Berkunjung ke sini (bandara muara bungo)
mengingatkan saya pada wacana pembangunan bandara di Dharmasraya yang sempat didengungkan oleh pemerintahan pak AG beberapa tahun lalu. Ternyata hanya isapan jempol belaka. Saya pun bersyukur bandara itu tak jadi dibangun, Bisa dibayangkan berapa dana yang akan terkuras untuk membangun sebuah bandara di Dharmasraya ini yang belum tentu punya dampak positif signifikan, mending dibenerin dulu infrastruktur jalan darat yang masih jauh dari harapan.
Minggu, 26 Oktober 2014
Minggu, 07 September 2014
KerBau Asap
Balik ke si Kerbau dkk. si Kerbau bukan soksok an kebaratbaratan lho. Kalo si Barat seneng deket si api karana dingin. Si Kerbau nyari asap. Asap buat ngusir laletlalet nakal yang rubungi badan lumpur si Kerbaunya. Maklum aja si Kerbau seharian cari nafkah rumput bertualang melewati gunung sebrangi lembah. digembala dari pagi sampe sore, pas masuk kandang berebut rubungi asap.
percobaan ke2
Setelah sekian lama tak utak atik si CeDeEr
dimulai lagi beberapa hari lewat
ini WPAP kedua si beginer
alias Wheda's Pop Art Potrait
butuh sejumlah lagi mungkin baru nail lepel
Kamis, 26 Juni 2014
Stadion Dharmasraya
Dharmasraya jauh-jauh hari telah bersiap diri untuk menjadi tuan rumah Porprov Sumbar 2014 ini. Sebagai bukti dharmasraya sedang membangun sebuah stadion yang cukup layak untuk menggelar event tersebut. Stadion yang kabarnya menguras dana dikitaran 90 an Milyar rupiah ini berlokasi di kenagarian koto padang, kecamatan koto baru. Tepatnya berada di jalan lintas sumatera km 206, simpang masuknya berada di depan kampus STIKES-STMIK-STKIP Dharmasraya. Lokasi ini juga merupakan lokasi MTQ tingkat provinsi beberapa waktu lalu. Dari simpang tersebut ke stadion berjarak sekitar 300-san meter, ini Cuma kira-kira saja lho, soalnya waktu kesana saya ga sempat ngukur berapa pastinya. Di kompleks ini juga berlokasi SMA Unggul Dharmasraya dan kantor satpol PP.
Harapannya pasca event porprov, stadion ini memberikan dampak positif khususnya bagi orang-orang dharmasraya sendiri, paling tidak mulai tergerak untuk menjalani gaya hidup sehat.Dan lahir klub-klub bola dari dharmasraya yang mampu bertarung di kompetisi sepakbola indonesia. Paling tidak kompetisi level bawah aja dulu baru merangkak ke divisi-divisi selanjutnya, dan sampai bertarung di ISL juga harapannya. Biar semen padang ga sendirian aja, biar ada derby Sumbar gitu lho..
Saat ini, 23 juni 2014 stadion belum rampung sepenuhnya, masih ada beberapa proses pengerjaan. Tapi buat masbro-masbro yang ga sempat ke sana, nih saya share beberapa fotonya..
Harapannya pasca event porprov, stadion ini memberikan dampak positif khususnya bagi orang-orang dharmasraya sendiri, paling tidak mulai tergerak untuk menjalani gaya hidup sehat.Dan lahir klub-klub bola dari dharmasraya yang mampu bertarung di kompetisi sepakbola indonesia. Paling tidak kompetisi level bawah aja dulu baru merangkak ke divisi-divisi selanjutnya, dan sampai bertarung di ISL juga harapannya. Biar semen padang ga sendirian aja, biar ada derby Sumbar gitu lho..
Saat ini, 23 juni 2014 stadion belum rampung sepenuhnya, masih ada beberapa proses pengerjaan. Tapi buat masbro-masbro yang ga sempat ke sana, nih saya share beberapa fotonya..
Senin, 24 Februari 2014
DM to Padang 19 Peb 2014
Perjalanan DM-padang itu menempuh jarak rata-rata 200san km. itu kalau mengacu pada penanda kilometer yang ada di pinggir jalan dan titiknya ada tidak jauh dari depan rumah saya. benda bewarna kuning itu memang persis berdiri kaku di depan rumah saya.
Kalau berangkat ke padang dengan bus waktu tempuhnya bisa mendekati enam jam, kalau pakai jasa travel yang mobilnya berisi tujuh penumpang bisa lima jam. Kalau saya tidak terlalu merisaukan masalah jarak tempuh (kalau sedang tidak mengejar atau dikejar sesuatu). yang penting itu kenyamanan dan menikmati perjalanan, makanya saya lebih senang nunngang motor bila jalan dari Padang -DM atawa sebaliknya.
Nih, beberapa gambar yang sempat terjepret saat dijalan DM-Padang terakhir sebelum postingan ni terpampang....
Kalau berangkat ke padang dengan bus waktu tempuhnya bisa mendekati enam jam, kalau pakai jasa travel yang mobilnya berisi tujuh penumpang bisa lima jam. Kalau saya tidak terlalu merisaukan masalah jarak tempuh (kalau sedang tidak mengejar atau dikejar sesuatu). yang penting itu kenyamanan dan menikmati perjalanan, makanya saya lebih senang nunngang motor bila jalan dari Padang -DM atawa sebaliknya.
Nih, beberapa gambar yang sempat terjepret saat dijalan DM-Padang terakhir sebelum postingan ni terpampang....
| Sikabau |
| Pulau Punjung |
| Kiliran Jao |
| Tanjuang Godang |
| Simp. Tana Badontuang |
| Palangki |
| Muaro Kalaban |
| Sungai Lasi |
| Kota Solok |
| Nyaris perbatasan kab. solok n padang |
Kamis, 30 Januari 2014
pion baru: Merokok Membunuhmu?? Masa sih..
Beberapa hari yang lalu saya baru menyadari ada yang beda
dengan iklan rokok yang tayang di tipi-tipi, bukan beda karena ada produk rokok
yang baru karena memang terus ada merek-merek baru yang muncul. Tapi itu lo,
pesan dari pemerintah yang dititipkan disetiap iklan rokok. Kalau dulu sehabis
iklan rokok tayang muncul sekotak kalimat “Merokok dapat menyebabkan kanker,
serangan jantung bla-bli-blu-ble-blo-dan-seterusnya...”
Awalnya saya tak begitu memperhatikan, sesaat kemudian baru
menyadari ada yang beda. Saya tongkrongin tuh tipi nunggu iklan rokok
berikutnya lewat. Eh, benar saja “Rokok Membunuhmu” itu dia pesan yang muncul
plus gambar orang merokok dan tengkorak disampingnya plus juga kode 18+. Penasaran,
saya tanya atuak Gugel hari berikutnya. Kata tuak Gugel ada peraturan baru dari
pemerintah buat iklan-iklan rokok. Harus ganti kalimat sekarang dengan yang
lebih menohok. Kayaknya kalimat yang sebelumnya ga paten nakutin para pembeli
rokok.
Kalau dalam matematika ini namanya kontradiksi, pihak yang
jual rokok berusaha menarik orang buat beli produknya, pemerintah berusaha
mencegah orang buat beli. Lah jadinya kayak ada kompetisi, kalau kompetisi
tentu ada yang menang atau kalah, atau seri juga boleh. Kalau saya nilai sih
pemerintah udah kalah duluan dari produsen rokok. Kalau produsen rokok udah
nyiapain segudang amunisi buat menarik peminat. Kita bisa cek kok, mulai aja dari
iklan yang tayang di tipi, iklan tentang rokok yang keren tayang dengan bintang
iklan dan aksi yang jos markojos, habis tu baru deh nyempil pesan dari
pemerintahnya secepat kilat “cling” langsung hilang. Kalo iklan di bilboard,
poster, etc. iklan rokoknya gede, pesan pemerintah nonggok secuil dibawah.
Oke, untuk masalah iklan aja udah kalah. Belum lagi merek-merek
rokok jadi sponsor berbagai iven, mulai dari olah raga, siapa yang ga tau
Djarum Super Series ajang bulu tangkis bergengsi, dulu ada Liga Djarum Indonesia,
ada Coppa Dji Sam Soe, ada iven music A Mild Life dan berbagai even lainnya. Pemerintah
mana? Sosialisasi tentang pesan yang ingin disampaikan pemerintah aja ga pernah
kelihatan, bukannya ga ada. Atau mungkin saya aja yang ga pernah dengar kali ya..
Setelah dilihat lihat pemerintah masih kalah langkah, dan
sekarang langkah baru dibuat, dengan peraturan baru dengan pesan yang baru
juga. Tapi menurut saya, bukannya pesimis buat pemerintah, kayaknya jika ga ada
langkah yang lebih menggebrak dari pemerintah untuk menyampaikan pesannya,
kalau cuma sekedar ganti seonggok pesan nyempil di iklan en bungkus rokok yang
keren-keren ga bakal signifikan deh perubahannya, sama aja kayak kemarin-kemarin,
ga diperhatiin tuh pesan “Rokok Membunuhmu” paling cuma komentar : “Eh, ganti
lo pesannya”. So merokok membunuhmu? Jawaban orang yang pernah ditanyai : “merokok
ga merokok orang bakal mati juga” he..he..
Senin, 20 Januari 2014
Menyambangi Adityawarman
Awalnya saya tidak ada niat lho
mampir ke museum Adityawarman. Dan saya juga tidak menyangka akan masuk ke
museum itu. Padahal sudah berkali-kali saya datang ke taman di depan museum itu
untuk diskusi dengan anak2 calon penulis katanya dan memang sudah ada yang jadi
penulis sih. Berharap saya juga bisa jadi penulis makanya saya ikut
kegiatannya.
Biasanya diskusi sekali dua minggu
dan ditaman melati itulah biasanya diskusi, disana juga terletak museum
Adityawarman. Awalnya hari itu niatnya menghadiri rapat evaluasi, katanya. Evaluasi
kegiatan yang baru saja selesai dilaksanakan. mulai jam sepuluh pagi dan nanti
sekitar jam dua-an dilanjutkan dengan diskusi seperti biasa.
Setelah ditunggu-tunggu ternyata
tak ada yang datang-yang datang, kecuali mamang sudah ada beberapa
orang yang datang. Ada sekitar lima orang kalau saya tidak salah lihat :D. Namun
itu belum cukup, karena yang datang itu cuma dua orang yang panitia. Akhirnya dari
pada menung-menung lihat orang dua-dua-an, sedang kami berlimaan, mending liat-liat
barang di museum.
Awalnya saya kira museumnya cuma yang
berbentuk rumah gadang saja, setelah masuk dan terus jalan-jalan, rupanya di bagian
belakang masih ada koleksinya. Ini benar-benar pengalaman pertama saya masuk
museum. Meski sudah lebih lima tahun di Padang, baru kali ini saya sempat
menyambangi museum yang ada di kampung ini. Lebih kritisnya meski sudah berkali
kali datang lalu duduk melihat-lihat dari luar, baru kali ini juga masuk untuk
memastikan kalau didalamnya ada sisitivi.
Minggu, 19 Januari 2014
Penjepit Kertas, yang tak ter-perhatikan
![]() |
| teman_kecil_yg_terlupakan |
Ini namanya penjepit. Penjepit kertas-karena memang lebih
sering digunakan untuk menjepit kertas. Dan saya memanggilnya seperti itu,
mungkin bisa saja ada panggilan lainnya. Untuk menjepit benda-benda lainnya
juga bisa, bahkan bila mau menjepit telingapun bisa dengan ini. Jadi teringat
dengan main ampok-ampok-an jaman dulu, kalau kalah dijepit area sekitar wajah,
langganannya hidung dan telinga dijepit dengan penjepit jemuran. Bisa saja
penjepitnya diganti dengan yang satu ini.
Kalau buat para mahasiswa, spesiali buat mahasiswa tahun
akhir akrab dengan benda yang satu ini, tapi tak begitu ter-perhatikan dengan
jeli karena terlampok oleh ke-stresan mengejar-ngejar dosen pembimbing dan
urusan-urusan lainnya.
Padahal kalau dipikir-pikir fungsinya bisa sangat penting
sekali. Bayangkan saja draft proposal penelitian ataupun perbaikan-perbaikan
yang akan ditunjukkan ke dosen pembimbing itu kadang tebalnya bisa menghampiri
tebalnya novel Harry Potter. Kalau mau diklip tak ada rasanya klip untuk
tumpukan kertas setebal itu, kalau mau dijilid ya ga mungkinlah, skripsi atau
TA saja belum tentu di Acc dah dijiid aja. So, penjepit itulah solusi tepatnya.
Belakangan saya sering baca skripsi maupun TA mahasiswa yang
sudah lebih dulu wisuda. Pas di halaman ucapan terima kasih ataupun persembahan
belum ada secuil katapun yang saya temukan guna menyiratkan apresiasi untuk
benda satu ini, umumnya lebih banyak untuk orang-orang yang dekat dengan
penulis skripsi atau TA itu sendiri dan benda-benda terdekatnya seperti komputer,
laptop bahakan printer tapi tidak untuk penjepit kertas.
Ya kadang-kadang memang seperti itulah, karena pikir dan
rasa sudah terpenuhi dengan hal-hal yang membuat tertekan, hal-hal kecil yang
begitu membantu dapat terabaikan begitu saja. Meskipun murah dan kecil ucapkanlah
terimakasih buat objek satu ini.
Minggu, 12 Januari 2014
Celoteh-Celoteh 2014. Celoteh ?
Beberapa hari belakangan ini
banyak sekali sales yang datang kerumahku menawarkan produknya. Tidak hanya
datang tapi juga membombardir telingaku lewat layar kaca, lewat speaker radio.
Ada juga yang menyapaku di pinggir-pinggir jalan, di tiang listrik, hingga di pohon
pelindung di tepi jalan.
***
Sayup sayup terdengar suara ”orang
seperti inikah yang akan kau pilih?” aku celingukan. Tak ada seorangpun di
jalanan itu, lalu dari mana datangnya suara itu? Aku membatin dalam hati.
Kemudian suara itu muncul lagi. “Hei, aku disini. Apakah kamu tidak bisa
melihatku?” pohon yang telah kulewati bergerak-gerak, bagian kulitnya yang
terkelupas seperti mulut yang sedang berbicara. “tidakkah kau meliahat benda
yang ditancapkan dikeningku ini?” aku mendongak dan melihat sebuah gambar orang
berjas dan berdasi dengan kata-kata meminta mencoblos nomor tertentu. Kemuadian
orang dalam gambar itu melambaikan tangannya padaku. “Orang seperti inikah yang
akan kau pilih?” pohon itu terus bertanya. Aku diam saja, dan segera beranjak
dari tempat itu, meninggalkan pohon aneh yang terus berceloteh.
Aku tiba di persimpangan jalan.
“Hai..” seseorang seperti menyapaku, aku mendongakkan kepala dan benar saja
seorang perempuan sedang melambaikan tangannya dalam sebuah bilboard besar yang
membelah di atas jalanan. “Besok pilih aku ya jangan lupa lho...” mengakhiri
kalimatnya dengan menyipitkan sebelah mata, “Ting!” ucapku. Kubiarkan saja
perempuan itu terus berceloteh. Perempuan itu terus berceloteh pada orang-orang
lewat yang memandanginya.
Setelah melewati persimpangan aku
segera menyetop sebuah angkutan kota yang akan membawaku pulang ke rumah.
Angkutan kota itu segera menepi berbelok tajam ke arahku tanpa menghiraukan
pengendara motor yang ada di belakangnya. Terdengar pengendara itu melontarkan
sumpah serapah dari muncungnya dan sopir angkutan kota itu pun tak mau
ketinggalan menyapa dengan sumpah serapah.
Aku naik ke angkutan kota dan
duduk di dekat pintu. Dentuman musik dengan speaker bass besar menhentak
memukul-mukul gendang telingaku, angkutan kota ini sudah berubah menjadi
diskotik jalanan. Disela-sela dentuman bass terdengar sayup-sayup seseorang
seperti menyapaku. Awalnya aku tak begitu yakin tapi ketika kutolehkan mata ke arah
daun pintu angkutan kota itu seseorang berpakaian necis mengacungkan tinjunya
padaku. “Ayo, saatnya perubahan!” orang itu berteriak dengan wajah semangat
yang terkesan dipaksakan padahal wajahnya terlihat sudah bergelombang dimakan
usia, tanda-tanda waktu berjalan berenang renang di wajahnya. Kubiarkan saja
dia terus berteriak-teriak, suara dentuman bass lebih menarik telingaku.
Kusunggingkan sedikit senyum pada laki-laki yang lengket di daun pintu itu
ketika turun di depan rumahku. Kugores wajahnya dengan koin yang akan kubayar
untuk ongkos. Apa yang kulakukan? Pikirku.
Badan yang terasa lelah minta
segera direbahkan. Kuhidupkan kipas angin yang menggelantung di loteng,
berputar putar seakan terpaksa mengeluarkan suara berdecit-decit. Decit-decit
kipas angin memebawaku terbang, angin menerpa wajahku memebuat lelah yang
menempel seperti daki di badan terkelupas dan terbang berhamburan ditiup angin.
Tiba tiba terpaan angin seperti mereda, decit-decit kipas angin terdengar lagi
semakin lama seperti suara ketukan di daun pintu rumahku.
Benar saja ada seseorang yang
mengetuk pintu rumahku dan itu membuatku terbangun, dengan perasaan malas aku
bangun dan melangkah membukakan pintu. Seorang berdiri di depanku dengan
membawa sesuatu, orang itu berbicara padaku. “Ini pak inshaAllah pilihan
terbaik”. Orang itu menyodorkan gambar seorang laki-laki, menunggu aku
meraihnya. Laki-laki dalam gambar itu mengucapkan sesuatu “berceloteh” tapi
karena masih ingin segera tidur aku tidak terlalu menghiraukannya. Lelaki di depanku
yang mengantarkan wajah laki-laki ini juga ikut-ikutan berceloteh, kubiarkan
saja hingga lelaki itu diam dan minta izin pergi. Meminjam kalimat yang pernah
di ucapkan dosenku waktu mengikuti kuliahnya beberapa tahun lalu, “ini namanya
celoteh kuadrat”. Kututup pintu untuk segera kembali menerbangkan lelah.
Jumat, 10 Januari 2014
Jual Beli Wajah 2014
Sudah lewat seminggu tahun 2013
tinggal dibelakang. Angin menerpa wajah saat jendela bus terbuka, gapura tahun
2014 telah dilewati. Jauh-jauh hari sebelum tahun 2014 datang sudah disebut
tahun ini tahun politik berhubung beberapa agenda politik memang akan
terselenggara di tahun ini, mulai dari pemilu legislatif sampai pemilu presiden
akan segera datang.
Berbagai macam bentuk cara untuk
menjual diri sudah terpampang banyak di persimpangan, di tepi jalan, di tiang
listrik sampai di layar kaca. Ibarat pedagang kaki lima para tokoh tokoh itu
memamerkan wajahnya untuk ditusuk pas pemilu nanti.
Saya sendiri tidak terlalu ambil
pusing dengan aktivitas mereka, itu memang hal yang wajar dalam bangsa yang
menganut demokrasi dan hal yang memang tak bisa dihindarkan.
Kalau di dunia jual beli telah
dikenal ada penjual yang jujur dan penjual yang curang. Menurut saya dalam hal
jual beli politik juga seperti itu rupanya. Tak jauh beda. Misalnya saja
pedagang buah supaya ada pembeli yang tertarik buah-buah yang bagus ditempatkan
di depan yang jelek-jelek disembunyikan agar tak terlihat. Kalau di jalan-jalan
jargon dan wajah manis terpampang menyapa setiap orang, tapi dibalik itu semua
kita tidak bisa tahu dengan pasti apa tujuannya minta dipilih. Apakah benar
adanya akan amanah nantinya setelah mendapatkan posisi atau malah sebaliknya.
Memang begitulah adanya, dunia
politik itu tak jauh beda dengan jaul beli. Dalam rangka mendapatkan dukungan
atau pembeli tentu yang dipikirkan bagaimana orang tertarik untuk membeli
barang dagangannya, sehingga disusunlah strategi marketing yang mampu memikat
hati pembeli. Sebagai wakil rakyat seharusnya rakyat lebih makmur dan sejahtera
dibanding wakilnya, sebagai pelayan rakyat-seharusnya rakyat lebih makmur dari
pelayannya.
Jumat, 20 Desember 2013
“..................................MUSRIK !!!!”......................???
Beberapa
minggu lalu. Lupa kapan tepatnya. Disuatu hari jumat, ketika shalat jumat saya
terdiam mendengar kotbah dari katib yang sedang berbicara di depan. Biasanya
saya juga terdiam kalau katib lagi berkotbah dan memang jamaah diharuskan diam.
Tapi karena kotbah kali ini disampaikan katib dengan bersemangat, makanya
terdiam saya sedikit berbeda dengan biasanya.
Isi kubahnya
menyinggung masalah kelompok kelompok yang memecah dalam agama islam. Katib
dengan suara keras menyampaikan bahwa orang orang yang berkelompok kelompok atau
golongan yang menyebabkan perpecahan atau membuat tidak bersatunya umat islam
adalah musrik. Wow, sebagian jemaah menurut info yang saya dengar dari rekan
semesjid malah ada yang tertawa. Karena lucu? Mungkin.
Katib menyuruh
jamaah merujuk surat Ar Rum ayat 31-32. Saya kutip bunyi ayatnya : “...dan
janganlah kamu termasuk orang orang yang menyekutukan Allah. Yaitu orang orang
yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap
golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
Katib sempat
menyebutkan beberapa “golongan” yang ada di Indonesia seperti Muhammadiyah, NU.
Beberapa parpol islam sempat disebut juga macam PKB, PPP, PKS, PAN dan ada satu
lagi saya lupa.
Al Quran yang
saya punya ternyata ada catatan kaki pada kata “mereka” pada ayat 32. Catatan
kaki itu bernomor 640. Setelah saya cek catatan kaki tersebut terdapat
keterangan sbb: “meninggalkankan agama tauhid dan menganut berbagai kepercayaan
menurut keinginan mereka.”
Meninggalkan tauhid
maka layak dikatakan musrik. Jika golongan golongan yang disebutkan diatas
telah meninggalkan tauhid maka layak pula golongan tersebut dikatakan musrik
termasuk pengikut-pengikutnya. Begitu akhirnya saya mengambil kesimpulan.
Kamis, 12 Desember 2013
Jumat, 18 Oktober 2013
Sabtu, 28 September 2013
my Jogging
![]() |
| Lapangan FIK UNP |
Sudah lebih dikit dari enam bulan ini saya meluangkan waktu untuk jogging dalam seminggu, biasanya tiga kali seminggu. Itu biasanya, ada juga cuma dua kali seminggu atau bahkan cuma satu kali. Yang penting ada lah berolahraga dalam seminggu itu. Biasanya saya jogging di lapangan FIK UNP.
kebiasaan ini berawal saat mengambil mata kuliah olahraga, instrukturnya menyampaikan bagaimana pentingnya olahraga bagi tubuh. Dengan mendengarkan , menyimak, dan mengiyakan serta memahami apa yang disampaikan hingga membuat saya termotivasi untuk mulai melakukan jogging, karena memang ini yang terbilang murah dan mudah untuk dilakukan.
Awalnya memang motivasinya berdempet dengan niat latihan agar nanti dapat nilai bagus saat ujian kuliah olahraga, ujiannya waktu itu lari keliling lapangan bola dengan panjang 400m sebanyak enam kali dan untuk laki2 harus dicapai kurang dari 15 menit. akhirnya dengan biasa melakukan saya mulai menikmati manfaat dan semakin nyaman melakukannya.
Ada beberapa ilmu yang saya dapatkan saat kuliah, seperti selesai berlari atau jogging jangan langsung duduk berdiri saja sambil jalan2 ringan sampai darah mengalir normal kembali, mungkin maksudnya sampai detak jantung mendekati normal kembali. Efeknya jika langsung duduk kepala bisa terasa pusing, bahkan bisa mual. So, mari mulai berjogging.
Jumat, 27 September 2013
PEmbuka CakRawala??
Jalanan itu bukan hanya diisi
para pengemis, orang terdidik pun ada. Saya bukan menyindir atau pun menghina,
tapi ini kenyataan. Cobalah lihat kalau tidak percaya. Betapa banyak pengangguran
yang berstatus mantan mahasiswa. Demikian katanya. Ini sedikit fiksi sebagai
pengantar.
Malam ini mendengar diskusi
seorang tamu di kosan dengan mantan mahasiswa yang baru diwisuda, omongannya
terkait apa rencana setelah selesai kuliah ini. Disela-sela diskusi dia
menyampaikan kuliah S1 itu untuk membuka cakrawala, cakrawala apa yang
dimaksud. Saya juga tidak tahu.
Saya mengiyakan apa yang
disampaikan karena apa yang dimaksud sesuai juga dengan pemikiran saya. Setelah
selesai studi di kampus tentu akan segera mencari pekerjaan. Dan rata-rata
memang seperti apa yang akan dilakukan oleh mahasiswa yang baru saja lulus dari
S1-nya. Namun masalahnya untuk mendapatkan pekerjaan itu tidak semudah
membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan musti ikut persaingan yang
ketat.
Ambil saja contoh jika ikut tes PNS,
bandingkan jumlah yang akan ikut dengan jumlah pos yang akan diisi, peluang
untuk diterima tentu tidak banyak. Disanalah fungsi kampus sebagai pembuka
cakrawala itu berperan. Butuh pemikiran yang kreatif untuk menciptakan peluang
minimal untuk diri sendiri dan bagus sekali bila sanggup memberi peluang untuk
orang lain.
Untuk menciptakan peluang buat
diri sendiri itu tentu butuh perjuangan juga. So, selamat berjuang buat para
wisudawan...saya segera menyusul.
Sabtu, 21 September 2013
TEMPAYAN RETAK
Sudah pernah baca belum? Cerita
dua tempayan, satu retak satu tidak. Kita semua adalah tempayan retak. Tempayan
retak dan tak retak bergantung pada sebuah pikulan di masing-masing ujungnya.
Dengan itulah si pembawa air dapat membawa air ke rumah. Sayapun tak dapat
menggambarkan dengan mata apa itu tempayan. Tempayan retak hanya membawa
setengah air dari tempayan tak retak, diapun merasa sedih, merasa tak berguna. “wahai
pembawa air aku merasa malu dan tak berguna” tempayan retak berkata. “Kenapa?”
permbawa air bertanya. “Hanya setengah air dari yang seharusnya yang mampu aku
bawa, air merembes keluar dari retakan ini, tak seperti tempayan tak retak yang
membawa penuh air” tempayan retak menjawab. “Perhatikanlah besok saat kita kembali
membawa air, bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan yang kita lalui” pembawa
air melanjutkan. Lihatlah bunga-bunga yang indah tumbuh di sepanjang sisi jalan
tempayan retak yang tak ada di sepanjang tempayan tak retak. Bunga-bunga tumbuh
subur dan mekar dengan air dari rembesan tempayan retak. Dari file mp3 resonansi jiwa tempayan retak.
Jumat, 20 September 2013
MENGHITUNG JUMLAH KEPALA
‘Demokrasi itu menghitung berapa
jumlah kepala, bukan isi kepala’, demikian sepenggal kalimat yang sempat
diucapkan oleh katib siang ini ketika saya shalat jumat di salah satu mesjid di
kota Padang ini. Apa yang disampaikan katib ini menarik menurut saya berhubung
saat ini di kota padang akan segera
berlangsung pesta demokrasi untuk menentukan walikota padang lima tahun
mendatang.
Isi kotbah katib jumat tersebut
bukanlah mengenai demokrasi namun dia sempat membahas sedikit mengenai
perbedaan antara asas musyawarah dan demokrasi. Asas musyawarah di minangkabau
sudah sejak dulu dijadikan sebagai cara untuk mendapatkan keputusan yang
menyangkut kemaslahatan bersama dan di indonesia pun dikenal demikian. Kemudian
demokrasi mulai diadopsi sampai sekarang, yang paling jelas adalah saat pemilihan
sorang pemimpin mulai dari presiden, gubernur dan lainnya.
Perbedaaan antara musyawarah dan
demokrasi jelas sekali, musyawarah sebuah keputusan ditentukan atas kesepakatan
bersama. Memang untuk mencapai kesepakatan bersama ini kadang membutuhkan
proses yang rumit dan lama. Setiap sisi dari hal yang dimusyawarahkan di pertimbangkan
dan dibahas baik buruk, untung rugi dan segala tetek bengeknya. Beda halnya
dengan demokrasi, cukup sediakan beberapa opsi atau pilihan mengenai suatu
masalah yang akan diputuskan, selanjutnya tinggal para peserta untuk memilih
mana yang mereka pilih, opsi dengan pemilih terbanyak itulah keputusannya.
Keputusannya pun akan berbeda,
pada musyawarah tentunya tidaklah semua elemen dilibatkan, hanya sebagian yang
dinilai berkompoten utuk membahas masalah itu saja yang dilibatkan. Jika
dicontohkan pada pemilihan presiden tentu tidaklah mungkin semua rakyat ikut
bermusyawarah untuk menentukan pemimpinnya, namun demokrasi mengakomodasi hal
ini. Dalam demokrasi rakyat dapat berpartisipasi langsung untuk menentukan
siapa yang mereka mau menjadi pimpinan mereka. Sayangnya pilihan ini kebanyakan
tidak berdasar pada pilihan yang telah dipikirkan masak-masak dan pertimbangan
di sana sini, pilihan dijatuhakan lebih pada suatu yang membuat mereka
tertarik, dan parahnya jika tertarik dikarenakan sejumlah uang.
Sekarang demokrasi telah menjadi
alat untuk membuat suatu keputusan di negeri kita, terutama dalam menentukan
seorang pemimpin. Dan jangan pula asas musyawarah dilupakan, paling tidak untuk
menjatuhkan pilihan. Benar-benar dikaji dari segala sisi, mana yang lebih baik,
mana yang lebih sedikit ruginya pilihan pilihan yang telah ada tersebut,
sehingga diperoleh pilihan terbaik untuk bersama untuk dipilih.
TRANSFORMASI
Setelah hampir setahun vakum, blog ini aktif lagi. Kalau dulu judulnya Pondok Aksara, sekarang berganti Paasah pena nan lun tajam. alamatnya pun berganti dari pondokaksara.blogspot.com ke yongkigm.blogspot.com. Namun inti blog ini tetap sama, sebagai tempat untuk berbagi cerita apa yang ada dalam pikiran saya pada orang-orang yang membaca.
'Paasah pena nan lun tajam' itu bahasa minang, artinya lebih kurang blog ini sebagai tempat bagi saya untuk melatih dan membuat saya rajin menulis. Paasah sama artinya dengan pengasah, gunanya untuk membuat sesuatu menjadi tajam. Dan mudah-mudahan demikian adanya, dengan blog ini semoga saya semakin mahir menulis dan apa yang saya tulis bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca :)
Kamis, 19 September 2013
Garam si kakek tua
Suatu hari seorang anak muda yang tengah dirundung banyak
masalah berjalan gontai di tengah hutan, pikirannya melayang-layang memikirkan
berbagai macam masalah hidup yang tengah dihadapinya. Dia merasa kepalanya akan
pecah karena masalahnya ini. Terpikir olehnya untuk mengakhiri hidup, biar
segala masalah ini hilang. Demikianlah dia berpikir saat itu. Dia terus
berjalan menyusuri hutan hingga akhirnya dia melihat sebuah pondok di tengah
hutan.
Dia berjalan ke arah pondok itu, kakinya sudah mulai letih
karena terus berjalan. Sepertinya pondok ini meskipun kecil ada yang
menghuninya. Pohon-pohon kecil dan bunga-bunga tumbuh rimbun di sekeliing
pondok itu. Anak muda itu mengetuk pintu pondok dan tak lama keluarlah seorang
laki-laki tua atau mungkin lebih baik jika dipanggil kakek.
“Ada apa anak muda?” sapa si kakek. ”Kenapa kau tampak
murung sekali?”
“Saya hanya ingin menumpang istirahat sebentar kek,
bolehkah?” tanya si anak muda.
“Oh, boleh silahkan saja” jawab si kakek dengan ramah.
Sang kakek kembali ke dalam pondoknya dan sesaat kemudian
keluar dengan membawakan segelas air putih dan mempersilahkan si anak muda yang
keletihan untuk meminumnya.
“Sepertinya kau sedang ada masalah, betulkah?” tanya si
kakek. Setelah meminum seteguk air dan menghembuskan nafas panjang anak muda
itu hanya mengangguk sambil menatap dedaunan pohon yang melambai-lambai ditiup
angin. Terlihat damai dan tenang sekali daun-daun itu, coba saya seperti mereka
pikirnya dalam hati.
“Ayo, coba ceritakanlah masalah mu padaku, siapa tahu aku
bisa membantumu menyelesaikan masalahmu itu?” si kakek menawarkan dirinya. Si anak
muda tampak ragu untuk menceritakan masalahnya beberapa saat, tidak ada
salahnya saya ceritakan pada kakek ini pikirnya. Dia sudah tua tentu banyak pengalaman
hidup yang sudah dilaluinya pikir anak muda tersebut. Akhirnya si anak muda
menceritakan semua permasalahan yang membuatnya terasa berat.
Setelah anak muda menceritakan segala gundah gulanannya pada
si kakek, si kakek hanya tersenyum lalu masuk ke dalam pondoknya. Si anak muda
melihat itu merasa heran, apakah si kakek berpikir masalahnya itu tidak ada
apa-apanya sehingga dengan mudahnya dia tersenyum, padahal baginya masalah ini
sungguh sangat berat sekali hingga sampai sampai terlintas pikiran untuk
mengakhiri hidupnya.
Beberapa saat kemudian si kakek tua muncul lagi dengan
membawa segelas air meletakkannya di kursi pajang tempat mereka duduk dan di
tangannya ada segenggam garam. Si kakek memasukkan setengah genggam garam
tersebut ke dalam gelas dan masih ada separuh lagi di tangannya. Setelah
mengaduk garam tersebut dan garam tersebut larut dalam air, sikakek menyuruh si
anak muda untuk meminumnya. “Untuk apa ini?” tanya si anak muda. “Minum saja
dulu nanti kamu akan tahu” jawab si kakek. Si anak muda lalu meminumnya, namun
hanya seteguk, sisanya dia muntahkan keluar. “Rasanya tidak enak” kata si anak
muda. ”tentu saja jawab si kakek, ini kan garam”.
Lalu si kakek mengajak si anak muda menyusuri jalan setapak
di belakang pondoknya. Setelah berjalan beberapa lama mereka sampai di sebuah
telaga yang cukup luas, dikelilingi oleh padang rumput dan pepeohonan yang
tumbuh disekitarnya. Airnya jernih hingga ikan-ikan kecil yang sedang bermain
di bebatuan tampak oleh mata. Lalu si kakek memperlihatkan garam yang masih
tersisa di tangannya dan menyuruh anak muda itu melarutkannya di air telaga.
Setelah garam itu larut dan menunggu beberapa saat sang kakek menyuruh si anak
muda meminum seteguk air telaga itu, sang anak muda lalu meminumya. Rasanya
segar sekali pikir si anak muda.
“Bagaimana rasanya, apakah ada terasa garam?” tanya si
kakek. “Tidak sama sekali” kata si anak muda. “ Menurutmu kenapa ketika air di gelas
yang berisi garam tadi diminum terasa asin dan kenapa ketika garam dengan
jumlah yang sama dilarutkan di air telaga ini namun tidak terasa asin?” tanya
si kakek pada si anak muda. “Jelas saja telaga ini begitu luas sehingga rasa
garamnya tidak terasa, tapi di gelas tadi airnya sedikit sekali” jawab si anak
muda. “ Bagaimana jika garam itu ibaratkan masalahmu?” lanjut si kakek. Si anak
muda tertegun sejenak dan tak lama kemudian dia memandang ke arah si kakaek
seakan minta penjelasan.
“Begini anak muda, setiap masalah pasti ada jalan
penyelesaiannya, karena Tuhan pun telah berjanji tidak akan memberikan masalah
jika hambanya tidak sanggup menyelesaikannnya, sekarang yang perlu kau lakukan
hanyalah melapangkan hatimu, karena dengan hati yang lapang masalah itu tidak
akan terasa berat bagimu, kemudian carilah jalan untuk menyelesaikan masalah
itu dengan hati dan pikiran yang tenang dan memohonlah pada tuhan untuk
membantumu. Semoga kau mengerti” si kakek lalu beranjak pergi kembali ke
pondoknya meninggalkan si anak muda yang mulai melihat jalan terang untuk
segala masalah hidup yang sedang membebaninya.
Selasa, 19 Juni 2012
Forkimas in "Pemuda di Persimpangan Jalan"
| Foto bareng setelah seminar |
Bertempat
di Auditorium Stikes Dharmasraya, ahad (17/6/12) Forkimas alias Forum Kajian
Islam Mahasiswa Dharmasraya mengadakan seminar kepemudaan dengan tema “Pemuda
di Persimpangan Jalan”. Maksud di persimpangan jalan bukan lagi nongkrong
di persimpangan jalan lho ! Maksudnya menggambarkan keadaan pemuda yang lagi
kebingungan mau melanjutkan langkah hidupnya mau kemana, so diberi sedikit
motivasi agar para pemuda tersebut dapat memilih pilihan yang tepat, pas en
sesuai dengan kondisinya. Peserta seminar ini merupakan utusan dari
masing-masing sekolah tingkat atas yang ada di Dharmasraya, harapannya para
generasi muda ini punya arah yang jelas dalam menetukan masa depannya. Enggak
hanya itu setelah seminar selesai dilanjutkan dengan prosesi pelantikan pengurus
Forkimas periode 2012/2013, semoga kepengurusan pada periode ini memberikan
kontribusi lebih dalam meningkatkan kualitas Dharmasraya, apakah dari segi SDM,
Pendidikan dan lain sebagainya. So, kita tunggu saja aksinya. Selain itu pada
kegiatan ini juga sempat hadir dari Presiden BEM STMIK Dharmasraya, sedangkan
dari STIKES dan STKIP tidak bisa hadir karena adanya keperluan, kedepannya
sinergi antara Forkimas dan Mahasiswa yang ada di Dharmasraya khususnya yang
ada di STIKES, STMIK en STKIP Dharmasraya diharapkan lebih intens dan maksimal
sehingga menghasilkan kontribusi yang nyata buat kemajuan Dharmasraya. (yongki)
Catatan kecil pas On Line
Jam sudah menunjukkan pukul 23.21 wib, tengah malam. Saya masih betah melototin LCD laptop. Cari info yang mungkin bisa dijadiin tambahan ilmu. Maklum jaman sekarang ilmu itu bisa didapat dimana-mana. Tinggal ketik yang mau di cari, "Om" Google telah siap dengan beberapa pilihan jawabannya. So, rugi kalo ga dimanfaatin. Kalo ngomong soal sesuatu pasti ada nilai lebih dan kurangnya, yang namanya teknologi kayak Om Google punya seabrek manfaat yang Ok punya. Namun "Ok Punya" ini bisa sesuatu yang beda antara orang yang berbeda, tergantung siapa yang makai. So "Ok Punya"-nya buat suatu yang baik en bermanfaat dunia akhirat aja deh..Sip ! :)
Langganan:
Postingan (Atom)















