Minggu, 12 Januari 2014
Celoteh-Celoteh 2014. Celoteh ?
Jumat, 10 Januari 2014
Jual Beli Wajah 2014
Jumat, 20 Desember 2013
“..................................MUSRIK !!!!”......................???
Kamis, 12 Desember 2013
Jumat, 18 Oktober 2013
Sabtu, 28 September 2013
my Jogging
![]() |
| Lapangan FIK UNP |
Jumat, 27 September 2013
PEmbuka CakRawala??
Sabtu, 21 September 2013
TEMPAYAN RETAK
Jumat, 20 September 2013
MENGHITUNG JUMLAH KEPALA
TRANSFORMASI
Kamis, 19 September 2013
Garam si kakek tua
Selasa, 19 Juni 2012
Forkimas in "Pemuda di Persimpangan Jalan"
| Foto bareng setelah seminar |
Catatan kecil pas On Line
Rabu, 29 Februari 2012
Waktu untuk perkara yang bermanfaat

Allah telah memberikan begitu banya nikmat dan karunia kepada manusia, tak terhitung telah berapa banyak nikmat yang telah Dia berikan. Bahkan hidayah untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan adalah termasuk salah satu nikmat yang perlu untuk disyukuri. Namun terkadang hal seperti itu sering dilupakan.
Salah satu nikmat penting yang Allah karuniakan kepada manusia adalah waktu. Secara umum waktu itu adalah sejak manusia dilahirkan sampai nanti ajal menjemput. Waktu ini dipergunakan manusia untuk menjalani kehidupan dengan berbagai macam aktivitas di dalamnya, mulai dari menuntut ilmu, makan, berolahraga dan lain sebagainya tergantung kepada kepentingan masing-masing.
Pada sebuah hadits dalam kitab Arba’in yang disusun oleh imam An Nawawi, Abu Hurairah ra. Berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Diantara tanda sempurnanya islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya). Dalam hadis ini memang tidak secara jelas dibicarakan masalah waktu, namun secara tidak langsung hadits ini menyinggung masalah waktu. Terdapat kata-kata “hal-hal yang tidak bermanfaat”, tentu ini menyangkut masalah waktu. Jika ada hal yang tidak bermanfaat maka tentu ada juga hal yang bermanfaat.
Dalam kitab Al Wafi yang merupakan penjelasan dari hadits-hadits pada kitab Arba’in, Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu (penulis kitab Al Wafi) menjelaskan bahwa perkara yang mendatangkan manfaat bagi manusia adalah perkara-perkara yang berkaitan dengan kebutuhan manusia paling mendasar, meliputi: sandang, pangan dan papan. Juga perkara yang berhubungan dengan keselamatan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Diluar masalah-masalah ini, maka tergolong kepada perkara-perkara yang tidak bermanfaat.
Dengan demikian setiap manusia haruslah berusaha untuk selalu menggunakan waktunya untuk perkara-perkara yang bermanfaat sebagai bentuk rasa syukur manusia tersebut kepada pencipta yang telah memberikannya sepotong waktu untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Dan agar Allah memberikan balasan dan nikmat terbaik yaitu surga ketika putaran waktu di semesta alam ini berakhir. (yk/23/02/2012)
Rabu, 22 Februari 2012
Bye-bye library.nu gratisan
Minggu, 29 Januari 2012
Up Grading UKK dan Puskomda 2012
Jam telah menunjukkan pukul 8 pagi saat beberapa orang terlihat berkumpul di depan ruang T27 komplek gedung lokal mata kuliah umum UNP. Mereka adalah para pengurus UKK pada periode tahun 2012 ini. Para mahasiswa yang mengemban amanah dakwah di salah satu PKM di kampus UNP.
Tentu ada suatu hal yang menggerakkan hati para pengurus-pengurus UKK yang baru ini untuk datang ke lokasi itu. Tepatnya mereka akan melakukan sebuah kegiatan perdana bersama pada periode ini, yaitu Up Grading. Sebuah kegiatan yang ditujukan untuk mempererat rasa persaudaraan dan persatuan diantara pengurus sebelum mereka menjalankan amanah yang telah dipercayakan.
Up Grading yang dilaksananakn selama dua hari ini, yaitu tanggal 21-22 januari 2012 tidak hanya diikuti oleh teman-teman yang mengelola UKK kedepannya, disana ada juga para pengurus Puskomda. Yang mana saat ini Puskomda SUMBAR diamanahkan kepada UKK, sehingga dibentuklah kepengurusan sendiri untuk mengelola Puskomda ini.
Saat pembukaan selain pengurus hadir juga Bapak Sulaiman selaku pembimbing dan hadir juga Ibu Nurlela yang lebih akrab di sapa “Bunda” yang sebelumnya adalah pembimbing UKK. Ada juga pemateri, bapak Hafiz sebagai penyampai materi untuk sesi pertama.
Materi sesi pertama mengenai urgensi dakwah kampus, pemateri memaparkan kepada seluruh pengurus kenapa harus ada dakwah di kampus. Dan juga tentunya diharapkan setelah mendapat materi ini para pengurus yang baru memahami alasan kenapa mereka harus melaksanakan dakwah lewat program-program yang akan segera mereka laksanakan sebagai pengurus UKK.
Sekitar jam sepuluh pagi materi pertama selesai, berikutnya para peserta Up Grading akan menuju kelokasi selanjutnya. Ke BLPT Lubuk Lintah yang berlokasi dekat dengan kampus IAIN IB. berangkat dengan dua bus kota, tiba disana sekitar jam sebelas, beberapa saat kemudian panitia mensosialisasikan rentetan kegiatan selama Up Grading kepada seluruh peserta yang hadir.
Setelah sholat zuhur dan makan siang peserta disuguhi materi tentang UKK, dalam hal ini langsung disampaikan oleh ketua DPO UKK, Nofi Nurman. Beliau menjelaskan secara rinci apa itu UKK kepada para peserta up grading kemudian disambung dengan materi tentang Puskomda setelah Ashar yang disampaikan oleh Bejo Kaswadi yang mewakili ketua Puskomda yang tidak bisa hadir pada saat itu.
Malamnya para peserta menginap di BLPT, disana telah tersedia penginapan untuk putra dan putri. Pada malam harinya aktivitas dilaksanakan di penginapan masing masing yang dibimbing oleh panitia dan instruktur. Seperti yang dilakukan oleh peserta putra melakukan ta’arufan atau berkenalan lebih dalam lagi antara sesama pengurus, kemudian diakhiri dengan bakar jagung yang menambah keceriaan dan keakraban.
Esok paginya setelah selesai sarapan peserta melakukan kegiatan diluar ruangan, melakukan kegiatan out bond. Untuk kegiatan ini berbeda dengan hari sebelumnya dimana kegiatan untuk peserta putra dan putri terpisah. Pada kegiatan ini peserta dapat mengambil pelajaran dari setiap kegiatan out bond yang dilakukan. Kegiatan outbond ini mencerminkan bagaimana kerja-kerja yang akan nantinya mereka lakukan selama ada di kepengurusan UKK dan Puskomda.
Mejelang zuhur, kegiatan out bond ini diakhiri, dan menandakan Kegiatan Up Grading untuk pengurus UKK dan Puskomda tahun ini juga berakhir. Namun demikian, mereka baru saja memulai langkah awal mereka untuk berjalan selama satu tahun kedepan yang tentunya telah menunggu berbagai tantangan yang siap menghadang langkah. “Kalau nanti di perjalanan ini kita merasa lelah dalam menjalankan amanah dakwah ini, ingatlah masa-masa kita bakar jagung bersama saat up grading ini” celetuk salah seorang DPO mengakhiri kegiatan ini.
Selasa, 03 Januari 2012
Amplop
Aku bongkar lemari lama, mencari sesuatu yang mungkin bisa mengingatkanku ke masa lalu. Sebuah masa yang bisa aku jadikan pelajaran, melihat jejak kehidupan yang telah aku buat. Bersama orang-orang disekitarku, ada orang tua, saudara dan teman-teman. Mereka semua telah bersama-sama denganku menciptakan sejarah, sejarah untuk diriku. Yang kadang kala membuatku tersenyum mengenangnya, membuatku malu dan begitu banyak rasa lain yang tak bisa diungkapkan.
Aku temukan sebuah map transparan berwarna kuning, kulihat di sana ada rapor SD ku, SMP dan SMA. Tapi ada satu yang yang lebih menggoda mata dan tanganku untuk meraihnya. Sebuah amplop berwarna putih yang masih tertutup rapi, aku ingat dulu amplop itu tidak ditutup ketika aku menerimanya sehinga dengan mudah bisa kubuka lalu mengambil selembar kertas yang ada di dalamnya, lebih tepatnya sebuah surat.
Beberapa tahun lalu aku menerimanya, disana tertulis (aku hanya mengira, aku lupa apa tulisan tepatnya) LULUS. Sebuah kata singkat yang membuatku lega, karena tulisan itu sangat begitu berarti bahkan sampai membuat beberapa temanku menangis karena mereka mendapatkan tulisan lain disurat yang mereka terima. Sedang aku, kusimpan surat itu baik-baik, ku masukkan kembali ke dalam amplopnya, ku buka penutup perekat amplopnya lalu ku katupkan penutup amplop itu hingga merekat serekat-rekatnya.
Belum pernah kubuka sejak saat itu hingga sekarang, amplop yang kuterima ketika di penghujung masa SMP ku. Tersimpan banyak kenangan di sana, yang sebagian kadang ingin waktu membawaku ke sana lagi. Hanya ku pandangi, belum akan kubuka hingga saatnya tiba. Saat yang aku sendiri tidak tahu itu kapan. Biarlah ia terus menjadi saksi bisu dari bagian kecil sejarah hidupku. Sejarah yang bersambung hingga kini.
Senin, 21 November 2011
Kultwit Asmanadia Tentang Bagaimana Menulis Cerita
- Cari cara untuk selalu mencatat setiap ide menarik
- Temukan bentuk tulisan. Apakah akan dibuat dari A-Z alurnya linear biasa. Atau dimulai dari klimaks, bahkan akhir cerita
- Buat outline sederhana bagaimana tulisan akan bergerak. Bukan keharusan tapi akan sangat membantu bagi pemula
- Buat opening yang memikat. Hindari lead cerita yang biasa-biasa aja. Be creative!
- Beri nyawa pada tokoh-tokohmu.
- Garap setting (waktu/tempat) untuk memperkuat cerita. Beri warna lokal sesuai kebutuhan
- Kenapa sebuah cerita hambar atau terasa monoton, karena tidak ada konflik/konflik tidak tergarap! Perhatikan konflikmu
- Olah setiap unsur cerita dengan sabar. Beri perhatian pada detail yang harus dimunculkan agar logika cerita mantap
- Hindari kebetulan dalam cerita, kecuali bisa dipertanggungjawabkan. Khususnya untuk penyelesaian cerita.
- Saring dialog, buang yang tidak berfungsi.
- Temukan formula ending yang pas, tanpa harus berpanjang-panjang kalimat.
- Tentang ending lagi, akhir cerita yang baik meninggalkan gema lebih lama di hati pembaca. Jangan sia-siakan ending
- Batasi ego-mu sebagai penulis. Tokoh-tokoh muncul sesuai karakter dalam ceritamu, tokoh-tokoh itu bukan dirimu.
- Mematikan tokoh untuk memberi kejutan dalam cerita... cari cara lain yang tidak klise:
- Biasakan memulai dengan basmalah sebelum menulis, lalu mulailah menulis dengan hatimu
- Belajar setia & bertanggung jawab bukan hny dlm upaya sakinah bersamamu /berkeluarga, jg dlm menyelesaikan ceritamu
- Menulis untuk diselesaikan. Never ever give up on your stories. Give them chance!
- Kegigihanmu dlm menyelesaikan cerita yg sudah kamu mulai mencerminkan kegigihanmu dlm menghadapi persoalan kehidupan
- Beri judul yang menarik untuk ceritamu
- Menulis itu cara lain berbagi. Hilangkan ketakutan/tidak pede dan excuse lain dalam mengirim cerita ke media
Minggu, 13 November 2011
Ini Dia, Cara Efektif Membaca Buku
KoPas dari --http://www.flpjakarta.com/?p=4Punya banyak koleksi buku? Masih ingatkah Anda, buku apa saja yang pernah dibaca dan apa inspirasi yang Anda dapatkan dari buku itu? Jika Anda menjawabnya, “Aduh, sudah lupa”, atau bahkan sama sekali tak ada kesan dari buku yang Anda baca, bisa jadi, cara membaca yang diterapkan selama ini tidak efektif. Penulis buku “101,5 Inspirasi Kecerdasan Emosional Anak Muda” yang juga pakar EQ, Anthony Dio Martin membagi 3 cara yang bisa diterapkan untuk membaca secara efektif dan mendapatkan manfaat dari apa yang Anda baca. Apa saja triknya?
Pertama, terapkanlah teknik membaca kontemplatif. “Ketika membaca buku, jangan dari awal sampai akhir lewat begitu saja, kemudian lupa apa yang dibacanya,” kata Anthony, di arena Pesta Buku Jakarta 2011, di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (3/7/2011).
Bagaimana cara membaca kontemplatif? Anthony menjelaskan, saat membaca buku, peganglah pensil atau pulpen. Beri catatan pada bagian yang menurut Anda menarik. Catatan itu bisa berupa komentar, ketidaksamaan pendapat atau apa pun.
“Itu kan buku Anda sendiri, tidak masalah jadi penuh coretan. Caranya, pegang buku, pegang pensil dan bolpen, corat coret. Biar saja. Kasih komentar di bagian yang dibaca. Coretan ini akan melatih, mencerdaskan pikiran Anda. Tandai, kasih komentar. Lingkari, kasih tanda seru atau memberi pendapat tentang apa yang Anda baca. Misal, anda tidak suka, tidak sependapat,dan sebagainya. Jangan biarkan buku tetap rapi,” paparnya.
Trik kedua, buatlah mind mapping. Caranya, membuat garis besar isi buku setelah selesai membacanya.
Dan ketiga, berikan catatan pada notes kecil untuk mencatat ide yang muncul dari buku yang Anda baca. “Pengetahuan tidak ada artinya kalau tidak memunculkan ide. Misalnya, bikin catatan-catatan dari baca buku ini (yang dibaca), apa yang Anda dapatkan. Sebuah buku akan berkesan kalau berhasil membuat kita terinspirasi dan membuat kita punya ide untuk melakukan sesuatu,” kata Anthony.
Sumber: kompas.com
Kamis, 10 November 2011
Hukum Menulis Cerpen

Ditulis tanggal : 10 - 11 - 2011 | 10:27:12
ditulis oleh Awy Ameer Qolawun, FLP Arab Saudi.
CoPas dari : http://forumlingkarpena.net/kritik_sastra/read/hukum_menulis_cerpen
Sebagai penikmat sastra –dan kadang-kadang iseng menulis karya sastra– pernah terlintas di benak saya bagaimana hukum menulis cerpen (apalagi novel)? Bukankah ada seperti unsur membohongi gitu? Menulis cerpen itu kan mengarang (insya') dan mengarang itu kan mengada-ada –heheh–, apa nggak "ngapusi", membohongi? Kan tokoh-tokohnya, kejadiannya, latar belakangnya, tempat kejadiannya; bias jadi rekaan semua,walau diangkat dari kejadian sehari-hari dengan merubah pelakunya.
Hal ini pernah merisaukan pikiran saya lumayan agak lama, sebelum saya mendiskusikannya dengan beberapa Guru-Guru Besar saya yang masing-masing memberikan jawaban berbeda sesuai dengan wijhah nadhor (sudut pandang) masing-masing, meski inti jawaban adalah sama.
Cerpen, dalam istilah Arab disebut "Riwayah" atau "qisshoh qoshiroh" atau "usthuroh" (tapi kalau ini lebih tepatnya berarti legenda); itu tidak ada hukum yang pasti dalam ilmu fiqih, maksudnya tidak ada bab khusus dalam ilmu fiqih yang membahas tentang itu. Berbeda dengan menggambar –baik 2 dimensi atau 3 dimensi– yang terdapat dalil syariat sekaligus terjadi berbagai macam ikhtilafu-r Ro’yi (perbedaan pendapat) antar para fuqoha’ (pakar fiqih).
Maka jika melihat pada ketiadaan syariat memberikan hukum jelas terhadap sesuatu, bisa jadi menulis cerpen itu termasuk Mubah; namun karena faktor tertentu, ia bisa jadi juga haram, makruh, atau malah berpahala (begitu pula hukum membacanya) merujuk pada kaidah "al-ashlu fis syai-i al-ibahah ma lam yadullad dalil ala tahrimih"; asal segala sesuatu adalah boleh, selama tak ada indikator pengharaman.
Karena sejak dulu di dunia Arab –yang darinya terlahir empat madzhab itu– cerpen berkembang pesat, mulai "Kalilah wa Dimnah", "Alfu Lailah wa Lailah", "Qeis Majnun Layla" dan sebagainya. Dan tak satupun ulama madzhab yang meributkan apalagi memperselisihkannya. Bahkan sastra Arab sendiri telah jauh berkembang sejak pada masa sebelum Islam. Dan siapapun tahu bahwa cerpen masuk pada bagian ilmu Adab, atau Sastra
Sekedar untuk diketahui juga, Nabi Saw. diutus saat bangsa Arab berada dalam masa keemasan sastra mereka. Makanya Al-Qur’an turun dengan tingkat sastra yang ketinggiannya tidak bisa ditandingi oleh siapapun.
Secara to the point, cerpen itu dalam cara menghukuminya masuk pada kaidah "lil wasa-il hukmul maqashid", tergantung penggunaan. Sederhananya, cerpen adalah hanya sebuah alat, wasilah, atau perantara. Maka bisa jadi ia berpahala kalau mengantarkan pembacanya ingat pada Allah, seperti fiksi-fiksi Islamy. Berdosa bahkan haram seperti novel-novel yang membangkitkan syahwat dan mengarahkan pembacanya pada maksiat. Bisa juga ia tak bernilai pahala atau dosa, seperti cerpen-cerpen yang fungsinya sekedar pelepas lelah, atau cerpen buat anak-anak, fiksi-fiksi fantasi, dan seterusnya.
Lepas daripada itu, bertutur dengan menyelipkan pendidikan, pemikiran, nasehat melalui media ini sebenarnya adalah salah satu uslub syariah (metode syariat). Lihat dalam Al-Qur'an atau Hadits, banyak sekali cerita-cerita bukan? Walau tentu saja kisah nyata.
Oleh karenanya, menulis sebuah cerpen bisa "ada gunanya" setelah memenuhi beberapa kriteria, apalagi kita adalah seorang muslim yang dituntut tidak boleh membuang waktu terhambur begitu saja. Semisal menulisnya untuk tujuan dakwah, dengan menyisipkan nilai-nilai agama di dalamnya, mengembangkan kreativitas dan daya imajinasi, tidak mengganggu kewajiban, tidak ada unsur sengaja membohongi, membuat fitnah, memprovokasi, menjatuhkan nama baik, dan seterusnya.
Memukul rata bahwa membuat cerpen adalah "ngapusi", maka jadinya haram; adalah tentu tidak tepat. Sebab semua tahu bahwa cerpen adalah sastra, adab, dan dari dulu, tak ada satupun ulama yang meributkan adab. Apalagi sampai membid'ahkan dengan alasan tak ada di zaman Nabi. Kentara jika kurang memahami sejarah dan Uslub Qur’ani itu sendiri.
Alhasil, cerpen itu tergantung niat penulisnya, bisa jadi ia mubah, makruh, haram, sunnah, bahkan wajib. Bisa jadi ia berpahala, tak bernilai apa-apa, bahkan berdosa; semua kembali ke masing-masing penulis dan apa tujuannya.
Akhirnya, yang terpenting adalah niat, tak hanya cerpen, semua jenis dan model tulisan pun begitu, sebab ia adalah hanya sarana saja. Ya seperti makan, minum itu; asalnya kan mubah, bisa jadi bernilai ibadah kalau kita niatkan untuk suplemen biar giat sholat, atau malah dosa kalau diniatikan biar semangat saat hendak melakukan dosa. So, innamal a'malu binniyyah. Wallahu a'lam :) (*)


