Laman

Jumat, 20 Desember 2013

“..................................MUSRIK !!!!”......................???

Beberapa minggu lalu. Lupa kapan tepatnya. Disuatu hari jumat, ketika shalat jumat saya terdiam mendengar kotbah dari katib yang sedang berbicara di depan. Biasanya saya juga terdiam kalau katib lagi berkotbah dan memang jamaah diharuskan diam. Tapi karena kotbah kali ini disampaikan katib dengan bersemangat, makanya terdiam saya sedikit berbeda dengan biasanya.
Isi kubahnya menyinggung masalah kelompok kelompok yang memecah dalam agama islam. Katib dengan suara keras menyampaikan bahwa orang orang yang berkelompok kelompok atau golongan yang menyebabkan perpecahan atau membuat tidak bersatunya umat islam adalah musrik. Wow, sebagian jemaah menurut info yang saya dengar dari rekan semesjid malah ada yang tertawa. Karena lucu? Mungkin.
Katib menyuruh jamaah merujuk surat Ar Rum ayat 31-32. Saya kutip bunyi ayatnya : “...dan janganlah kamu termasuk orang orang yang menyekutukan Allah. Yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
Katib sempat menyebutkan beberapa “golongan” yang ada di Indonesia seperti Muhammadiyah, NU. Beberapa parpol islam sempat disebut juga macam PKB, PPP, PKS, PAN dan ada satu lagi saya lupa.
Al Quran yang saya punya ternyata ada catatan kaki pada kata “mereka” pada ayat 32. Catatan kaki itu bernomor 640. Setelah saya cek catatan kaki tersebut terdapat keterangan sbb: “meninggalkankan agama tauhid dan menganut berbagai kepercayaan menurut keinginan mereka.”
Meninggalkan tauhid maka layak dikatakan musrik. Jika golongan golongan yang disebutkan diatas telah meninggalkan tauhid maka layak pula golongan tersebut dikatakan musrik termasuk pengikut-pengikutnya. Begitu akhirnya saya mengambil kesimpulan.

Jumat, 18 Oktober 2013

Saat ini langit kota Padang sedang menangis, air matanya menerpa atap dan jatuh ke bumi dengan suara gemericik. Ingin ku tutup jendela tapi ku urungkan niat, “Airnya tidak masuk ke kamar, jadi tidak apa-apa”.

Sabtu, 28 September 2013

my Jogging

Lapangan FIK UNP
Sudah lebih dikit dari enam bulan ini saya meluangkan waktu untuk jogging dalam seminggu, biasanya tiga kali seminggu. Itu biasanya, ada juga cuma dua kali seminggu atau bahkan cuma satu kali. Yang penting ada lah berolahraga dalam seminggu itu. Biasanya saya jogging di lapangan FIK UNP.

kebiasaan ini berawal saat mengambil mata kuliah olahraga, instrukturnya menyampaikan bagaimana pentingnya olahraga bagi tubuh. Dengan mendengarkan , menyimak, dan mengiyakan serta memahami apa yang disampaikan hingga membuat saya termotivasi untuk mulai melakukan jogging, karena memang ini yang terbilang murah dan mudah untuk dilakukan.

Awalnya memang motivasinya berdempet dengan niat latihan agar nanti dapat nilai bagus saat ujian kuliah olahraga, ujiannya waktu itu lari keliling lapangan bola dengan panjang 400m sebanyak enam kali dan untuk laki2 harus dicapai kurang dari 15 menit. akhirnya dengan biasa melakukan saya mulai menikmati manfaat dan semakin nyaman melakukannya.

Ada beberapa ilmu yang saya dapatkan saat kuliah, seperti selesai berlari atau jogging jangan langsung duduk berdiri saja sambil jalan2 ringan sampai darah mengalir normal kembali, mungkin maksudnya sampai detak jantung mendekati normal kembali. Efeknya jika langsung duduk kepala bisa terasa pusing, bahkan bisa mual. So, mari mulai berjogging.


Jumat, 27 September 2013

PEmbuka CakRawala??

Jalanan itu bukan hanya diisi para pengemis, orang terdidik pun ada. Saya bukan menyindir atau pun menghina, tapi ini kenyataan. Cobalah lihat kalau tidak percaya. Betapa banyak pengangguran yang berstatus mantan mahasiswa. Demikian katanya. Ini sedikit fiksi sebagai pengantar.

Malam ini mendengar diskusi seorang tamu di kosan dengan mantan mahasiswa yang baru diwisuda, omongannya terkait apa rencana setelah selesai kuliah ini. Disela-sela diskusi dia menyampaikan kuliah S1 itu untuk membuka cakrawala, cakrawala apa yang dimaksud. Saya juga tidak tahu.

Saya mengiyakan apa yang disampaikan karena apa yang dimaksud sesuai juga dengan pemikiran saya. Setelah selesai studi di kampus tentu akan segera mencari pekerjaan. Dan rata-rata memang seperti apa yang akan dilakukan oleh mahasiswa yang baru saja lulus dari S1-nya. Namun masalahnya untuk mendapatkan pekerjaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan musti ikut persaingan yang ketat.

Ambil saja contoh jika ikut tes PNS, bandingkan jumlah yang akan ikut dengan jumlah pos yang akan diisi, peluang untuk diterima tentu tidak banyak. Disanalah fungsi kampus sebagai pembuka cakrawala itu berperan. Butuh pemikiran yang kreatif untuk menciptakan peluang minimal untuk diri sendiri dan bagus sekali bila sanggup memberi peluang untuk orang lain.


Untuk menciptakan peluang buat diri sendiri itu tentu butuh perjuangan juga. So, selamat berjuang buat para wisudawan...saya segera menyusul.

Sabtu, 21 September 2013

TEMPAYAN RETAK

Sudah pernah baca belum? Cerita dua tempayan, satu retak satu tidak. Kita semua adalah tempayan retak. Tempayan retak dan tak retak bergantung pada sebuah pikulan di masing-masing ujungnya. Dengan itulah si pembawa air dapat membawa air ke rumah. Sayapun tak dapat menggambarkan dengan mata apa itu tempayan. Tempayan retak hanya membawa setengah air dari tempayan tak retak, diapun merasa sedih, merasa tak berguna. “wahai pembawa air aku merasa malu dan tak berguna” tempayan retak berkata. “Kenapa?” permbawa air bertanya. “Hanya setengah air dari yang seharusnya yang mampu aku bawa, air merembes keluar dari retakan ini, tak seperti tempayan tak retak yang membawa penuh air” tempayan retak menjawab. “Perhatikanlah besok saat kita kembali membawa air, bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan yang kita lalui” pembawa air melanjutkan. Lihatlah bunga-bunga yang indah tumbuh di sepanjang sisi jalan tempayan retak yang tak ada di sepanjang tempayan tak retak. Bunga-bunga tumbuh subur dan mekar dengan air dari rembesan tempayan retak. Dari file mp3 resonansi jiwa tempayan retak.

Jumat, 20 September 2013

MENGHITUNG JUMLAH KEPALA

‘Demokrasi itu menghitung berapa jumlah kepala, bukan isi kepala’, demikian sepenggal kalimat yang sempat diucapkan oleh katib siang ini ketika saya shalat jumat di salah satu mesjid di kota Padang ini. Apa yang disampaikan katib ini menarik menurut saya berhubung saat ini di kota padang  akan segera berlangsung pesta demokrasi untuk menentukan walikota padang lima tahun mendatang.

Isi kotbah katib jumat tersebut bukanlah mengenai demokrasi namun dia sempat membahas sedikit mengenai perbedaan antara asas musyawarah dan demokrasi. Asas musyawarah di minangkabau sudah sejak dulu dijadikan sebagai cara untuk mendapatkan keputusan yang menyangkut kemaslahatan bersama dan di indonesia pun dikenal demikian. Kemudian demokrasi mulai diadopsi sampai sekarang, yang paling jelas adalah saat pemilihan sorang pemimpin mulai dari presiden, gubernur dan lainnya.

Perbedaaan antara musyawarah dan demokrasi jelas sekali, musyawarah sebuah keputusan ditentukan atas kesepakatan bersama. Memang untuk mencapai kesepakatan bersama ini kadang membutuhkan proses yang rumit dan lama. Setiap sisi dari hal yang dimusyawarahkan di pertimbangkan dan dibahas baik buruk, untung rugi dan segala tetek bengeknya. Beda halnya dengan demokrasi, cukup sediakan beberapa opsi atau pilihan mengenai suatu masalah yang akan diputuskan, selanjutnya tinggal para peserta untuk memilih mana yang mereka pilih, opsi dengan pemilih terbanyak itulah keputusannya.

Keputusannya pun akan berbeda, pada musyawarah tentunya tidaklah semua elemen dilibatkan, hanya sebagian yang dinilai berkompoten utuk membahas masalah itu saja yang dilibatkan. Jika dicontohkan pada pemilihan presiden tentu tidaklah mungkin semua rakyat ikut bermusyawarah untuk menentukan pemimpinnya, namun demokrasi mengakomodasi hal ini. Dalam demokrasi rakyat dapat berpartisipasi langsung untuk menentukan siapa yang mereka mau menjadi pimpinan mereka. Sayangnya pilihan ini kebanyakan tidak berdasar pada pilihan yang telah dipikirkan masak-masak dan pertimbangan di sana sini, pilihan dijatuhakan lebih pada suatu yang membuat mereka tertarik, dan parahnya jika tertarik dikarenakan sejumlah uang.


Sekarang demokrasi telah menjadi alat untuk membuat suatu keputusan di negeri kita, terutama dalam menentukan seorang pemimpin. Dan jangan pula asas musyawarah dilupakan, paling tidak untuk menjatuhkan pilihan. Benar-benar dikaji dari segala sisi, mana yang lebih baik, mana yang lebih sedikit ruginya pilihan pilihan yang telah ada tersebut, sehingga diperoleh pilihan terbaik untuk bersama untuk dipilih.

TRANSFORMASI

Setelah hampir setahun vakum, blog ini aktif lagi. Kalau dulu judulnya Pondok Aksara, sekarang berganti Paasah pena nan lun tajam. alamatnya pun berganti dari pondokaksara.blogspot.com ke yongkigm.blogspot.com. Namun inti blog ini tetap sama, sebagai tempat untuk berbagi cerita apa yang ada dalam pikiran saya pada orang-orang yang membaca.

'Paasah pena nan lun tajam' itu bahasa minang, artinya lebih kurang blog ini sebagai tempat bagi saya untuk  melatih dan membuat saya rajin menulis. Paasah sama artinya dengan pengasah, gunanya untuk membuat sesuatu menjadi tajam. Dan mudah-mudahan demikian adanya, dengan blog ini semoga saya semakin mahir menulis dan apa yang saya tulis bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca :)

Kamis, 19 September 2013

Garam si kakek tua

Suatu hari seorang anak muda yang tengah dirundung banyak masalah berjalan gontai di tengah hutan, pikirannya melayang-layang memikirkan berbagai macam masalah hidup yang tengah dihadapinya. Dia merasa kepalanya akan pecah karena masalahnya ini. Terpikir olehnya untuk mengakhiri hidup, biar segala masalah ini hilang. Demikianlah dia berpikir saat itu. Dia terus berjalan menyusuri hutan hingga akhirnya dia melihat sebuah pondok di tengah hutan.

Dia berjalan ke arah pondok itu, kakinya sudah mulai letih karena terus berjalan. Sepertinya pondok ini meskipun kecil ada yang menghuninya. Pohon-pohon kecil dan bunga-bunga tumbuh rimbun di sekeliing pondok itu. Anak muda itu mengetuk pintu pondok dan tak lama keluarlah seorang laki-laki tua atau mungkin lebih baik jika dipanggil kakek.

“Ada apa anak muda?” sapa si kakek. ”Kenapa kau tampak murung sekali?”
“Saya hanya ingin menumpang istirahat sebentar kek, bolehkah?” tanya si anak muda.
“Oh, boleh silahkan saja” jawab si kakek dengan ramah.

Sang kakek kembali ke dalam pondoknya dan sesaat kemudian keluar dengan membawakan segelas air putih dan mempersilahkan si anak muda yang keletihan untuk meminumnya.
“Sepertinya kau sedang ada masalah, betulkah?” tanya si kakek. Setelah meminum seteguk air dan menghembuskan nafas panjang anak muda itu hanya mengangguk sambil menatap dedaunan pohon yang melambai-lambai ditiup angin. Terlihat damai dan tenang sekali daun-daun itu, coba saya seperti mereka pikirnya dalam hati.

“Ayo, coba ceritakanlah masalah mu padaku, siapa tahu aku bisa membantumu menyelesaikan masalahmu itu?” si kakek menawarkan dirinya. Si anak muda tampak ragu untuk menceritakan masalahnya beberapa saat, tidak ada salahnya saya ceritakan pada kakek ini pikirnya. Dia sudah tua tentu banyak pengalaman hidup yang sudah dilaluinya pikir anak muda tersebut. Akhirnya si anak muda menceritakan semua permasalahan yang membuatnya terasa berat.

Setelah anak muda menceritakan segala gundah gulanannya pada si kakek, si kakek hanya tersenyum lalu masuk ke dalam pondoknya. Si anak muda melihat itu merasa heran, apakah si kakek berpikir masalahnya itu tidak ada apa-apanya sehingga dengan mudahnya dia tersenyum, padahal baginya masalah ini sungguh sangat berat sekali hingga sampai sampai terlintas pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Beberapa saat kemudian si kakek tua muncul lagi dengan membawa segelas air meletakkannya di kursi pajang tempat mereka duduk dan di tangannya ada segenggam garam. Si kakek memasukkan setengah genggam garam tersebut ke dalam gelas dan masih ada separuh lagi di tangannya. Setelah mengaduk garam tersebut dan garam tersebut larut dalam air, sikakek menyuruh si anak muda untuk meminumnya. “Untuk apa ini?” tanya si anak muda. “Minum saja dulu nanti kamu akan tahu” jawab si kakek. Si anak muda lalu meminumnya, namun hanya seteguk, sisanya dia muntahkan keluar. “Rasanya tidak enak” kata si anak muda. ”tentu saja jawab si kakek, ini kan garam”.

Lalu si kakek mengajak si anak muda menyusuri jalan setapak di belakang pondoknya. Setelah berjalan beberapa lama mereka sampai di sebuah telaga yang cukup luas, dikelilingi oleh padang rumput dan pepeohonan yang tumbuh disekitarnya. Airnya jernih hingga ikan-ikan kecil yang sedang bermain di bebatuan tampak oleh mata. Lalu si kakek memperlihatkan garam yang masih tersisa di tangannya dan menyuruh anak muda itu melarutkannya di air telaga. Setelah garam itu larut dan menunggu beberapa saat sang kakek menyuruh si anak muda meminum seteguk air telaga itu, sang anak muda lalu meminumya. Rasanya segar sekali pikir si anak muda.


“Bagaimana rasanya, apakah ada terasa garam?” tanya si kakek. “Tidak sama sekali” kata si anak muda. “ Menurutmu kenapa ketika air di gelas yang berisi garam tadi diminum terasa asin dan kenapa ketika garam dengan jumlah yang sama dilarutkan di air telaga ini namun tidak terasa asin?” tanya si kakek pada si anak muda. “Jelas saja telaga ini begitu luas sehingga rasa garamnya tidak terasa, tapi di gelas tadi airnya sedikit sekali” jawab si anak muda. “ Bagaimana jika garam itu ibaratkan masalahmu?” lanjut si kakek. Si anak muda tertegun sejenak dan tak lama kemudian dia memandang ke arah si kakaek seakan minta penjelasan. 

“Begini anak muda, setiap masalah pasti ada jalan penyelesaiannya, karena Tuhan pun telah berjanji tidak akan memberikan masalah jika hambanya tidak sanggup menyelesaikannnya, sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah melapangkan hatimu, karena dengan hati yang lapang masalah itu tidak akan terasa berat bagimu, kemudian carilah jalan untuk menyelesaikan masalah itu dengan hati dan pikiran yang tenang dan memohonlah pada tuhan untuk membantumu. Semoga kau mengerti” si kakek lalu beranjak pergi kembali ke pondoknya meninggalkan si anak muda yang mulai melihat jalan terang untuk segala masalah hidup yang sedang membebaninya.

Selasa, 19 Juni 2012

Forkimas in "Pemuda di Persimpangan Jalan"


Foto bareng setelah seminar
Bertempat di Auditorium Stikes Dharmasraya, ahad (17/6/12) Forkimas alias Forum Kajian Islam Mahasiswa Dharmasraya mengadakan seminar kepemudaan dengan tema “Pemuda di Persimpangan Jalan”. Maksud di persimpangan jalan bukan lagi nongkrong di persimpangan jalan lho ! Maksudnya menggambarkan keadaan pemuda yang lagi kebingungan mau melanjutkan langkah hidupnya mau kemana, so diberi sedikit motivasi agar para pemuda tersebut dapat memilih pilihan yang tepat, pas en sesuai dengan kondisinya. Peserta seminar ini merupakan utusan dari masing-masing sekolah tingkat atas yang ada di Dharmasraya, harapannya para generasi muda ini punya arah yang jelas dalam menetukan masa depannya. Enggak hanya itu setelah seminar selesai dilanjutkan dengan prosesi pelantikan pengurus Forkimas periode 2012/2013, semoga kepengurusan pada periode ini memberikan kontribusi lebih dalam meningkatkan kualitas Dharmasraya, apakah dari segi SDM, Pendidikan dan lain sebagainya. So, kita tunggu saja aksinya. Selain itu pada kegiatan ini juga sempat hadir dari Presiden BEM STMIK Dharmasraya, sedangkan dari STIKES dan STKIP tidak bisa hadir karena adanya keperluan, kedepannya sinergi antara Forkimas dan Mahasiswa yang ada di Dharmasraya khususnya yang ada di STIKES, STMIK en STKIP Dharmasraya diharapkan lebih intens dan maksimal sehingga menghasilkan kontribusi yang nyata buat kemajuan Dharmasraya. (yongki)

Catatan kecil pas On Line

Jam sudah menunjukkan pukul 23.21 wib, tengah malam. Saya masih betah melototin LCD laptop. Cari info yang mungkin bisa dijadiin tambahan ilmu. Maklum jaman sekarang ilmu itu bisa didapat dimana-mana. Tinggal ketik yang mau di cari, "Om" Google telah siap dengan beberapa pilihan jawabannya. So, rugi kalo ga dimanfaatin. Kalo ngomong soal sesuatu pasti ada nilai lebih dan kurangnya, yang namanya teknologi kayak Om Google punya seabrek manfaat yang Ok punya. Namun "Ok Punya" ini bisa sesuatu yang beda antara orang yang berbeda, tergantung siapa yang makai. So "Ok Punya"-nya buat suatu yang baik en bermanfaat dunia akhirat aja deh..Sip ! :)

Rabu, 29 Februari 2012

Waktu untuk perkara yang bermanfaat


Allah telah memberikan begitu banya nikmat dan karunia kepada manusia, tak terhitung telah berapa banyak nikmat yang telah Dia berikan. Bahkan hidayah untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan adalah termasuk salah satu nikmat yang perlu untuk disyukuri. Namun terkadang hal seperti itu sering dilupakan.

Salah satu nikmat penting yang Allah karuniakan kepada manusia adalah waktu. Secara umum waktu itu adalah sejak manusia dilahirkan sampai nanti ajal menjemput. Waktu ini dipergunakan manusia untuk menjalani kehidupan dengan berbagai macam aktivitas di dalamnya, mulai dari menuntut ilmu, makan, berolahraga dan lain sebagainya tergantung kepada kepentingan masing-masing.

Pada sebuah hadits dalam kitab Arba’in yang disusun oleh imam An Nawawi, Abu Hurairah ra. Berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Diantara tanda sempurnanya islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya). Dalam hadis ini memang tidak secara jelas dibicarakan masalah waktu, namun secara tidak langsung hadits ini menyinggung masalah waktu. Terdapat kata-kata “hal-hal yang tidak bermanfaat”, tentu ini menyangkut masalah waktu. Jika ada hal yang tidak bermanfaat maka tentu ada juga hal yang bermanfaat.

Dalam kitab Al Wafi yang merupakan penjelasan dari hadits-hadits pada kitab Arba’in, Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu (penulis kitab Al Wafi) menjelaskan bahwa perkara yang mendatangkan manfaat bagi manusia adalah perkara-perkara yang berkaitan dengan kebutuhan manusia paling mendasar, meliputi: sandang, pangan dan papan. Juga perkara yang berhubungan dengan keselamatan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Diluar masalah-masalah ini, maka tergolong kepada perkara-perkara yang tidak bermanfaat.

Dengan demikian setiap manusia haruslah berusaha untuk selalu menggunakan waktunya untuk perkara-perkara yang bermanfaat sebagai bentuk rasa syukur manusia tersebut kepada pencipta yang telah memberikannya sepotong waktu untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Dan agar Allah memberikan balasan dan nikmat terbaik yaitu surga ketika putaran waktu di semesta alam ini berakhir. (yk/23/02/2012)

Rabu, 22 Februari 2012

Bye-bye library.nu gratisan

Bagi mahasiswa dan kaum intelektual lainnya yang suka gratisan pasti kenal situs library.nu, kalau ga kenal (kebangetan), situs yang menyediakan berbagai e-book berbagai disiplin ilmu. Namun akhir-akhir ini situs tersebut tak bisa lagi diakses, awalnya saya sendiri tidak tahu sebab musababnya. setelah ditanya sama paman Google, ternyata library.nu diblokir sama pemerintah AS lantaran pasca pemberlakuan UU hak cipta mengenai kontent dan layanan internet. Alasan pemberlakuan UU tersebut ialah karena banyak terjadi pelanggaran terhadap hak cipta baik berupa karya seni(musik,video,lagu), karya sains, dan konten internet. Sebagian pecinta gratisan menyebutnya "Kiamat". Tapi bagi yang memuja kebebasan ilmu pengetahuan jangan surut dulu masih ada kok alternatif lainnya, diantaranya (blank : searching di internet/paman google). ini cuma sekedar informasi, bukan nyaranin suka yang gratisan alias bajakan

Minggu, 29 Januari 2012

Up Grading UKK dan Puskomda 2012

Jam telah menunjukkan pukul 8 pagi saat beberapa orang terlihat berkumpul di depan ruang T27 komplek gedung lokal mata kuliah umum UNP. Mereka adalah para pengurus UKK pada periode tahun 2012 ini. Para mahasiswa yang mengemban amanah dakwah di salah satu PKM di kampus UNP.

Tentu ada suatu hal yang menggerakkan hati para pengurus-pengurus UKK yang baru ini untuk datang ke lokasi itu. Tepatnya mereka akan melakukan sebuah kegiatan perdana bersama pada periode ini, yaitu Up Grading. Sebuah kegiatan yang ditujukan untuk mempererat rasa persaudaraan dan persatuan diantara pengurus sebelum mereka menjalankan amanah yang telah dipercayakan.

Up Grading yang dilaksananakn selama dua hari ini, yaitu tanggal 21-22 januari 2012 tidak hanya diikuti oleh teman-teman yang mengelola UKK kedepannya, disana ada juga para pengurus Puskomda. Yang mana saat ini Puskomda SUMBAR diamanahkan kepada UKK, sehingga dibentuklah kepengurusan sendiri untuk mengelola Puskomda ini.

Saat pembukaan selain pengurus hadir juga Bapak Sulaiman selaku pembimbing dan hadir juga Ibu Nurlela yang lebih akrab di sapa “Bunda” yang sebelumnya adalah pembimbing UKK. Ada juga pemateri, bapak Hafiz sebagai penyampai materi untuk sesi pertama.

Materi sesi pertama mengenai urgensi dakwah kampus, pemateri memaparkan kepada seluruh pengurus kenapa harus ada dakwah di kampus. Dan juga tentunya diharapkan setelah mendapat materi ini para pengurus yang baru memahami alasan kenapa mereka harus melaksanakan dakwah lewat program-program yang akan segera mereka laksanakan sebagai pengurus UKK.

Sekitar jam sepuluh pagi materi pertama selesai, berikutnya para peserta Up Grading akan menuju kelokasi selanjutnya. Ke BLPT Lubuk Lintah yang berlokasi dekat dengan kampus IAIN IB. berangkat dengan dua bus kota, tiba disana sekitar jam sebelas, beberapa saat kemudian panitia mensosialisasikan rentetan kegiatan selama Up Grading kepada seluruh peserta yang hadir.

Setelah sholat zuhur dan makan siang peserta disuguhi materi tentang UKK, dalam hal ini langsung disampaikan oleh ketua DPO UKK, Nofi Nurman. Beliau menjelaskan secara rinci apa itu UKK kepada para peserta up grading kemudian disambung dengan materi tentang Puskomda setelah Ashar yang disampaikan oleh Bejo Kaswadi yang mewakili ketua Puskomda yang tidak bisa hadir pada saat itu.

Malamnya para peserta menginap di BLPT, disana telah tersedia penginapan untuk putra dan putri. Pada malam harinya aktivitas dilaksanakan di penginapan masing masing yang dibimbing oleh panitia dan instruktur. Seperti yang dilakukan oleh peserta putra melakukan ta’arufan atau berkenalan lebih dalam lagi antara sesama pengurus, kemudian diakhiri dengan bakar jagung yang menambah keceriaan dan keakraban.

Esok paginya setelah selesai sarapan peserta melakukan kegiatan diluar ruangan, melakukan kegiatan out bond. Untuk kegiatan ini berbeda dengan hari sebelumnya dimana kegiatan untuk peserta putra dan putri terpisah. Pada kegiatan ini peserta dapat mengambil pelajaran dari setiap kegiatan out bond yang dilakukan. Kegiatan outbond ini mencerminkan bagaimana kerja-kerja yang akan nantinya mereka lakukan selama ada di kepengurusan UKK dan Puskomda.

Mejelang zuhur, kegiatan out bond ini diakhiri, dan menandakan Kegiatan Up Grading untuk pengurus UKK dan Puskomda tahun ini juga berakhir. Namun demikian, mereka baru saja memulai langkah awal mereka untuk berjalan selama satu tahun kedepan yang tentunya telah menunggu berbagai tantangan yang siap menghadang langkah. “Kalau nanti di perjalanan ini kita merasa lelah dalam menjalankan amanah dakwah ini, ingatlah masa-masa kita bakar jagung bersama saat up grading ini” celetuk salah seorang DPO mengakhiri kegiatan ini.

Selasa, 03 Januari 2012

Amplop

Aku bongkar lemari lama, mencari sesuatu yang mungkin bisa mengingatkanku ke masa lalu. Sebuah masa yang bisa aku jadikan pelajaran, melihat jejak kehidupan yang telah aku buat. Bersama orang-orang disekitarku, ada orang tua, saudara dan teman-teman. Mereka semua telah bersama-sama denganku menciptakan sejarah, sejarah untuk diriku. Yang kadang kala membuatku tersenyum mengenangnya, membuatku malu dan begitu banyak rasa lain yang tak bisa diungkapkan.

Aku temukan sebuah map transparan berwarna kuning, kulihat di sana ada rapor SD ku, SMP dan SMA. Tapi ada satu yang yang lebih menggoda mata dan tanganku untuk meraihnya. Sebuah amplop berwarna putih yang masih tertutup rapi, aku ingat dulu amplop itu tidak ditutup ketika aku menerimanya sehinga dengan mudah bisa kubuka lalu mengambil selembar kertas yang ada di dalamnya, lebih tepatnya sebuah surat.

Beberapa tahun lalu aku menerimanya, disana tertulis (aku hanya mengira, aku lupa apa tulisan tepatnya) LULUS. Sebuah kata singkat yang membuatku lega, karena tulisan itu sangat begitu berarti bahkan sampai membuat beberapa temanku menangis karena mereka mendapatkan tulisan lain disurat yang mereka terima. Sedang aku, kusimpan surat itu baik-baik, ku masukkan kembali ke dalam amplopnya, ku buka penutup perekat amplopnya lalu ku katupkan penutup amplop itu hingga merekat serekat-rekatnya.

Belum pernah kubuka sejak saat itu hingga sekarang, amplop yang kuterima ketika di penghujung masa SMP ku. Tersimpan banyak kenangan di sana, yang sebagian kadang ingin waktu membawaku ke sana lagi. Hanya ku pandangi, belum akan kubuka hingga saatnya tiba. Saat yang aku sendiri tidak tahu itu kapan. Biarlah ia terus menjadi saksi bisu dari bagian kecil sejarah hidupku. Sejarah yang bersambung hingga kini.

Senin, 21 November 2011

Kultwit Asmanadia Tentang Bagaimana Menulis Cerita

KoPas >> http://forumlingkarpena.net
  1. Cari cara untuk selalu mencatat setiap ide menarik
  2. Temukan bentuk tulisan. Apakah akan dibuat dari A-Z alurnya linear biasa. Atau dimulai dari klimaks, bahkan akhir cerita
  3. Buat outline sederhana bagaimana tulisan akan bergerak. Bukan keharusan tapi akan sangat membantu bagi pemula
  4. Buat opening yang memikat. Hindari lead cerita yang biasa-biasa aja. Be creative!
  5. Beri nyawa pada tokoh-tokohmu.
  6. Garap setting (waktu/tempat) untuk memperkuat cerita. Beri warna lokal sesuai kebutuhan
  7. Kenapa sebuah cerita hambar atau terasa monoton, karena tidak ada konflik/konflik tidak tergarap! Perhatikan konflikmu
  8. Olah setiap unsur cerita dengan sabar. Beri perhatian pada detail yang harus dimunculkan agar logika cerita mantap
  9. Hindari kebetulan dalam cerita, kecuali bisa dipertanggungjawabkan. Khususnya untuk penyelesaian cerita.
  10. Saring dialog, buang yang tidak berfungsi.
  11. Temukan formula ending yang pas, tanpa harus berpanjang-panjang kalimat.
  12. Tentang ending lagi, akhir cerita yang baik meninggalkan gema lebih lama di hati pembaca. Jangan sia-siakan ending
  13. Batasi ego-mu sebagai penulis. Tokoh-tokoh muncul sesuai karakter dalam ceritamu, tokoh-tokoh itu bukan dirimu.
  14. Mematikan tokoh untuk memberi kejutan dalam cerita... cari cara lain yang tidak klise:
  15. Biasakan memulai dengan basmalah sebelum menulis, lalu mulailah menulis dengan hatimu
  16. Belajar setia & bertanggung jawab bukan hny dlm upaya sakinah bersamamu /berkeluarga, jg dlm menyelesaikan ceritamu
  17. Menulis untuk diselesaikan. Never ever give up on your stories. Give them chance!
  18. Kegigihanmu dlm menyelesaikan cerita yg sudah kamu mulai mencerminkan kegigihanmu dlm menghadapi persoalan kehidupan
  19. Beri judul yang menarik untuk ceritamu
  20. Menulis itu cara lain berbagi. Hilangkan ketakutan/tidak pede dan excuse lain dalam mengirim cerita ke media

Minggu, 13 November 2011

Ini Dia, Cara Efektif Membaca Buku

KoPas dari --http://www.flpjakarta.com/?p=4

Punya banyak koleksi buku? Masih ingatkah Anda, buku apa saja yang pernah dibaca dan apa inspirasi yang Anda dapatkan dari buku itu? Jika Anda menjawabnya, “Aduh, sudah lupa”, atau bahkan sama sekali tak ada kesan dari buku yang Anda baca, bisa jadi, cara membaca yang diterapkan selama ini tidak efektif. Penulis buku “101,5 Inspirasi Kecerdasan Emosional Anak Muda” yang juga pakar EQ, Anthony Dio Martin membagi 3 cara yang bisa diterapkan untuk membaca secara efektif dan mendapatkan manfaat dari apa yang Anda baca. Apa saja triknya?

Pertama, terapkanlah teknik membaca kontemplatif. “Ketika membaca buku, jangan dari awal sampai akhir lewat begitu saja, kemudian lupa apa yang dibacanya,” kata Anthony, di arena Pesta Buku Jakarta 2011, di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (3/7/2011).

Bagaimana cara membaca kontemplatif? Anthony menjelaskan, saat membaca buku, peganglah pensil atau pulpen. Beri catatan pada bagian yang menurut Anda menarik. Catatan itu bisa berupa komentar, ketidaksamaan pendapat atau apa pun.

“Itu kan buku Anda sendiri, tidak masalah jadi penuh coretan. Caranya, pegang buku, pegang pensil dan bolpen, corat coret. Biar saja. Kasih komentar di bagian yang dibaca. Coretan ini akan melatih, mencerdaskan pikiran Anda. Tandai, kasih komentar. Lingkari, kasih tanda seru atau memberi pendapat tentang apa yang Anda baca. Misal, anda tidak suka, tidak sependapat,dan sebagainya. Jangan biarkan buku tetap rapi,” paparnya.

Trik kedua, buatlah mind mapping. Caranya, membuat garis besar isi buku setelah selesai membacanya.

Dan ketiga, berikan catatan pada notes kecil untuk mencatat ide yang muncul dari buku yang Anda baca. “Pengetahuan tidak ada artinya kalau tidak memunculkan ide. Misalnya, bikin catatan-catatan dari baca buku ini (yang dibaca), apa yang Anda dapatkan. Sebuah buku akan berkesan kalau berhasil membuat kita terinspirasi dan membuat kita punya ide untuk melakukan sesuatu,” kata Anthony.

Sumber: kompas.com

Kamis, 10 November 2011

Hukum Menulis Cerpen


Ditulis tanggal : 10 - 11 - 2011 | 10:27:12

ditulis oleh Awy Ameer Qolawun, FLP Arab Saudi.

CoPas dari : http://forumlingkarpena.net/kritik_sastra/read/hukum_menulis_cerpen


Sebagai penikmat sastra –dan kadang-kadang iseng menulis karya sastra– pernah terlintas di benak saya bagaimana hukum menulis cerpen (apalagi novel)? Bukankah ada seperti unsur membohongi gitu? Menulis cerpen itu kan mengarang (insya') dan mengarang itu kan mengada-ada –heheh–, apa nggak "ngapusi", membohongi? Kan tokoh-tokohnya, kejadiannya, latar belakangnya, tempat kejadiannya; bias jadi rekaan semua,walau diangkat dari kejadian sehari-hari dengan merubah pelakunya.

Hal ini pernah merisaukan pikiran saya lumayan agak lama, sebelum saya mendiskusikannya dengan beberapa Guru-Guru Besar saya yang masing-masing memberikan jawaban berbeda sesuai dengan wijhah nadhor (sudut pandang) masing-masing, meski inti jawaban adalah sama.

Cerpen, dalam istilah Arab disebut "Riwayah" atau "qisshoh qoshiroh" atau "usthuroh" (tapi kalau ini lebih tepatnya berarti legenda); itu tidak ada hukum yang pasti dalam ilmu fiqih, maksudnya tidak ada bab khusus dalam ilmu fiqih yang membahas tentang itu. Berbeda dengan menggambar –baik 2 dimensi atau 3 dimensi­– yang terdapat dalil syariat sekaligus terjadi berbagai macam ikhtilafu-r Ro’yi (perbedaan pendapat) antar para fuqoha’ (pakar fiqih).

Maka jika melihat pada ketiadaan syariat memberikan hukum jelas terhadap sesuatu, bisa jadi menulis cerpen itu termasuk Mubah; namun karena faktor tertentu, ia bisa jadi juga haram, makruh, atau malah berpahala (begitu pula hukum membacanya) merujuk pada kaidah "al-ashlu fis syai-i al-ibahah ma lam yadullad dalil ala tahrimih"; asal segala sesuatu adalah boleh, selama tak ada indikator pengharaman.

Karena sejak dulu di dunia Arab –yang darinya terlahir empat madzhab itu– cerpen berkembang pesat, mulai "Kalilah wa Dimnah", "Alfu Lailah wa Lailah", "Qeis Majnun Layla" dan sebagainya. Dan tak satupun ulama madzhab yang meributkan apalagi memperselisihkannya. Bahkan sastra Arab sendiri telah jauh berkembang sejak pada masa sebelum Islam. Dan siapapun tahu bahwa cerpen masuk pada bagian ilmu Adab, atau Sastra

Sekedar untuk diketahui juga, Nabi Saw. diutus saat bangsa Arab berada dalam masa keemasan sastra mereka. Makanya Al-Qur’an turun dengan tingkat sastra yang ketinggiannya tidak bisa ditandingi oleh siapapun.

Secara to the point, cerpen itu dalam cara menghukuminya masuk pada kaidah "lil wasa-il hukmul maqashid", tergantung penggunaan. Sederhananya, cerpen adalah hanya sebuah alat, wasilah, atau perantara. Maka bisa jadi ia berpahala kalau mengantarkan pembacanya ingat pada Allah, seperti fiksi-fiksi Islamy. Berdosa bahkan haram seperti novel-novel yang membangkitkan syahwat dan mengarahkan pembacanya pada maksiat. Bisa juga ia tak bernilai pahala atau dosa, seperti cerpen-cerpen yang fungsinya sekedar pelepas lelah, atau cerpen buat anak-anak, fiksi-fiksi fantasi, dan seterusnya.

Lepas daripada itu, bertutur dengan menyelipkan pendidikan, pemikiran, nasehat melalui media ini sebenarnya adalah salah satu uslub syariah (metode syariat). Lihat dalam Al-Qur'an atau Hadits, banyak sekali cerita-cerita bukan? Walau tentu saja kisah nyata.

Oleh karenanya, menulis sebuah cerpen bisa "ada gunanya" setelah memenuhi beberapa kriteria, apalagi kita adalah seorang muslim yang dituntut tidak boleh membuang waktu terhambur begitu saja. Semisal menulisnya untuk tujuan dakwah, dengan menyisipkan nilai-nilai agama di dalamnya, mengembangkan kreativitas dan daya imajinasi, tidak mengganggu kewajiban, tidak ada unsur sengaja membohongi, membuat fitnah, memprovokasi, menjatuhkan nama baik, dan seterusnya.

Memukul rata bahwa membuat cerpen adalah "ngapusi", maka jadinya haram; adalah tentu tidak tepat. Sebab semua tahu bahwa cerpen adalah sastra, adab, dan dari dulu, tak ada satupun ulama yang meributkan adab. Apalagi sampai membid'ahkan dengan alasan tak ada di zaman Nabi. Kentara jika kurang memahami sejarah dan Uslub Qur’ani itu sendiri.

Alhasil, cerpen itu tergantung niat penulisnya, bisa jadi ia mubah, makruh, haram, sunnah, bahkan wajib. Bisa jadi ia berpahala, tak bernilai apa-apa, bahkan berdosa; semua kembali ke masing-masing penulis dan apa tujuannya.

Akhirnya, yang terpenting adalah niat, tak hanya cerpen, semua jenis dan model tulisan pun begitu, sebab ia adalah hanya sarana saja. Ya seperti makan, minum itu; asalnya kan mubah, bisa jadi bernilai ibadah kalau kita niatkan untuk suplemen biar giat sholat, atau malah dosa kalau diniatikan biar semangat saat hendak melakukan dosa. So, innamal a'malu binniyyah. Wallahu a'lam :) (*)


Sabtu, 01 Oktober 2011


Apa sih yang didapat dari menulis? Honor? Ketenaran? Penyaluran hobi?

Dalam wawancaranya dengan sebuah harian nasional, Clara Ng – seorang penulis yang telah menghasilkan puluhan buku cerita anak dan novel – mengatakan bahwa menulis adalah satu-satunya cara agar tetap ‘waras’. Melalui tulisannya, Clara menyalurkan ide-idenya, kegelisahannya dan pemikirannya. Bagi Bang Jonru, founder Writers Academy, menulis adalah part of his life. Bagi saya – yang ingin tulisan saya ‘beredar’ di media cetak – menulis sama dengan konsisten dan disiplin.

Ketika pertama kali tulisan saya muncul di sebuah majalah anak-anak, wahh.. senangnya luar biasa. Padahal honornya tidak luar biasa, hehehe…. Setelah yang pertama itu, saya ingin tulisan saya lainnya bisa dimuat. Bukan cuma di satu media cetak, tetapi di banyak media cetak yang berbeda. Kalau bisa sih menjadi penulis tetap. Berhubung sampai sekarang belum ada yang menawari, saya sendiri yang membuat jadwal kapan harus mengirim tulisan ke media A, kapan waktunya menulis untuk media B, dan seterusnya.

Kelihatannya mudah, tetapi prakteknya sama sekali tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namanya juga manusia, inginnya sih hari ini mengirim tulisan ke media, minggu depan dimuat, bulan depan ditawari jadi kontributor tetap, tiga bulan kemudian menerbitkan buku dan langsung best seller, hehehe….

Padahal kenyataannya tidak bisa seperti itu. Setiap sesuatu itu perlu proses dan perlu waktu. Kuncinya adalah konsisten dan disiplin. Karena saya ingin ingin tulisan saya dimuat di media cetak, ya saya harus rajin mengirim tulisan.

Long journey begins with one small step

Berapapun jauhnya jarak yang harus ditempuh, kalau kita mulai menapakinya walaupun dengan langkah kecil sekalipun, pada akhirnya kita akan sampai di garis finish. Namun bila kita tidak mulai melangkah, kita tidak akan pernah tiba di garis finish, walaupun jarak yang harus ditempuh amatlah dekat.

Jadi, mulailah konsisten dan disiplin dengan apapun yang ingin Anda wujudkan, apapun itu. Ngomong-ngomong soal konsisten dan disiplin, tulisan ini adalah salah satu wujud konsistensi dan disiplin saya sebagai kontributor tetap PenulisLepas.com. Konsisten untuk terus menulis di PenulisLepas.com. Disiplin dengan jadwal mengirim tulisan yang sudah saya buat. Mudah-mudahan untuk selanjutnya saya bisa lebih sering sharing banyak hal melalui tulisan-tulisan saya. Semoga!

copas dari: http://www.penulislepas.com/menulis-konsisten-disiplin

Senin, 12 September 2011

Sedikit Ketidakpedulian


Sabtu 10 september 2011 saya dajak oleh salah seorang teman semi lama alias teman yang jarang bertemu kesebuah pusat perbelanjaan di kota padang ini. Teman saya tersebut berencana melihat-lihat tas, lalu jika mungkin akan dibeli yang menjadi pilhannya.

Ini adalah kunjungan pertama saya ke pusat perbelanjaan ini semenjak gempa hebat 31 september 2009 silam. Jika tak diajak teman saya ini, mungkin entah kapan saya akan melongok ke lambang kehidupan modern ini. Tak ada minat saya kesana semenjak gempa itu, meskipun tempat telah kembali baik . namun tak disangka dalam kunjungan kali pertama sejak gempa itu ada hal menarik yang membuat saya ingin berkomentar.

Ketika itu waktu shalat ashar telah masuk. Teman saya masih sibuk berputar-putar seraya melirikkan mata ke barang-barang yang ada. Sedang waktu terus berjalan, dia mash bingung untuk memilih barang, sedang saya masih setia menemaninya sambil berdiri di atas lantai keramik putih pusat perbelanjaan ini. Waktu ashar makin menipis.

Akhirnya setelah urusannya dengan barang-barang itu selesai, kami berdua berjalan menuju arah selatan di lantai dua pusat perbelanjaan tersebut. Di bagian paling ujung sekali ada beberapa kios yang masih belum dihuni, kami berbelok kearah kiri. Di sana telah berdiri beberapa orang, mereka sedang menunggu temannya yang sedang ada keperluan di toilet lantai dua tersebut.

Sebelumnya saya tidak menyangka kalau di sana juga ada mushalla. Saya mengira hanya ada toilet, karena tak ada tanda-tanda atau ciri yang menanadakan keberadaan sebuah mushalla. Gambarannya lebih kurang seperti ini (bagi yang sudah pernah kesana akan tahu), ruangan dengan ukuran 8x8 meter, lantai keramik putih dengan satu pintu masuk yang di depan selalu lembab oleh air. Tidak seperti ruang lain semisal pertokoan yang ada disana, cat di ruangan ini sedikt tak terawat. Di ruangan itu terdapat dua sejadah yang mewakili dua shaf. Setelah saya hitung shaf pertama cukup untuk sembilan orang sedang shaf kedua hanya untuk lima orang. Itulah lebih kurang gambaran ruangannya dalam pandangan saya. Saya menyebutnya ruangan karena tak pantas menurut saya disebut mushalla untuk ukuran gedung mall yang megah ini.

Ketika saya beranjak meningggalkan ruangan itu, menyisakan kejanggalan ketika saya melewati pertokoan yang ada di pusat perbelanjaan tu, begitu gemerlap dan modern. Sedang di sana ada sebuah tempat ibadah yang yang tak tersentuh “keindahan”. Bukan berarti tempat ibadah itu harus megah dan ikut gemerlap. Namun ruangan itu terasa tidak diperhatkan dan dipedulikan oleh sipemilik tempat ini. Seakan-akan anggapannya akan lebih banyak orang yang mengunjungi pertokoan daripada mushalla tu, sehingga faslitas mushalla tak perlu bagus dan nyaman.

Memang benar tujuan orang kesana adalah untuk berbelanja, bukan untuk pergi shalat. Namun bukankah rata-rata orang yang kesana adalah muslim yang ketika datang waktu shalat mereka harus shalat. Atau barangkali sipemilik gedung sudah tahu bahwa pengunjung tempat ini takkan peduli dengan shalat ketika datang panggilan shalat. Mungkin, sehingga tak perlu terlalu dirisaukan masalah fasilitas yang satu ini.

Dari pengalaman ini saya bisa merasakan, begtu telah jauhnya kita dari Tuhan pada zaman sekarang ini. Gemerlap modernitas telah melupakan kita akan hari-hari abadi yang tak lama lagi akan dihadapi oleh setiap manusia yang hidup diatas dunia ini. Dunia yang fana ini telah berhasil menipu kita.