Laman

Kamis, 30 Januari 2014

pion baru: Merokok Membunuhmu?? Masa sih..

Beberapa hari yang lalu saya baru menyadari ada yang beda dengan iklan rokok yang tayang di tipi-tipi, bukan beda karena ada produk rokok yang baru karena memang terus ada merek-merek baru yang muncul. Tapi itu lo, pesan dari pemerintah yang dititipkan disetiap iklan rokok. Kalau dulu sehabis iklan rokok tayang muncul sekotak kalimat “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung bla-bli-blu-ble-blo-dan-seterusnya...”

Awalnya saya tak begitu memperhatikan, sesaat kemudian baru menyadari ada yang beda. Saya tongkrongin tuh tipi nunggu iklan rokok berikutnya lewat. Eh, benar saja “Rokok Membunuhmu” itu dia pesan yang muncul plus gambar orang merokok dan tengkorak disampingnya plus juga kode 18+. Penasaran, saya tanya atuak Gugel hari berikutnya. Kata tuak Gugel ada peraturan baru dari pemerintah buat iklan-iklan rokok. Harus ganti kalimat sekarang dengan yang lebih menohok. Kayaknya kalimat yang sebelumnya ga paten nakutin para pembeli rokok.

Kalau dalam matematika ini namanya kontradiksi, pihak yang jual rokok berusaha menarik orang buat beli produknya, pemerintah berusaha mencegah orang buat beli. Lah jadinya kayak ada kompetisi, kalau kompetisi tentu ada yang menang atau kalah, atau seri juga boleh. Kalau saya nilai sih pemerintah udah kalah duluan dari produsen rokok. Kalau produsen rokok udah nyiapain segudang amunisi buat menarik peminat. Kita bisa cek kok, mulai aja dari iklan yang tayang di tipi, iklan tentang rokok yang keren tayang dengan bintang iklan dan aksi yang jos markojos, habis tu baru deh nyempil pesan dari pemerintahnya secepat kilat “cling” langsung hilang. Kalo iklan di bilboard, poster, etc. iklan rokoknya gede, pesan pemerintah nonggok secuil dibawah.

Oke, untuk masalah iklan aja udah kalah. Belum lagi merek-merek rokok jadi sponsor berbagai iven, mulai dari olah raga, siapa yang ga tau Djarum Super Series ajang bulu tangkis bergengsi, dulu ada Liga Djarum Indonesia, ada Coppa Dji Sam Soe, ada iven music A Mild Life dan berbagai even lainnya. Pemerintah mana? Sosialisasi tentang pesan yang ingin disampaikan pemerintah aja ga pernah kelihatan, bukannya ga ada. Atau mungkin saya aja yang ga pernah dengar kali ya..


Setelah dilihat lihat pemerintah masih kalah langkah, dan sekarang langkah baru dibuat, dengan peraturan baru dengan pesan yang baru juga. Tapi menurut saya, bukannya pesimis buat pemerintah, kayaknya jika ga ada langkah yang lebih menggebrak dari pemerintah untuk menyampaikan pesannya, kalau cuma sekedar ganti seonggok pesan nyempil di iklan en bungkus rokok yang keren-keren ga bakal signifikan deh perubahannya, sama aja kayak kemarin-kemarin, ga diperhatiin tuh pesan “Rokok Membunuhmu” paling cuma komentar : “Eh, ganti lo pesannya”. So merokok membunuhmu? Jawaban orang yang pernah ditanyai : “merokok ga merokok orang bakal mati juga” he..he..

Senin, 20 Januari 2014

Menyambangi Adityawarman

Awalnya saya tidak ada niat lho mampir ke museum Adityawarman. Dan saya juga tidak menyangka akan masuk ke museum itu. Padahal sudah berkali-kali saya datang ke taman di depan museum itu untuk diskusi dengan anak2 calon penulis katanya dan memang sudah ada yang jadi penulis sih. Berharap saya juga bisa jadi penulis makanya saya ikut kegiatannya.

Biasanya diskusi sekali dua minggu dan ditaman melati itulah biasanya diskusi, disana juga terletak museum Adityawarman. Awalnya hari itu niatnya menghadiri rapat evaluasi, katanya. Evaluasi kegiatan yang baru saja selesai dilaksanakan. mulai jam sepuluh pagi dan nanti sekitar jam dua-an dilanjutkan dengan diskusi seperti biasa.

Setelah ditunggu-tunggu ternyata tak ada yang datang-yang datang, kecuali mamang sudah ada beberapa orang yang datang. Ada sekitar lima orang kalau saya tidak salah lihat :D. Namun itu belum cukup, karena yang datang itu cuma dua orang yang panitia. Akhirnya dari pada menung-menung lihat orang dua-dua-an, sedang kami berlimaan, mending liat-liat barang di museum.


Awalnya saya kira museumnya cuma yang berbentuk rumah gadang saja, setelah masuk dan terus jalan-jalan, rupanya di bagian belakang masih ada koleksinya. Ini benar-benar pengalaman pertama saya masuk museum. Meski sudah lebih lima tahun di Padang, baru kali ini saya sempat menyambangi museum yang ada di kampung ini. Lebih kritisnya meski sudah berkali kali datang lalu duduk melihat-lihat dari luar, baru kali ini juga masuk untuk memastikan kalau didalamnya ada sisitivi.





Minggu, 19 Januari 2014

Penjepit Kertas, yang tak ter-perhatikan

teman_kecil_yg_terlupakan
Ini namanya penjepit. Penjepit kertas-karena memang lebih sering digunakan untuk menjepit kertas. Dan saya memanggilnya seperti itu, mungkin bisa saja ada panggilan lainnya. Untuk menjepit benda-benda lainnya juga bisa, bahkan bila mau menjepit telingapun bisa dengan ini. Jadi teringat dengan main ampok-ampok-an jaman dulu, kalau kalah dijepit area sekitar wajah, langganannya hidung dan telinga dijepit dengan penjepit jemuran. Bisa saja penjepitnya diganti dengan yang satu ini.

Kalau buat para mahasiswa, spesiali buat mahasiswa tahun akhir akrab dengan benda yang satu ini, tapi tak begitu ter-perhatikan dengan jeli karena terlampok oleh ke-stresan mengejar-ngejar dosen pembimbing dan urusan-urusan lainnya.

Padahal kalau dipikir-pikir fungsinya bisa sangat penting sekali. Bayangkan saja draft proposal penelitian ataupun perbaikan-perbaikan yang akan ditunjukkan ke dosen pembimbing itu kadang tebalnya bisa menghampiri tebalnya novel Harry Potter. Kalau mau diklip tak ada rasanya klip untuk tumpukan kertas setebal itu, kalau mau dijilid ya ga mungkinlah, skripsi atau TA saja belum tentu di Acc dah dijiid aja. So, penjepit itulah solusi tepatnya.

Belakangan saya sering baca skripsi maupun TA mahasiswa yang sudah lebih dulu wisuda. Pas di halaman ucapan terima kasih ataupun persembahan belum ada secuil katapun yang saya temukan guna menyiratkan apresiasi untuk benda satu ini, umumnya lebih banyak untuk orang-orang yang dekat dengan penulis skripsi atau TA itu sendiri dan benda-benda terdekatnya seperti komputer, laptop bahakan printer tapi tidak untuk penjepit kertas.


Ya kadang-kadang memang seperti itulah, karena pikir dan rasa sudah terpenuhi dengan hal-hal yang membuat tertekan, hal-hal kecil yang begitu membantu dapat terabaikan begitu saja. Meskipun murah dan kecil ucapkanlah terimakasih buat objek satu ini.

Minggu, 12 Januari 2014

Celoteh-Celoteh 2014. Celoteh ?

Beberapa hari belakangan ini banyak sekali sales yang datang kerumahku menawarkan produknya. Tidak hanya datang tapi juga membombardir telingaku lewat layar kaca, lewat speaker radio. Ada juga yang menyapaku di pinggir-pinggir jalan, di tiang listrik, hingga di pohon pelindung di tepi jalan.
***
Sayup sayup terdengar suara ”orang seperti inikah yang akan kau pilih?” aku celingukan. Tak ada seorangpun di jalanan itu, lalu dari mana datangnya suara itu? Aku membatin dalam hati. Kemudian suara itu muncul lagi. “Hei, aku disini. Apakah kamu tidak bisa melihatku?” pohon yang telah kulewati bergerak-gerak, bagian kulitnya yang terkelupas seperti mulut yang sedang berbicara. “tidakkah kau meliahat benda yang ditancapkan dikeningku ini?” aku mendongak dan melihat sebuah gambar orang berjas dan berdasi dengan kata-kata meminta mencoblos nomor tertentu. Kemuadian orang dalam gambar itu melambaikan tangannya padaku. “Orang seperti inikah yang akan kau pilih?” pohon itu terus bertanya. Aku diam saja, dan segera beranjak dari tempat itu, meninggalkan pohon aneh yang terus berceloteh.

Aku tiba di persimpangan jalan. “Hai..” seseorang seperti menyapaku, aku mendongakkan kepala dan benar saja seorang perempuan sedang melambaikan tangannya dalam sebuah bilboard besar yang membelah di atas jalanan. “Besok pilih aku ya jangan lupa lho...” mengakhiri kalimatnya dengan menyipitkan sebelah mata, “Ting!” ucapku. Kubiarkan saja perempuan itu terus berceloteh. Perempuan itu terus berceloteh pada orang-orang lewat yang memandanginya.

Setelah melewati persimpangan aku segera menyetop sebuah angkutan kota yang akan membawaku pulang ke rumah. Angkutan kota itu segera menepi berbelok tajam ke arahku tanpa menghiraukan pengendara motor yang ada di belakangnya. Terdengar pengendara itu melontarkan sumpah serapah dari muncungnya dan sopir angkutan kota itu pun tak mau ketinggalan menyapa dengan sumpah serapah.

Aku naik ke angkutan kota dan duduk di dekat pintu. Dentuman musik dengan speaker bass besar menhentak memukul-mukul gendang telingaku, angkutan kota ini sudah berubah menjadi diskotik jalanan. Disela-sela dentuman bass terdengar sayup-sayup seseorang seperti menyapaku. Awalnya aku tak begitu yakin tapi ketika kutolehkan mata ke arah daun pintu angkutan kota itu seseorang berpakaian necis mengacungkan tinjunya padaku. “Ayo, saatnya perubahan!” orang itu berteriak dengan wajah semangat yang terkesan dipaksakan padahal wajahnya terlihat sudah bergelombang dimakan usia, tanda-tanda waktu berjalan berenang renang di wajahnya. Kubiarkan saja dia terus berteriak-teriak, suara dentuman bass lebih menarik telingaku. Kusunggingkan sedikit senyum pada laki-laki yang lengket di daun pintu itu ketika turun di depan rumahku. Kugores wajahnya dengan koin yang akan kubayar untuk ongkos. Apa yang kulakukan? Pikirku.

Badan yang terasa lelah minta segera direbahkan. Kuhidupkan kipas angin yang menggelantung di loteng, berputar putar seakan terpaksa mengeluarkan suara berdecit-decit. Decit-decit kipas angin memebawaku terbang, angin menerpa wajahku memebuat lelah yang menempel seperti daki di badan terkelupas dan terbang berhamburan ditiup angin. Tiba tiba terpaan angin seperti mereda, decit-decit kipas angin terdengar lagi semakin lama seperti suara ketukan di daun pintu rumahku.


Benar saja ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku dan itu membuatku terbangun, dengan perasaan malas aku bangun dan melangkah membukakan pintu. Seorang berdiri di depanku dengan membawa sesuatu, orang itu berbicara padaku. “Ini pak inshaAllah pilihan terbaik”. Orang itu menyodorkan gambar seorang laki-laki, menunggu aku meraihnya. Laki-laki dalam gambar itu mengucapkan sesuatu “berceloteh” tapi karena masih ingin segera tidur aku tidak terlalu menghiraukannya. Lelaki di depanku yang mengantarkan wajah laki-laki ini juga ikut-ikutan berceloteh, kubiarkan saja hingga lelaki itu diam dan minta izin pergi. Meminjam kalimat yang pernah di ucapkan dosenku waktu mengikuti kuliahnya beberapa tahun lalu, “ini namanya celoteh kuadrat”. Kututup pintu untuk segera kembali menerbangkan lelah.

Jumat, 10 Januari 2014

Jual Beli Wajah 2014

Sudah lewat seminggu tahun 2013 tinggal dibelakang. Angin menerpa wajah saat jendela bus terbuka, gapura tahun 2014 telah dilewati. Jauh-jauh hari sebelum tahun 2014 datang sudah disebut tahun ini tahun politik berhubung beberapa agenda politik memang akan terselenggara di tahun ini, mulai dari pemilu legislatif sampai pemilu presiden akan segera datang.

Berbagai macam bentuk cara untuk menjual diri sudah terpampang banyak di persimpangan, di tepi jalan, di tiang listrik sampai di layar kaca. Ibarat pedagang kaki lima para tokoh tokoh itu memamerkan wajahnya untuk ditusuk pas pemilu nanti.

Saya sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan aktivitas mereka, itu memang hal yang wajar dalam bangsa yang menganut demokrasi dan hal yang memang tak bisa dihindarkan.

Kalau di dunia jual beli telah dikenal ada penjual yang jujur dan penjual yang curang. Menurut saya dalam hal jual beli politik juga seperti itu rupanya. Tak jauh beda. Misalnya saja pedagang buah supaya ada pembeli yang tertarik buah-buah yang bagus ditempatkan di depan yang jelek-jelek disembunyikan agar tak terlihat. Kalau di jalan-jalan jargon dan wajah manis terpampang menyapa setiap orang, tapi dibalik itu semua kita tidak bisa tahu dengan pasti apa tujuannya minta dipilih. Apakah benar adanya akan amanah nantinya setelah mendapatkan posisi atau malah sebaliknya.


Memang begitulah adanya, dunia politik itu tak jauh beda dengan jaul beli. Dalam rangka mendapatkan dukungan atau pembeli tentu yang dipikirkan bagaimana orang tertarik untuk membeli barang dagangannya, sehingga disusunlah strategi marketing yang mampu memikat hati pembeli. Sebagai wakil rakyat seharusnya rakyat lebih makmur dan sejahtera dibanding wakilnya, sebagai pelayan rakyat-seharusnya rakyat lebih makmur dari pelayannya.

Jumat, 20 Desember 2013

“..................................MUSRIK !!!!”......................???

Beberapa minggu lalu. Lupa kapan tepatnya. Disuatu hari jumat, ketika shalat jumat saya terdiam mendengar kotbah dari katib yang sedang berbicara di depan. Biasanya saya juga terdiam kalau katib lagi berkotbah dan memang jamaah diharuskan diam. Tapi karena kotbah kali ini disampaikan katib dengan bersemangat, makanya terdiam saya sedikit berbeda dengan biasanya.
Isi kubahnya menyinggung masalah kelompok kelompok yang memecah dalam agama islam. Katib dengan suara keras menyampaikan bahwa orang orang yang berkelompok kelompok atau golongan yang menyebabkan perpecahan atau membuat tidak bersatunya umat islam adalah musrik. Wow, sebagian jemaah menurut info yang saya dengar dari rekan semesjid malah ada yang tertawa. Karena lucu? Mungkin.
Katib menyuruh jamaah merujuk surat Ar Rum ayat 31-32. Saya kutip bunyi ayatnya : “...dan janganlah kamu termasuk orang orang yang menyekutukan Allah. Yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
Katib sempat menyebutkan beberapa “golongan” yang ada di Indonesia seperti Muhammadiyah, NU. Beberapa parpol islam sempat disebut juga macam PKB, PPP, PKS, PAN dan ada satu lagi saya lupa.
Al Quran yang saya punya ternyata ada catatan kaki pada kata “mereka” pada ayat 32. Catatan kaki itu bernomor 640. Setelah saya cek catatan kaki tersebut terdapat keterangan sbb: “meninggalkankan agama tauhid dan menganut berbagai kepercayaan menurut keinginan mereka.”
Meninggalkan tauhid maka layak dikatakan musrik. Jika golongan golongan yang disebutkan diatas telah meninggalkan tauhid maka layak pula golongan tersebut dikatakan musrik termasuk pengikut-pengikutnya. Begitu akhirnya saya mengambil kesimpulan.

Jumat, 18 Oktober 2013

Saat ini langit kota Padang sedang menangis, air matanya menerpa atap dan jatuh ke bumi dengan suara gemericik. Ingin ku tutup jendela tapi ku urungkan niat, “Airnya tidak masuk ke kamar, jadi tidak apa-apa”.

Sabtu, 28 September 2013

my Jogging

Lapangan FIK UNP
Sudah lebih dikit dari enam bulan ini saya meluangkan waktu untuk jogging dalam seminggu, biasanya tiga kali seminggu. Itu biasanya, ada juga cuma dua kali seminggu atau bahkan cuma satu kali. Yang penting ada lah berolahraga dalam seminggu itu. Biasanya saya jogging di lapangan FIK UNP.

kebiasaan ini berawal saat mengambil mata kuliah olahraga, instrukturnya menyampaikan bagaimana pentingnya olahraga bagi tubuh. Dengan mendengarkan , menyimak, dan mengiyakan serta memahami apa yang disampaikan hingga membuat saya termotivasi untuk mulai melakukan jogging, karena memang ini yang terbilang murah dan mudah untuk dilakukan.

Awalnya memang motivasinya berdempet dengan niat latihan agar nanti dapat nilai bagus saat ujian kuliah olahraga, ujiannya waktu itu lari keliling lapangan bola dengan panjang 400m sebanyak enam kali dan untuk laki2 harus dicapai kurang dari 15 menit. akhirnya dengan biasa melakukan saya mulai menikmati manfaat dan semakin nyaman melakukannya.

Ada beberapa ilmu yang saya dapatkan saat kuliah, seperti selesai berlari atau jogging jangan langsung duduk berdiri saja sambil jalan2 ringan sampai darah mengalir normal kembali, mungkin maksudnya sampai detak jantung mendekati normal kembali. Efeknya jika langsung duduk kepala bisa terasa pusing, bahkan bisa mual. So, mari mulai berjogging.


Jumat, 27 September 2013

PEmbuka CakRawala??

Jalanan itu bukan hanya diisi para pengemis, orang terdidik pun ada. Saya bukan menyindir atau pun menghina, tapi ini kenyataan. Cobalah lihat kalau tidak percaya. Betapa banyak pengangguran yang berstatus mantan mahasiswa. Demikian katanya. Ini sedikit fiksi sebagai pengantar.

Malam ini mendengar diskusi seorang tamu di kosan dengan mantan mahasiswa yang baru diwisuda, omongannya terkait apa rencana setelah selesai kuliah ini. Disela-sela diskusi dia menyampaikan kuliah S1 itu untuk membuka cakrawala, cakrawala apa yang dimaksud. Saya juga tidak tahu.

Saya mengiyakan apa yang disampaikan karena apa yang dimaksud sesuai juga dengan pemikiran saya. Setelah selesai studi di kampus tentu akan segera mencari pekerjaan. Dan rata-rata memang seperti apa yang akan dilakukan oleh mahasiswa yang baru saja lulus dari S1-nya. Namun masalahnya untuk mendapatkan pekerjaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan musti ikut persaingan yang ketat.

Ambil saja contoh jika ikut tes PNS, bandingkan jumlah yang akan ikut dengan jumlah pos yang akan diisi, peluang untuk diterima tentu tidak banyak. Disanalah fungsi kampus sebagai pembuka cakrawala itu berperan. Butuh pemikiran yang kreatif untuk menciptakan peluang minimal untuk diri sendiri dan bagus sekali bila sanggup memberi peluang untuk orang lain.


Untuk menciptakan peluang buat diri sendiri itu tentu butuh perjuangan juga. So, selamat berjuang buat para wisudawan...saya segera menyusul.

Sabtu, 21 September 2013

TEMPAYAN RETAK

Sudah pernah baca belum? Cerita dua tempayan, satu retak satu tidak. Kita semua adalah tempayan retak. Tempayan retak dan tak retak bergantung pada sebuah pikulan di masing-masing ujungnya. Dengan itulah si pembawa air dapat membawa air ke rumah. Sayapun tak dapat menggambarkan dengan mata apa itu tempayan. Tempayan retak hanya membawa setengah air dari tempayan tak retak, diapun merasa sedih, merasa tak berguna. “wahai pembawa air aku merasa malu dan tak berguna” tempayan retak berkata. “Kenapa?” permbawa air bertanya. “Hanya setengah air dari yang seharusnya yang mampu aku bawa, air merembes keluar dari retakan ini, tak seperti tempayan tak retak yang membawa penuh air” tempayan retak menjawab. “Perhatikanlah besok saat kita kembali membawa air, bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan yang kita lalui” pembawa air melanjutkan. Lihatlah bunga-bunga yang indah tumbuh di sepanjang sisi jalan tempayan retak yang tak ada di sepanjang tempayan tak retak. Bunga-bunga tumbuh subur dan mekar dengan air dari rembesan tempayan retak. Dari file mp3 resonansi jiwa tempayan retak.

Jumat, 20 September 2013

MENGHITUNG JUMLAH KEPALA

‘Demokrasi itu menghitung berapa jumlah kepala, bukan isi kepala’, demikian sepenggal kalimat yang sempat diucapkan oleh katib siang ini ketika saya shalat jumat di salah satu mesjid di kota Padang ini. Apa yang disampaikan katib ini menarik menurut saya berhubung saat ini di kota padang  akan segera berlangsung pesta demokrasi untuk menentukan walikota padang lima tahun mendatang.

Isi kotbah katib jumat tersebut bukanlah mengenai demokrasi namun dia sempat membahas sedikit mengenai perbedaan antara asas musyawarah dan demokrasi. Asas musyawarah di minangkabau sudah sejak dulu dijadikan sebagai cara untuk mendapatkan keputusan yang menyangkut kemaslahatan bersama dan di indonesia pun dikenal demikian. Kemudian demokrasi mulai diadopsi sampai sekarang, yang paling jelas adalah saat pemilihan sorang pemimpin mulai dari presiden, gubernur dan lainnya.

Perbedaaan antara musyawarah dan demokrasi jelas sekali, musyawarah sebuah keputusan ditentukan atas kesepakatan bersama. Memang untuk mencapai kesepakatan bersama ini kadang membutuhkan proses yang rumit dan lama. Setiap sisi dari hal yang dimusyawarahkan di pertimbangkan dan dibahas baik buruk, untung rugi dan segala tetek bengeknya. Beda halnya dengan demokrasi, cukup sediakan beberapa opsi atau pilihan mengenai suatu masalah yang akan diputuskan, selanjutnya tinggal para peserta untuk memilih mana yang mereka pilih, opsi dengan pemilih terbanyak itulah keputusannya.

Keputusannya pun akan berbeda, pada musyawarah tentunya tidaklah semua elemen dilibatkan, hanya sebagian yang dinilai berkompoten utuk membahas masalah itu saja yang dilibatkan. Jika dicontohkan pada pemilihan presiden tentu tidaklah mungkin semua rakyat ikut bermusyawarah untuk menentukan pemimpinnya, namun demokrasi mengakomodasi hal ini. Dalam demokrasi rakyat dapat berpartisipasi langsung untuk menentukan siapa yang mereka mau menjadi pimpinan mereka. Sayangnya pilihan ini kebanyakan tidak berdasar pada pilihan yang telah dipikirkan masak-masak dan pertimbangan di sana sini, pilihan dijatuhakan lebih pada suatu yang membuat mereka tertarik, dan parahnya jika tertarik dikarenakan sejumlah uang.


Sekarang demokrasi telah menjadi alat untuk membuat suatu keputusan di negeri kita, terutama dalam menentukan seorang pemimpin. Dan jangan pula asas musyawarah dilupakan, paling tidak untuk menjatuhkan pilihan. Benar-benar dikaji dari segala sisi, mana yang lebih baik, mana yang lebih sedikit ruginya pilihan pilihan yang telah ada tersebut, sehingga diperoleh pilihan terbaik untuk bersama untuk dipilih.

TRANSFORMASI

Setelah hampir setahun vakum, blog ini aktif lagi. Kalau dulu judulnya Pondok Aksara, sekarang berganti Paasah pena nan lun tajam. alamatnya pun berganti dari pondokaksara.blogspot.com ke yongkigm.blogspot.com. Namun inti blog ini tetap sama, sebagai tempat untuk berbagi cerita apa yang ada dalam pikiran saya pada orang-orang yang membaca.

'Paasah pena nan lun tajam' itu bahasa minang, artinya lebih kurang blog ini sebagai tempat bagi saya untuk  melatih dan membuat saya rajin menulis. Paasah sama artinya dengan pengasah, gunanya untuk membuat sesuatu menjadi tajam. Dan mudah-mudahan demikian adanya, dengan blog ini semoga saya semakin mahir menulis dan apa yang saya tulis bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca :)

Kamis, 19 September 2013

Garam si kakek tua

Suatu hari seorang anak muda yang tengah dirundung banyak masalah berjalan gontai di tengah hutan, pikirannya melayang-layang memikirkan berbagai macam masalah hidup yang tengah dihadapinya. Dia merasa kepalanya akan pecah karena masalahnya ini. Terpikir olehnya untuk mengakhiri hidup, biar segala masalah ini hilang. Demikianlah dia berpikir saat itu. Dia terus berjalan menyusuri hutan hingga akhirnya dia melihat sebuah pondok di tengah hutan.

Dia berjalan ke arah pondok itu, kakinya sudah mulai letih karena terus berjalan. Sepertinya pondok ini meskipun kecil ada yang menghuninya. Pohon-pohon kecil dan bunga-bunga tumbuh rimbun di sekeliing pondok itu. Anak muda itu mengetuk pintu pondok dan tak lama keluarlah seorang laki-laki tua atau mungkin lebih baik jika dipanggil kakek.

“Ada apa anak muda?” sapa si kakek. ”Kenapa kau tampak murung sekali?”
“Saya hanya ingin menumpang istirahat sebentar kek, bolehkah?” tanya si anak muda.
“Oh, boleh silahkan saja” jawab si kakek dengan ramah.

Sang kakek kembali ke dalam pondoknya dan sesaat kemudian keluar dengan membawakan segelas air putih dan mempersilahkan si anak muda yang keletihan untuk meminumnya.
“Sepertinya kau sedang ada masalah, betulkah?” tanya si kakek. Setelah meminum seteguk air dan menghembuskan nafas panjang anak muda itu hanya mengangguk sambil menatap dedaunan pohon yang melambai-lambai ditiup angin. Terlihat damai dan tenang sekali daun-daun itu, coba saya seperti mereka pikirnya dalam hati.

“Ayo, coba ceritakanlah masalah mu padaku, siapa tahu aku bisa membantumu menyelesaikan masalahmu itu?” si kakek menawarkan dirinya. Si anak muda tampak ragu untuk menceritakan masalahnya beberapa saat, tidak ada salahnya saya ceritakan pada kakek ini pikirnya. Dia sudah tua tentu banyak pengalaman hidup yang sudah dilaluinya pikir anak muda tersebut. Akhirnya si anak muda menceritakan semua permasalahan yang membuatnya terasa berat.

Setelah anak muda menceritakan segala gundah gulanannya pada si kakek, si kakek hanya tersenyum lalu masuk ke dalam pondoknya. Si anak muda melihat itu merasa heran, apakah si kakek berpikir masalahnya itu tidak ada apa-apanya sehingga dengan mudahnya dia tersenyum, padahal baginya masalah ini sungguh sangat berat sekali hingga sampai sampai terlintas pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Beberapa saat kemudian si kakek tua muncul lagi dengan membawa segelas air meletakkannya di kursi pajang tempat mereka duduk dan di tangannya ada segenggam garam. Si kakek memasukkan setengah genggam garam tersebut ke dalam gelas dan masih ada separuh lagi di tangannya. Setelah mengaduk garam tersebut dan garam tersebut larut dalam air, sikakek menyuruh si anak muda untuk meminumnya. “Untuk apa ini?” tanya si anak muda. “Minum saja dulu nanti kamu akan tahu” jawab si kakek. Si anak muda lalu meminumnya, namun hanya seteguk, sisanya dia muntahkan keluar. “Rasanya tidak enak” kata si anak muda. ”tentu saja jawab si kakek, ini kan garam”.

Lalu si kakek mengajak si anak muda menyusuri jalan setapak di belakang pondoknya. Setelah berjalan beberapa lama mereka sampai di sebuah telaga yang cukup luas, dikelilingi oleh padang rumput dan pepeohonan yang tumbuh disekitarnya. Airnya jernih hingga ikan-ikan kecil yang sedang bermain di bebatuan tampak oleh mata. Lalu si kakek memperlihatkan garam yang masih tersisa di tangannya dan menyuruh anak muda itu melarutkannya di air telaga. Setelah garam itu larut dan menunggu beberapa saat sang kakek menyuruh si anak muda meminum seteguk air telaga itu, sang anak muda lalu meminumya. Rasanya segar sekali pikir si anak muda.


“Bagaimana rasanya, apakah ada terasa garam?” tanya si kakek. “Tidak sama sekali” kata si anak muda. “ Menurutmu kenapa ketika air di gelas yang berisi garam tadi diminum terasa asin dan kenapa ketika garam dengan jumlah yang sama dilarutkan di air telaga ini namun tidak terasa asin?” tanya si kakek pada si anak muda. “Jelas saja telaga ini begitu luas sehingga rasa garamnya tidak terasa, tapi di gelas tadi airnya sedikit sekali” jawab si anak muda. “ Bagaimana jika garam itu ibaratkan masalahmu?” lanjut si kakek. Si anak muda tertegun sejenak dan tak lama kemudian dia memandang ke arah si kakaek seakan minta penjelasan. 

“Begini anak muda, setiap masalah pasti ada jalan penyelesaiannya, karena Tuhan pun telah berjanji tidak akan memberikan masalah jika hambanya tidak sanggup menyelesaikannnya, sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah melapangkan hatimu, karena dengan hati yang lapang masalah itu tidak akan terasa berat bagimu, kemudian carilah jalan untuk menyelesaikan masalah itu dengan hati dan pikiran yang tenang dan memohonlah pada tuhan untuk membantumu. Semoga kau mengerti” si kakek lalu beranjak pergi kembali ke pondoknya meninggalkan si anak muda yang mulai melihat jalan terang untuk segala masalah hidup yang sedang membebaninya.

Selasa, 19 Juni 2012

Forkimas in "Pemuda di Persimpangan Jalan"


Foto bareng setelah seminar
Bertempat di Auditorium Stikes Dharmasraya, ahad (17/6/12) Forkimas alias Forum Kajian Islam Mahasiswa Dharmasraya mengadakan seminar kepemudaan dengan tema “Pemuda di Persimpangan Jalan”. Maksud di persimpangan jalan bukan lagi nongkrong di persimpangan jalan lho ! Maksudnya menggambarkan keadaan pemuda yang lagi kebingungan mau melanjutkan langkah hidupnya mau kemana, so diberi sedikit motivasi agar para pemuda tersebut dapat memilih pilihan yang tepat, pas en sesuai dengan kondisinya. Peserta seminar ini merupakan utusan dari masing-masing sekolah tingkat atas yang ada di Dharmasraya, harapannya para generasi muda ini punya arah yang jelas dalam menetukan masa depannya. Enggak hanya itu setelah seminar selesai dilanjutkan dengan prosesi pelantikan pengurus Forkimas periode 2012/2013, semoga kepengurusan pada periode ini memberikan kontribusi lebih dalam meningkatkan kualitas Dharmasraya, apakah dari segi SDM, Pendidikan dan lain sebagainya. So, kita tunggu saja aksinya. Selain itu pada kegiatan ini juga sempat hadir dari Presiden BEM STMIK Dharmasraya, sedangkan dari STIKES dan STKIP tidak bisa hadir karena adanya keperluan, kedepannya sinergi antara Forkimas dan Mahasiswa yang ada di Dharmasraya khususnya yang ada di STIKES, STMIK en STKIP Dharmasraya diharapkan lebih intens dan maksimal sehingga menghasilkan kontribusi yang nyata buat kemajuan Dharmasraya. (yongki)

Catatan kecil pas On Line

Jam sudah menunjukkan pukul 23.21 wib, tengah malam. Saya masih betah melototin LCD laptop. Cari info yang mungkin bisa dijadiin tambahan ilmu. Maklum jaman sekarang ilmu itu bisa didapat dimana-mana. Tinggal ketik yang mau di cari, "Om" Google telah siap dengan beberapa pilihan jawabannya. So, rugi kalo ga dimanfaatin. Kalo ngomong soal sesuatu pasti ada nilai lebih dan kurangnya, yang namanya teknologi kayak Om Google punya seabrek manfaat yang Ok punya. Namun "Ok Punya" ini bisa sesuatu yang beda antara orang yang berbeda, tergantung siapa yang makai. So "Ok Punya"-nya buat suatu yang baik en bermanfaat dunia akhirat aja deh..Sip ! :)

Rabu, 29 Februari 2012

Waktu untuk perkara yang bermanfaat


Allah telah memberikan begitu banya nikmat dan karunia kepada manusia, tak terhitung telah berapa banyak nikmat yang telah Dia berikan. Bahkan hidayah untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan adalah termasuk salah satu nikmat yang perlu untuk disyukuri. Namun terkadang hal seperti itu sering dilupakan.

Salah satu nikmat penting yang Allah karuniakan kepada manusia adalah waktu. Secara umum waktu itu adalah sejak manusia dilahirkan sampai nanti ajal menjemput. Waktu ini dipergunakan manusia untuk menjalani kehidupan dengan berbagai macam aktivitas di dalamnya, mulai dari menuntut ilmu, makan, berolahraga dan lain sebagainya tergantung kepada kepentingan masing-masing.

Pada sebuah hadits dalam kitab Arba’in yang disusun oleh imam An Nawawi, Abu Hurairah ra. Berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Diantara tanda sempurnanya islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya). Dalam hadis ini memang tidak secara jelas dibicarakan masalah waktu, namun secara tidak langsung hadits ini menyinggung masalah waktu. Terdapat kata-kata “hal-hal yang tidak bermanfaat”, tentu ini menyangkut masalah waktu. Jika ada hal yang tidak bermanfaat maka tentu ada juga hal yang bermanfaat.

Dalam kitab Al Wafi yang merupakan penjelasan dari hadits-hadits pada kitab Arba’in, Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu (penulis kitab Al Wafi) menjelaskan bahwa perkara yang mendatangkan manfaat bagi manusia adalah perkara-perkara yang berkaitan dengan kebutuhan manusia paling mendasar, meliputi: sandang, pangan dan papan. Juga perkara yang berhubungan dengan keselamatan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Diluar masalah-masalah ini, maka tergolong kepada perkara-perkara yang tidak bermanfaat.

Dengan demikian setiap manusia haruslah berusaha untuk selalu menggunakan waktunya untuk perkara-perkara yang bermanfaat sebagai bentuk rasa syukur manusia tersebut kepada pencipta yang telah memberikannya sepotong waktu untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Dan agar Allah memberikan balasan dan nikmat terbaik yaitu surga ketika putaran waktu di semesta alam ini berakhir. (yk/23/02/2012)

Rabu, 22 Februari 2012

Bye-bye library.nu gratisan

Bagi mahasiswa dan kaum intelektual lainnya yang suka gratisan pasti kenal situs library.nu, kalau ga kenal (kebangetan), situs yang menyediakan berbagai e-book berbagai disiplin ilmu. Namun akhir-akhir ini situs tersebut tak bisa lagi diakses, awalnya saya sendiri tidak tahu sebab musababnya. setelah ditanya sama paman Google, ternyata library.nu diblokir sama pemerintah AS lantaran pasca pemberlakuan UU hak cipta mengenai kontent dan layanan internet. Alasan pemberlakuan UU tersebut ialah karena banyak terjadi pelanggaran terhadap hak cipta baik berupa karya seni(musik,video,lagu), karya sains, dan konten internet. Sebagian pecinta gratisan menyebutnya "Kiamat". Tapi bagi yang memuja kebebasan ilmu pengetahuan jangan surut dulu masih ada kok alternatif lainnya, diantaranya (blank : searching di internet/paman google). ini cuma sekedar informasi, bukan nyaranin suka yang gratisan alias bajakan

Minggu, 29 Januari 2012

Up Grading UKK dan Puskomda 2012

Jam telah menunjukkan pukul 8 pagi saat beberapa orang terlihat berkumpul di depan ruang T27 komplek gedung lokal mata kuliah umum UNP. Mereka adalah para pengurus UKK pada periode tahun 2012 ini. Para mahasiswa yang mengemban amanah dakwah di salah satu PKM di kampus UNP.

Tentu ada suatu hal yang menggerakkan hati para pengurus-pengurus UKK yang baru ini untuk datang ke lokasi itu. Tepatnya mereka akan melakukan sebuah kegiatan perdana bersama pada periode ini, yaitu Up Grading. Sebuah kegiatan yang ditujukan untuk mempererat rasa persaudaraan dan persatuan diantara pengurus sebelum mereka menjalankan amanah yang telah dipercayakan.

Up Grading yang dilaksananakn selama dua hari ini, yaitu tanggal 21-22 januari 2012 tidak hanya diikuti oleh teman-teman yang mengelola UKK kedepannya, disana ada juga para pengurus Puskomda. Yang mana saat ini Puskomda SUMBAR diamanahkan kepada UKK, sehingga dibentuklah kepengurusan sendiri untuk mengelola Puskomda ini.

Saat pembukaan selain pengurus hadir juga Bapak Sulaiman selaku pembimbing dan hadir juga Ibu Nurlela yang lebih akrab di sapa “Bunda” yang sebelumnya adalah pembimbing UKK. Ada juga pemateri, bapak Hafiz sebagai penyampai materi untuk sesi pertama.

Materi sesi pertama mengenai urgensi dakwah kampus, pemateri memaparkan kepada seluruh pengurus kenapa harus ada dakwah di kampus. Dan juga tentunya diharapkan setelah mendapat materi ini para pengurus yang baru memahami alasan kenapa mereka harus melaksanakan dakwah lewat program-program yang akan segera mereka laksanakan sebagai pengurus UKK.

Sekitar jam sepuluh pagi materi pertama selesai, berikutnya para peserta Up Grading akan menuju kelokasi selanjutnya. Ke BLPT Lubuk Lintah yang berlokasi dekat dengan kampus IAIN IB. berangkat dengan dua bus kota, tiba disana sekitar jam sebelas, beberapa saat kemudian panitia mensosialisasikan rentetan kegiatan selama Up Grading kepada seluruh peserta yang hadir.

Setelah sholat zuhur dan makan siang peserta disuguhi materi tentang UKK, dalam hal ini langsung disampaikan oleh ketua DPO UKK, Nofi Nurman. Beliau menjelaskan secara rinci apa itu UKK kepada para peserta up grading kemudian disambung dengan materi tentang Puskomda setelah Ashar yang disampaikan oleh Bejo Kaswadi yang mewakili ketua Puskomda yang tidak bisa hadir pada saat itu.

Malamnya para peserta menginap di BLPT, disana telah tersedia penginapan untuk putra dan putri. Pada malam harinya aktivitas dilaksanakan di penginapan masing masing yang dibimbing oleh panitia dan instruktur. Seperti yang dilakukan oleh peserta putra melakukan ta’arufan atau berkenalan lebih dalam lagi antara sesama pengurus, kemudian diakhiri dengan bakar jagung yang menambah keceriaan dan keakraban.

Esok paginya setelah selesai sarapan peserta melakukan kegiatan diluar ruangan, melakukan kegiatan out bond. Untuk kegiatan ini berbeda dengan hari sebelumnya dimana kegiatan untuk peserta putra dan putri terpisah. Pada kegiatan ini peserta dapat mengambil pelajaran dari setiap kegiatan out bond yang dilakukan. Kegiatan outbond ini mencerminkan bagaimana kerja-kerja yang akan nantinya mereka lakukan selama ada di kepengurusan UKK dan Puskomda.

Mejelang zuhur, kegiatan out bond ini diakhiri, dan menandakan Kegiatan Up Grading untuk pengurus UKK dan Puskomda tahun ini juga berakhir. Namun demikian, mereka baru saja memulai langkah awal mereka untuk berjalan selama satu tahun kedepan yang tentunya telah menunggu berbagai tantangan yang siap menghadang langkah. “Kalau nanti di perjalanan ini kita merasa lelah dalam menjalankan amanah dakwah ini, ingatlah masa-masa kita bakar jagung bersama saat up grading ini” celetuk salah seorang DPO mengakhiri kegiatan ini.

Selasa, 03 Januari 2012

Amplop

Aku bongkar lemari lama, mencari sesuatu yang mungkin bisa mengingatkanku ke masa lalu. Sebuah masa yang bisa aku jadikan pelajaran, melihat jejak kehidupan yang telah aku buat. Bersama orang-orang disekitarku, ada orang tua, saudara dan teman-teman. Mereka semua telah bersama-sama denganku menciptakan sejarah, sejarah untuk diriku. Yang kadang kala membuatku tersenyum mengenangnya, membuatku malu dan begitu banyak rasa lain yang tak bisa diungkapkan.

Aku temukan sebuah map transparan berwarna kuning, kulihat di sana ada rapor SD ku, SMP dan SMA. Tapi ada satu yang yang lebih menggoda mata dan tanganku untuk meraihnya. Sebuah amplop berwarna putih yang masih tertutup rapi, aku ingat dulu amplop itu tidak ditutup ketika aku menerimanya sehinga dengan mudah bisa kubuka lalu mengambil selembar kertas yang ada di dalamnya, lebih tepatnya sebuah surat.

Beberapa tahun lalu aku menerimanya, disana tertulis (aku hanya mengira, aku lupa apa tulisan tepatnya) LULUS. Sebuah kata singkat yang membuatku lega, karena tulisan itu sangat begitu berarti bahkan sampai membuat beberapa temanku menangis karena mereka mendapatkan tulisan lain disurat yang mereka terima. Sedang aku, kusimpan surat itu baik-baik, ku masukkan kembali ke dalam amplopnya, ku buka penutup perekat amplopnya lalu ku katupkan penutup amplop itu hingga merekat serekat-rekatnya.

Belum pernah kubuka sejak saat itu hingga sekarang, amplop yang kuterima ketika di penghujung masa SMP ku. Tersimpan banyak kenangan di sana, yang sebagian kadang ingin waktu membawaku ke sana lagi. Hanya ku pandangi, belum akan kubuka hingga saatnya tiba. Saat yang aku sendiri tidak tahu itu kapan. Biarlah ia terus menjadi saksi bisu dari bagian kecil sejarah hidupku. Sejarah yang bersambung hingga kini.

Senin, 21 November 2011

Kultwit Asmanadia Tentang Bagaimana Menulis Cerita

KoPas >> http://forumlingkarpena.net
  1. Cari cara untuk selalu mencatat setiap ide menarik
  2. Temukan bentuk tulisan. Apakah akan dibuat dari A-Z alurnya linear biasa. Atau dimulai dari klimaks, bahkan akhir cerita
  3. Buat outline sederhana bagaimana tulisan akan bergerak. Bukan keharusan tapi akan sangat membantu bagi pemula
  4. Buat opening yang memikat. Hindari lead cerita yang biasa-biasa aja. Be creative!
  5. Beri nyawa pada tokoh-tokohmu.
  6. Garap setting (waktu/tempat) untuk memperkuat cerita. Beri warna lokal sesuai kebutuhan
  7. Kenapa sebuah cerita hambar atau terasa monoton, karena tidak ada konflik/konflik tidak tergarap! Perhatikan konflikmu
  8. Olah setiap unsur cerita dengan sabar. Beri perhatian pada detail yang harus dimunculkan agar logika cerita mantap
  9. Hindari kebetulan dalam cerita, kecuali bisa dipertanggungjawabkan. Khususnya untuk penyelesaian cerita.
  10. Saring dialog, buang yang tidak berfungsi.
  11. Temukan formula ending yang pas, tanpa harus berpanjang-panjang kalimat.
  12. Tentang ending lagi, akhir cerita yang baik meninggalkan gema lebih lama di hati pembaca. Jangan sia-siakan ending
  13. Batasi ego-mu sebagai penulis. Tokoh-tokoh muncul sesuai karakter dalam ceritamu, tokoh-tokoh itu bukan dirimu.
  14. Mematikan tokoh untuk memberi kejutan dalam cerita... cari cara lain yang tidak klise:
  15. Biasakan memulai dengan basmalah sebelum menulis, lalu mulailah menulis dengan hatimu
  16. Belajar setia & bertanggung jawab bukan hny dlm upaya sakinah bersamamu /berkeluarga, jg dlm menyelesaikan ceritamu
  17. Menulis untuk diselesaikan. Never ever give up on your stories. Give them chance!
  18. Kegigihanmu dlm menyelesaikan cerita yg sudah kamu mulai mencerminkan kegigihanmu dlm menghadapi persoalan kehidupan
  19. Beri judul yang menarik untuk ceritamu
  20. Menulis itu cara lain berbagi. Hilangkan ketakutan/tidak pede dan excuse lain dalam mengirim cerita ke media