa, budayawan Leon Agusta, Ida Hasyim Ning dan Kivlan Zein. (fas/jpnn)/www.padang-today.com

Indonesia Terus Perjuangkan Kemerdekaan Palestina


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia mendukung penuh perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina. Demikian dikatakan Ketua MPR Taufik Kiemas, saat membuka acara Asia Pacific Community Conference for Palestina di Jakarta Convention Center, Rabu (29/6). Menurut Taufik, Palestina adalah satu-satunya negara di era modern yang tanahnya dirampas Zionis Israel. Dan tindakan blokade sandang, pangan, dan papan oleh Israel telah mengakibatkan kehancuran infrastruktur dan sistem kehidupan masyarakat Palestina. "Dampak pendudukan Israel sangat dahsyat, sebab menyebabkan puluhan ribu warga tewas dan terusir dari rumahnya," ujarnya. Bahkan, lanjut Taufik, sebagian besar korban itu adalah wanita dan anak-anak yang harus mengalami nasib tragis. “Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina dan menuntut berakhirnya penjajahan Israel," tegasnya. Politisi senior PDIP ini menegaskan, Indonesia sangat menentang segala bentuk penjajahan di atas dunia, seraya merujuk Pembukaan UUD 1945. Karena setiap negara punya hak untuk merdeka dan penjajahan harus dihapuskan. Dan bangsa Indonesia ikut serta mendukung kemerdekaan Palestina di berbagai pertemuan internasional. Salah satunya, pada Sidang Umum PBB September 2011 mendatang. Dukungan Indonesia, kata suami mantan Presiden Megawati ini, bukan semata-mata karena kesamaan agama. Melainkan lebih pada semangat perjuangan pembebasan penjajahan dunia. "Indonesia selalu memperjuangkan hak dasar dan berdirinya negara Palestina. Dan Indonesia mengutuk keras segala bentuk pembantaian yang dilakukan militer Israel di tanah suci Palestina!" Walau demikian, kemerdekaan Palestina dapat terwujud jika pengakuan secara de jure datang dari Dewan Keamanan PBB. Saat ini ada 104 negara yang telah mengakui kemerdekaan Palestina, dan 150 negara memiliki hubungan diplomatik. Indonesia menginginkan semua anggota PBB mendukung Palestina jadi anggota penuh PBB, serta mendesak Israel mengakui pembentukan negara Palestina sesuai dengan perjanjian perbatasan pada 1967.

Minggu, 26 Juni 2011

Puisi-puisi Susan Gui

#Cerita kata-kata

Kata oh kata berlarian seperti kuda binal. Menerjang malam, menembus pekat Kini sendiri kau tinggal aku dalam geliat rindu bertalu.

Keterasingan mengikis rusuk-rusuk, tergeletak telanjang tanpa daya. Rangkaian cerita menjadi liar ingin melaju pada untaian kata yang semakin lara.

Demi kata yang jadi banal,


#Rindu yang tak merayu

Sendu semilir angin menerjang sendi Pada keteduhan malam yang maha sunyi

Angin diam mengikat rasa, pada sepasang bola mata syahdu cinta melanda Padamu hanya padamu Hati lirih bergumam pasrah Rindu senyap gundah melanda, bergerilya lirih terasa

Aduh Gusti, Bukankah sudah kukatakan lewat angin yang menari liar Cintaku ini bentukan rangka-rangka rindu

Pada malam yang sendu hati tersedu Gesau angin menimbun kalbu yang sedang rindu


#Di hadapan pediangan,

Selembar belacu mengering usang, sudah ditunaikan tugasnya menghapus air mata, Digenapi sudah tugasnya menyapu tangisan yang menitik

Dihadapan pediangan, Ringkih tubuh ini, digerogoti masa yang tidak lagi belia. Inilah waktu, apa padamu semua sudah bergulir meninggalkan hilir-hilir hidup. Segala sesuatu bergerak, segala sesuatu berubah demi manfaatnya masing-masing, semua berjalan menemui nasibnya

Dihadapan pediangan, Puntung rokok dilebur jadi abu, biarlah. Suatu masa aku pun begitu, melebur menjadi abu. Mati dikuliti waktu; sendiri.


#Tulislah,

Tulislah sesuatu ditanganku, apa saja itu, Tulislah sesuatu, Isyaratkan segala rasa dalam untaian keindahan yang mempesona Gambarkan apapun yang kau rasa ketika aku jadi telanjang dan rebah diatas keindahan rasa Kegalauan ini ingin dilukis nyata, padamu, apapun ini rasanya; tulislah sesuatu ditanganku.

#Untuk Anakku, “Nak, ingat kah kau ketika harus hidup dalam air ketuban dan tali pusar menjadi penghubung antara kita? Bukankah waktu itu adalah waktu yang sangat dalam untuk dibahasakan menjadi sebuah kalimat yang lebih nyata. Melebur menjadi satu dan menjadi kesatuan. Waktu itu kidung-kidung cinta mengalir, bersinergi antara ruang-ruang hampa yang kita rasa, tapi kita tidak menangis bukan ? sesunguhnya kita saling menggenapi, tanpa kita sadari “


#Kesah,

Aduh, lagi-lagi kau mengeluh. Kali ini kau mengeluh matahari yang terlalu terik dan membakar kulit. Bahkan tulang pun turut lebur menjadi abu katamu. Kemarin kau mengeluh, angin terlalu riang menari ditengah-tengah hatimu yang galau.

Dan dua hari yang lalu kau mengeluh bulan yang enggan muncul dan membagi sinarnya ketika malam pekat. katamu, bulan pelit dan sangat tidak bisa dipercaya seperti matahari. Kewajiban si bulan bersinar dan berbagi cahaya ketika malam tiba namun malam itu bulan abstain, sering malah. Dan memang malam itu hitam pekat, tidak ada bulan, hanya bintang gemintang menyebar seperti titik-titik jarum berkedip-kedip.

Banyak yang kau bicarakan atau kau tanya-tanya. Merupakan kebiasaan, aku hanya menjadi pendengar dan tidak menjawab. Segaris senyum ditengah percakapan yang kadang memburu merupakan jawaban terbaik yang kumiliki.

Pernah kau berbicara perihal sejarah, kita punya sejarah dan kita dilahirkan lewat perjalanan panjang sejarah itu sendiri. Sepantasnya kita tidak melupakan sejarah, karena kita adalah bagian dari sejarah dan membuat sejarah dengan cara-cara yang baik. Tapi lewat perjalanan panjang pembicaraan kita, kau seakan ingin lari dari sejarahmu sendiri.

Kau tidak mengungkap sejarahmu. Seperti selubung kain belacu yang ingin kau nikmati sendiri; enggan untuk dibagi. Entah kenapa?

Apa itu aneh?

Belum lagi ketika kau mulai bertanya perihal masa depan. Apa salah? Tidak juga, tidak salah ketika kau bertanya “Apa kita sanggup untuk menjadi satu dan lebur bersama dalam sebuah rangkaian cerita saling mendamaikan ?” atau “apa memang hati kita itu bisa selalu di zona yang sama? ketika hilang apa mungkin kompas hati akan menemukan arah yang tepat dan mengembalikan kau ke sisiku?”

Tidak akan pernah salah ketika kita mulai menghitung, karena perjalanan tanpa hitungan adalah sebuah perjalanan yang tidak pernah kenal tujuan akhir. Liar terbang menuju bulan, melewati kumpulan bambu, bergelinjang diatas rumput hijau kalbu dan hanya terbang tanpa tujuan.

Tidak pernah salah, ketika waktu mulai dihitung dan logika diajak untuk bermain dengan pola-pola yang ada. Tidak pernah salah, masa depan bukan catatan bisu dan tidak ada posisi tawar menawar, tidak.

Akan ada selalu senja dimana kita bicara perihal masa depan, tapi tidak selalu. Terkadang hanya ingin duduk dan membagi kopi untuk sebuah pembicaraan ringan tentang hal remeh temeh. Atau sekedar menyatu pada hangatnya malam-malam sunyi. Masa depan adalah apa yang kita catat masa kini, untuk dijalani besok, dan mendapatkan hasil dikemudian hari.

Masa depan bekerja diruang-ruang magis dan spiritual, Empunya hidup sudah merangkai semua cerita dengan baik, tidak ada cacat. Kita, orang yang menjadi bidak-bidak catur hanya mengikuti alunan magis dengan gerakan yang tepat.

Sekarang kau meneguk kopi mu, katamu terlalu manis, salah aduk pula, rasanya kacau. Aku hanya senyum, seperti biasa. Satu garis waktu yang kita bagi bersama memang tidak akan cukup menjelaskan maksud hatimu paling dalam. SUSAN GUI__ 11 September 1984,Jakarta.


Sumber : http://oase.kompas.com/read/2011/06/26/04191672/Puisi-puisi.Susan.Gui

Senin, 20 Juni 2011

Lowongan Kerja

DIBUTUHKAN SEGERA

Tenaga Pemasaran Koran Untuk Wilayah Dharmasraya

Persyaratan:
1. Usia Minimal 20 tahun
2. Diutamakan sudah berkeluarga
3. Mempunyai kendaraan roda dua dan SIM C
4. Berdomisili/tinggal di Dharmasraya
5. Pendapatan Menjanjikan
6. Mau bekerja keras dan disiplin

Bagi yang berminat kirim lamaran ke:
Bagian Pemasaran Kantor Harian Pagi Padang Ekspress
Jl. By Pass Pisang KM 7 Padang SUMBAR

Atau HUBUNGI:

1. Sarbidin : Hp 081363405324
2. Jhon Edi : Hp 081266586780
Kantor : Telp. 0751-778884

Lamaran Paling Lambat Tgl 25 Juni 2011

(sumber : Harian Pagi Padang Ekspres, 20 Juni 2011)

Sabtu, 18 Juni 2011

Lomba Novel Republika 2011

Republika menyelenggarakan Lomba Novel Republika 2011. Lomba ini terbuka untuk umum dan paling lambat naskah dikirim tanggal 15 Oktober 2011. Lebih lengkap persyaratannya adalah:

-Mengisi formulir pendaftaran ( Download di sini : http://www.republika.co.id/iklan/novel/novel.html )

-WNI dan melampirkan fotokopi kartu identitas (KTP/KTM/Kartu Pelajar/Paspor);

-Karya asli, bukan saduran,bukan terjemahan,bukan jiplakan(menyertakan surat bermeterai Rp6000 yang menyatakan karya yang dikirim adalah karya asli

-Karya belum pernah dipublikasikan atau disertakan dalam lomba sejenis

-Tema novel bebas,menghadirkan materi yang menggugah

-Novel bernapaskan Islam rahmatan lil alamin

-Tidak bermuatan pornografi

-Naskah diketik dengan format MSWord 2000, dengan jumlah halaman minimal 150 halaman, dan diketik dengan spasi 1,5 dan diprint-out di kertas berukuran A4,menggunakan font Times New Roman, ukuran 12 dan diberi nomor halaman;

-Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya

-Naskah dijilid sebanyak tiga buah dan dimasukkan dalam amplop tertutup yang ditujukan kepada

Panitia Lomba Penulisan Novel Republika 2011 Jl.Warung Buncit Raya No 37. Jakarta Selatan, 12510

-Sepuluh peserta finalis akan diminta mengirimkan naskah dalam bentuk softcopy kepada panitia;

-Tiga naskah terbaik akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Republika;

-Tujuh naskah finalis lainnya akan dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Republika


HADIAH

1.Karya terbaik pertama akan memperoleh uang saku sebesar

Rp.25 juta+piala ( belum termasuk royalti dari penerbitan dalam bentuk buku );

2.Terbaik kedua berhak atas hadiah uang saku sebesar

Rp.20 juta + piala (belum termasuk royalti dari penerbitan dalam bentuk buku );

3.Terbaik ketiga memperoleh uang saku

Rp.15 juta + piala (belum termasuk royalti dari penerbitan dalam bentuk buku );

Karya diterima paling lambat 15 Oktober 2011 (Cap Pos)

Rabu, 15 Juni 2011

Saatnya Kejujuran Jadi Gerakan Nasional


Judul tulisan ini sama persis dengan judul berita yang terbit di Kompas Online tanggal 16 Juni 2011. Alasan saya mengkopipaste adalah karena saya juga ingin menyampaikan hal yang sama dalam tulisan ini. Pada berita itu tergambarkan kejujuran adalah suatu hal yang bisa dikatakan langka atau mahal di negeri ini.

Dan yang lebih ironi, sebuah sistem pendidikan ataupun lembaga pendidikan yang seharusnya mendidik anak bangsa untuk menjadi orang yang bermoral malah menngajarkan kecurangan.
Di sebuah sekolah SD, ketika sedang ujian UN guru memaksa murid untuk memberi contekan kepada temannya yang lain dengan alasan yang dibuat-buat. Kemudian karena orang tua si murid masih punya hati nurani, dibongkarlah kebusukan ini. Eh, bukannya didukung sama warga sekitar tempat mereka tinggal, malah diusir. Aneh.

Saya pikir ini sudah keterlaluan. Kita sudah kehilangan sebuah mutiara indah. Mutiara itu seharusnya kita wariskan kepada generasi pelanjut bangsa ini, bukannya menghilangkannya dari peredaran. Itulah potretnya yang bisa saya gambarkan. Saya sendiripun mengakui, sayapun belum mampu untuk selalu berlaku jujur dalam kehidupan sehari-hari. Namun jika pemerintah akan mencanangkan program Gerakan Nasional Kejujuran, saya sangat mendukung sekali. Dan harapannya tentu tidak sekedar omongan, memang sudah seharusnya kita memperbaiki yang telah rusak.

Minggu, 05 Juni 2011

Ketika seseorang bangun dari tidurnya dipagi hari...


Tulisan ini pernah saya muat di buletin dinding Suara Mahasiswa FMIPA UNP( entah edisi keberapa, lupa). Sekarang buletinnya ga pernah terbit2 lagi, sayang.

Ketika seseorang bangun dari tidurnya dipagi hari...
Matahari terbit diufuk timur, seekor rusa tahu bahwa dia harus berlari lebih cepat dari singa tercepat, agar tidak dirobek cakar dan taring tajam sang predator. Dan seekor singa juga tahu bahwa dia harus berlari lebih cepat dari rusa terlambat, agar dapat memastikan kelangsungan hidupnya yang fana. Dan kata-kata mutiara penuh makna-Afrika ini diakhiri : ‘Tidak peduli apakah itu rusa atau singa, ketika lonceng kehidupan telah berbunyi semuanya harus segera berlari’.
Ketika mata telah terbuka, terpampang sebuah hari yang panjang dihadapan seseorang yang baru saja bangun dari pembaringannya. Telah tersedia sepotong waktu dari potongan-potongan waktu yang telah dijatahkan bagi tiap-tiap manusia. Telah menunggu berlembar-lembar aktivitas yang siap dijamah tangan. Dengan catatan disana ada yang baik, dan tak terelakkan sebagai manusia disana juga ada yang buruk. Namun kita tentu berharap meski kita manusia yang tak akan sempurna, yang baik tentu diharapkan berporsi banyak dari yang buruk. Dan akan jauh lebih baik yang buruk bisa kita hindarkan.
Ada motivasi tentunya ketika kita melakukan suatu aktivitas. Ada yang kita kejar tentunya ketika kita ‘berlari’. Apapun itu adalah dalam rangka menjalani hidup kita sebagai manusia. Manusia yang telah diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Berlembar-lembar halaman yang telah kita coret, seperti yang telah disinggung sebelumnya, akan hanya ada dua jenis coretan. Coretan yang indah penuh manfaat dan coretan yang jangankan bermanfaat, indah sedikit sajapun tidak.
Tapi ada satu hal yang perlu kita tanamkan dipikiran kita : jangan sampai kita menjadi orang yang tak mampu membedakan coretan-coretan tadi, tak tahu mana yang bermanfaat dan mana yang tidak. Karena kalau sudah demikian, kita ibaratkan orang yang buta. Yang terkadang kita tidak menyadari buta jenis ini jauh lebih berbahaya dari buta mata. Buta yang menyebabkan hati seperti hilang rasa. Mari kita memohon kepada Allah yang Maha Memberi petunjuk, semoga ini tidak terjadi pada diri kita. Diri yang penuh dengan kelemahan yang kadangkala rubuh oleh godaan.
Jadi mari kita sama-sama memotivasi diri untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan yang terpenting menjauhi-meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Hal yang tidak bermanfaat, coretan yang tak indah hanya akan membuat kita rugi besar. Besar yang tak terkira. Menggerogoti potongan-potongan waktu yang telah menjadi jatah kita, mubazir. Menelan kesempatan untuk melakukan hal bermanfaat dan yang pasti menambah tinggi tumpukan dosa kita sebagai manusia ciptaan Sang Pencipta.***
Sekarang tanggal 6 Jun 2011, dikampus orang lagi sibuk belajar berdemokrasi. Lagi ada pemilu raya. Pemilihan ketua himatika jurusan matematika. Baru tahap pendaftaran balon ketua hari ini.

Apa itu Gempa?

Awan diatas sedang merangkak, menyusuri biru langit di hari yang cerah.
Tanahku dibawah berhenti,
tak pernah bergerak kecuali kehendak Tuhan.

Sabtu, 20 November 2010

Jumat, 01 Oktober 2010

PERANAN PEMUDA ISLAM

Oleh : H. Mahyeldi Ansharullah, SP




Sejak dahulu kala, bahkan jauh sebelum agama Islam muncul di muka bumi, para nabi dan rasul telah diutus untuk menyampaikan wahyu Allah SWT dan syari’at-Nya kepada umat manusia. Para rasul itu adalah orang-orang terpilih dari kalangan pemuda. Di antara mereka ada yang diberi kemampuan luar biasa dalam berargumen dan berdebat, sebelum usianya genap delapan belas tahun.

Nabi Ibrahim AS, misalnya, seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an, adalah pemuda yang sering berdebat dengan kaumnya, menentang peribadatan kepada patung-patung yang tidak dapat bicara, memberi manfaat dan mudharat. Kita juga ingat kisah Ashabul Kahfi yang tergolong pengikut Nabi Isa A.S. Mereka adalah anak-anak muda yang menolak kembali agama nenek moyang mereka, menolak menyembah selain Allah SWT. Mereka bermufakat mengasingkan diri dari masyarakat dan berlindung dalam suatu gua, karena jumlah mereka relatif sedikit yakni tujuh orang di antara masyarakat penyembah berhala. Fakta sejarah ini terekam jelas dalam Al-Qur’an surat Al Kahfi ayat 9-26, yang di antaranya :

”(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a : ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)’.” (Q.S. Al-Kahfi : 10)

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Sang Pencipta), dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”. (Q.S. Al-Kahfi : 13)

Potensi Besar Pemuda dalam Kehidupan Masyarakat

Demikian keadaan dan peran golongan pemuda. Kiprah mereka telah terukir indah dalam tinta emas sejarah. Mereka merupakan tonggak dan potensi besar suatu kehidupan. Terlebih kelompok pemuda seperti pelajar dan mahasiswa, karena selain diharapkan oleh umat, peranan mereka pun sangat didambakan oleh kelompok masyarakat lainnya sebagai pionir perubahan ke arah yang lebih baik. Posisi mereka sebagai “pelajar/mahasiswa” memang menjadi peluang bagi mereka untuk mengembangkan potensi sebesar-besarnya. Tidak heran jika perubahan sosial politik diberbagai belahan dunia dipelopori oleh gerakan pemuda. Sebagian sahabat yang menyertai Rasulullah SAW dalam memperjuangkan Islam yang akhirnya berhasil menguasai lebih dari dua pertiga belahan bumi adalah para pemuda yang menjadi murid Rasulullah SAW.

Secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya, sangat wajar jika pemuda- memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainya. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan banyak dimiliki pemuda . Pemikiran kritis mereka sangat didambakan umat. Di mata umat dan masyarakat umumnya, mereka adalah agen perubahan (agent of change) jika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak mereka. Baik buruknya nasib umat kelak, bergantung pada kondisi pemuda sekarang ini.

Namun, potensi tinggallah potensi. Ibarat pedang yang sangat tajam, ketajamannya tidak menjadi penentu bermanfaat tidaknya pedang tersebut. Orang yang menggenggam pedang itulah yang menentukannya. Pedang yang tajam terkadang digunakan untuk menumpas kebaikan dan mengibarkan kemaksiatan, jika dipegang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, jika berada di tangan orang yang bertanggung jawab, ketajaman pedang itu akan membawa manfaat. Demikian juga dengan potensi pemuda. Potensi yang begitu hebat itu bisa dipergunakan untuk menjunjung tinggi kebaikan, bisa juga untuk memperkokoh kejahatan dan kedurjanaan. Itulah sebabnya, begitu banyak contoh pemuda-mahasiswa yang berjasa menjadi pilar penentu kemajuan suatu peradaban, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi peradaban, dan menghancurkan kemuliaan suatu tatanan kehidupan.

Jadi, potensi yang dimiliki oleh pemuda-mahasiswa haruslah diarahkan untuk menyokong dan mempropagandakan nilai-nilai kebaikan. Seorang pemuda muslim tentunya akan berada di garis depan untuk membela, memperjuangkan, dan mendakwahkan nilai-nilai Islam. Seorang pemuda muslim tidak layak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan di tengah kemunduran umat yang sangat memprihatinkan ini. Seorang pemuda muslim jangan sampai menjadi penghalang kemajuan Islam dan perjuangan kaum muslimin. Na’udzubillah.

Menyorot Realitas Pemuda-Mahasiswa Muslim Kini

Kita akui, pengaruh sistem kehidupan yang berlaku dalam suatu kurun kehidupan sangat berpengaruh terhadap pemahaman dan perilaku manusia yang hidup pada zaman tersebut. Hal ini berlaku pula bagi pemuda. Format kehidupan pemuda sekarang, sedikit banyak telah terpengaruh oleh sistem kehidupan yang berlaku sekarang, yaitu sistem demokrasi kapitalis.

Kalau memperhatikan apa yang terjadi di kampus-kampus di negeri ini, secara umum, paling tidak kita akan menemukan adanya beberapa kelompok mahasiswa muslim yang pemahaman dan kecenderungannya relatif berlainan. Citra dan cita-cita mereka juga relatif berbeda sesuai dengan landasan pemikiran yang mendasarinya.

Kelompok pertama, adalah mereka yang merasa tidak puas dengan kondisi sekarang, lalu melakukan berbagai perubahan. Mereka melihat bahwa sistem kehidupan yang berlaku sekarang hanya melahirkan penderitaan dan kesengsaraan yang berkepanjangan. Arah perubahan ynag mereka inginkan ada yang tidak terlepas dari format ideologi kapitalis, ada juga yang terpengaruh ideologi sosialis.

Haluan politik kapitalis berjalan seiring dengan format demokrasi yang mereka terjemahkan sesuai dengan kondisi di negeri ini. Kelompok demokrat ini memang lebih menginginkan agar demokrasi yang ada benar-benar ditegakkan. Isu-isu bahwa kedaulatan dan kekuasaan di tangan rakyat, bahwa rakyatlah yang paling berhak menentukan arah pemerintahan, paling sering mereka teriakkan dengan lantang. Terhadap berbagai masalah kemasyarakatan, isu hak asasi manusia (HAM) juga sering mereka jadikan bukti lemahnya penerapan demokrasi, terlepas dari paham atau tidaknya mereka akan hakekat demokrasi dan aturan produk barat lainnya.

Adapun yang terpengaruh oleh sosialis mengehendaki perubahan yang lebih radikal. Mereka menuntut perubahan tatanan kehidupan melalui revolusi. Menurut mereka, suksesi kepemimpinan mestinya segera dilakukan. Cara yang mereka lakukan tidak jarang mengarah kepada pengrusakan, dengan membangkitkan emosi massa. Kerugian akibat aksi-aksi yang mereka lakukan tidak sedikit. Berbagai isu kesenjangan sosial dan kasus kerusuhan yang melibatkan massa menjadi sarana subur untuk aksi mereka. Jurus mereka kerap kali memancing di air keruh.

Apapun alasannya, cara-cara yang ditempuh kelompok mahasiswa ini tidak bisa dibenarkan oleh Islam. Landasan perjuangan kelompok tersebut jelas tidak sesuai dengan pandangan Islam. Sebab, ide-ide sosialis ataupun kapitalis, termasuk demokrasi serta ide-ide yang terlahir darinya seperti HAM, pluralisme, dan lain-lain, merupakan pemahaman Barat yang kufur yang sangat bertentangan dengan Islam. Haram bagi kaum muslimin mengambil pemahaman dan aturan-aturan yang bukan berasal dari Islam. Allah SWT berfirman :

“Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakanlah. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (Q.S. Al-Hasyr : 7)

Hal lain yang sangat kita sayangkan, tidak sedikit mahasiswa muslim yang turut mempropagandakan dan memperjuangkan paham-paham tersebut. Di antara mereka ada yang melakukannya karena ikut-ikutan saja, karena kebodohannya, dan ada juga karena memang ingin memperjuangkannya. Akibatnya, secara tidak langsung, mereka menjadi prototipe dan agen-agen Barat dalam menyebarkan paham-paham yang sebenarnya merupakan racun bagi kaum muslimin.

Kelompok kedua adalah mereka yang cuek terhadap kondisi kehidupan masyarakat. Yakni, mereka yang tidak peduli dengan penderitaan dan kesengsaraan masyarakat. Bagi mereka yang penting selamat. “Ngapain susah-susah mikirin nasib kaum muslimin yang lain. Mikirin diri sendiri aja udah susah.

Memang sistem kapitalis yang menyetir pola kehidupan sekarang melahirkan degradasi nilai-nilai kemanusiaan. Sistem ini memang berhasil memberikan nilai materi yang cukup berlimpah. Namun, ternyata keberhasilan itu hanya diraup oleh segelintir orang yang ‘kuat’, sementara mayoritas rakyat hidup dalam kesengsaraan. Lapangan pekerjaan semakin sempit, pengangguran kian membludak, dan berbagai tindak kriminal mulai menjadi wabah sosial kemanusiaan.

Kondisi seperti ini hanya akan melahirkan sistem individualis yang semakin tajam. Setiap manusia termasuk mahasiswa lalu berpikir pintas untuk ‘menyelamatkan’ diri, dan akhirnya tidak peduli dengan keadaan lingkungan. Standar perbuatan mereka adalah manfaat. Bagi mereka, yang penting bermanfaat dirinya dan tidak merugikan orang lain. Bagi mereka pacaran tidak menjadi masalah, asal tidak hamil dan tidak menimbulkan ‘masalah’. Kelompok ini memang benar-benar ingin ‘menikmati’ dan hidup tenteram dalam kondisi sekarang. Mereka tidak peduli kenikmatan hidupnya itu diraih di atas penderitaan orang lain.

Bagi kelompok mahasiswa seperti ini ‘keberhasilan studi’ merupakan cita-cita yang paling dijunjung tinggi dan senantiasa jadi haluan perjuangannya. Bagi mereka, standar keberhasilan itu adalah meraih nilai studi yang setinggi-tingginya. Sains memang cukup mereka ‘kuasai’, namun keilmuannya itu tidak berpengaruh terhadap perilaku mereka dalam kehidupan masyarakat. Dalam studinya, kelompok ini memang relatif banyak berhasil, namun mereka belum mampu memenuhi dambaan dan harapan umat.

Kehidupan mahasiswa kelompok ini hanya berkisar antara kampus dan rumah. Angan-angan mereka kalau sudah lulus kelak adalah pekerjaan yang mantap dengan gaji yang besar, istri yang cantik, fasilitas yang mewah, dan anak-anak yang lucu dan manis. “Persetan dengan lingkungan Yang penting aku, istriku, anak-anakku, dan keluargaku ‘aman’!”

Cara hidup kelompok ini jelas tidak dibenarkan oleh Islam. Dalam Islam tidak dikenal sistem kehidupan individualis. Kehidupan masyarakat dalam Islam tidak membeda-bedakan apakah seorang itu mahasiswa, pelajar, karyawan, atau lainnya. Semuanya bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan di sekelilingnya. Rasulullah SAW mengingatkan :

“Barang siapa bangun pagi hari dan hanya memperhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah. Barang siapa tidak pernah memperhatikan urusan kaum muslimin yang lain, maka tidak termasuk golonganku”. (HR. Thabrani dari Abu Dzar Al-Ghifari)

Kelompok ketiga adalah mereka yang ‘terbius’ sehingga terjerat dan terjerumus dalam bejatnya sistem kehidupan masa kini. Sistem kapitalis yang mengagung-agungkan materi, telah mencabut nilai-nilai kehidupan lainnya, baik nilai-nilai akhlaq, kemanusiaan, dan kerohanian (agama). Korban-korban sistem ini sudah cukup bergelimpangan.

Sebagai contoh, tidak sedikit mahasiswa yang terjerumus dalam pemakaian obat-oabat terlarang. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjerat dalam sindikat pengedar yang berskala internasional.

Mereka yang terjerumus dalam sek bebas tidak kalah mengerikan. Hasil temuan FKM UNAIR menyebutkan bahwa pengidap AIDS sebagian besar kalangan remaja. Dari 100 responden remaja yang diteliti, FKM menyimpulkan bahwa 22,9 persen remaja usia 15 – 19 tahun telah terkena virus HIV/AIDS, sedangkan remaja usia 20 – 24 tahun yang terjangkit mencapai 77,1 persen. Tawuran remaja yang tadinya hanya merupakan trend remaja-remaja SMU, kini sudah diikuti oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Bahkan yang sangat menggelikan sekaligus memprihatinkan mahasiswa yang notabene adalah kaum intelektula juga ada yang melakukan tawuran sesame mereka. Sungguh memalukan!

Kejadian-kejadian di atas hanya sekedar contoh kasus betapa kelompok mahasiswa yang demikian ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Kasus aborsi, skandal dan jaringan seks bebas, perampokan, pembobolan bank, penodongan, dan tindak kriminal lainnya tidak jarang dilakukan oleh pemuda.

Kelompok keempat adalah kelompok pemuda yang peduli lingkungan dan sadar akan kerusakan dan kebrobokan sistem yang ada akibat tidak diberlakukannya aturan Islam dalam realitas kehidupan. Dengan pemahaman terhadap kenyataan seperti itu, disertai pendalaman terhadap tsaqofah Islam, mereka melakukan perjuangan dakwah, menyeru umat untuk kembali kepada Islam. Meskipun jumlahnya tidak terlampau besar, peranan mereka sangat diharapkan umat untuk melakukan perubahan kehidupan masyarakat ke arah yang Islami.

Alhamdulillah, di berbagai perguruan tinggi dan sekolah perkembangan mereka cukup menggembirakan. Bahwa berjilbab itu merupakan kewajiban bagi seorang muslimah sudah menjadi opini yang tidak terbantahkan lagi. Sungguh menyedihkan kalau di antara mahasiswi muslim ada yang belum paham bahwa jilbab itu wajib. Padahal, jika hal itu dilalaikan, Allah SWT akan menurunkan azab yang sangat pedih.

Begitu juga, gerakan-gerakan kebangkitan Islam cukup santer di berbagai perguruan tinggi. Gerakan keIslaman yang berasal dari Timur Tengah ataupun bercorak lokal semakin bermunculan. Semuanya menyuarakan kebangkitan Islam. Pemahaman Islam yang mereka raih bukan pemahaman yang bersifat ‘abangan’. Meskipu belajar di perguruan tinggi umum, kitab-kitab kuning yang berbahasa Arab baik dari kalangan fuqaha tempo dulu maupun para mujtahid abad 20- pun menjadi santapan keseharian mereka.

Meskipun masih terdapat berbagai perbedaan visi tentang kebangkitan dan metode yang mereka lakukan, kelompok terakhir ini merupakan kelompok dambaan ummat menuju kemuliaan hidup . Umat Islam tidak mungkin bangkit dengan mengadosi aturan-aturan yang bukan berasal dari Islam, baik dari paham kapitalis mapun sosialis.

Ketahuilah, umat Islam tidak mungkin meraih kemulaiaan kalalu umatnya hanya memperhatikan kepentingan pribadi. Islam mustahil akan muncul dari generasi-generasi yang telah “ sekarat” karena korban kedurjanaan sistem kapitalis. Islam hanya akan bangkit melalui manusia-manusia yang ikhlas mewakafkan kehidupannya demi tegaknya Islam. Islam akan jaya di tangan mereka yang memegang Islam walaupun bagai memegang bara api. Meskipun secara materi kondisi mereka terkadang menyedihkan, perjuangan mereka tak pernah rendah; karena mereka mendambakan kemuliaan surga yang dijanjikan Alloh SWT. Mereka yakin akan janji Allah SWT dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. (QS. At-Taubat : 111).

Demikianlah kondisi realita pemuda yang terlahir dan hidup pada saat ini. Citra keIslaman mereka tidak sedikit yang tererosi dan terdegradasi oleh budaya-budaya asing yang membius dan meracuni harapn dan cita-cita mereka. Cinta mereka terwarnai kasih sayang semu, cinta produk manusia. Cinta yang lahir dari nafsu demi kenikmatan sesaat. Cinta yang berakhir dalam kehampaan dan kegersangan.

Meskipun demikian, masih ada pemuda dan pemudi yang masih teguh memegang dan mempertahankan-dengan sekuat tenaga dan segala kemampuan- citra mereka yang hakiki sebagai muslim. Merekalah the real agent of change . Semoga Allah SWT senantiasa menyertai mereka. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Wa Allohu a’lam bi as-showab
sumber (http://oshie.wordpress.com/2008/05/23/peranan-pemuda-islam/)

Selasa, 28 September 2010


........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................